Sabtu, 23 April 2011

Waktu Berhenti di Fort Amsterdam

Oleh: Wildvagabond

Maluku - Sudah banyak orang tahu bahwa wilayah Indonesia Timur menjanjikan keindahan alam yang lebih mempesona dibanding destinasi wisata lain yang sudah umum diketahui dan sudah menjelma menjadi daerah yang too touristic. Namun semua setuju bahwa untuk mencapai Indonesia Timur dihadapi kendala dukungan fasilitas transportasi yang terbatas. Saat kita mencapai daerah yang kita tujupun, masalah transportasi kembali menghadang. Tetapi, kanapa harus khawatir? Bukankah dengan membiarkan diri kita tersesat di dunia yang benar-benar baru, kita justru akan menemukan intan-intan yang belum terasah selama perjalanan kita?
Oke lah, untuk mereka yang memilih berpetualang dengan fasilitas yang aman dan terjamin, kini tersedia rute penerbangan alternatif dengan menggunakan pesawat Garuda. Armada Garuda yang terbang setiap hari ke Ambon akan transit selama setengah jam di Makassar. Pesawat yang digunakanpun tergolong baru, yaitu Boeing 737-800. Rute penerbangan ke kedua kota ini dihidupkan kembali karena Makassar dan Ambon boleh dikatakan sebagai titik awal untuk mengeksplorasi keindahan wilayah Indonesia Timur yang memikat.
Dari Makassar, seseorang bisa memilih apakah akan menjelajah dataran Sulawesi sampai jauh ke Kepulauan Sangihe Talaud, atau berlayar bersama para pelaut handal Bugis menjelajahi kepulauan Nusa Tenggara dan terpana menyaksikan salah satu keajaiban dunia di Pulau Komodo. Tetapi, melanjutkan perjalanan selama satu setengah jam ke Ambon juga bukan hal yang mustahil, karena pulau ini merupakan titik awal dari keragaman yang menanti untuk dinikmati.


Kedamaian Pulau Awan
Saat saya menjelajahi Ambon akhir minggu lalu, bayangan reruntuhan puing dan posko-posko pemeriksaan seperti yang ditunjukan televisi nasional benar-benar tidak saya jumpai. Justru jalanan beraspal mulus (lebih mulus dari jalanan di Jakarta), dan geliat ekonomi masyarakat ambon yang serba cepat membuat saya kagum, betapa surga yang pernah diberitakan terkoyak kerusuhan ternyata sedikit demi sedikit sudah bangkit.
Ada banyak kegiatan yang saya ikuti selama saya di Ambon, mulai dari snorkelling, menjelajah hutan, menonton pertunjukkan sampai mengagumi peninggalan bersejarah. Satu hal yang tidak pernah saya lupakan dari seluruh kegiatan yang saya ikuti, bahwa masyarakat Ambon sebenarnya adalah masyarakat yang cinta damai dan menerima perbedaan dengan senyum yang lebar.


Rahasia Keabadaian Fort Amsterdam
Fort Amsterdam adalah salah satu tempat yang saya kunjungi selam di Ambon. Berlokasi di desa Hila, bangunan ini sebenarnya benteng kedua yang dibangun Belanda di abad ke 17 dan berfungsi untuk menangkis serangan kapal-kapal pesaing dagang Belanda yang berniat merebut Kota Ambon sebagai basis perdagangan mereka. Sejak benteng pertama, Kastel van Nerre, hancur, praktis Fort Amsterdam adalah bangunan tertua peninggalan belanda di Pulau Ambon.

Bangunan yang nyaris berbentuk segi empat ini memiliki tebal dinding antara satu sampai satu setengah meter. Bagian luar bangunan terbuat dari batu dan bagian dalamnya saat ini terbagi dua, yaitu laintai dasar dan lantai dua yang beralaskan kayu besi. Baik struktur bangunan maupun kayu-kayu yang digunakan boleh dikatakan masih kuat menopang siapapun yang ingin tahu bagian sudut-sudut Fort Amsterdam, kecuali bagian balkon. Saat saya mengunjungi Fort Amsterdam pagar pengaman balkon sudah rubuh tergerus udara laut.
Padahal dari bagian balkon inilah pemandangan Teluk Ambon dan Tanjung Leihitu terhampar di depan mata. Laut yang jernih dan tenang serta perbukitan di seberang sana melempar imajinasi saya ke 350 tahun yang lalu saat Bangsa Belanda berhasil menaklukan seluruh kepulauan dari tangan Portugis. Lada, pala, dan rempah lain yang berharga lebih tinggi dari emaslah yang sebenarnya membuat Ambon satu-satunya wilayah di Indonesia yang merasakan penjajahan bangsa asing selama tiga setengah Abad.


Desa Damai
Desa Hila merupakan cerminan Ambon dan saya sungguh merekomendaskan desa serta benteng ini sebagai titik awal eksplorasi keindahan Ambon. Di desa Hila ini terletak dua situs bangunan religi terua yaitu Gereja Hila dan Masjid Wapauwe.

Gereja Hila merupakan bangunan terbuat dari kayu yang didirikan pada tahun yang sama dengan Fort Amsterdam serta terletak berdekatan dengan area benteng. Bangunan ini pernah direnovasi pada tahun 1880an setelah hancur terkena gempa dan berdiri kembali hingga saat ini.


Mesjid Mapauwe adalah mesjid tertua di Ambon dengan struktur bangunan campuran kayu dan batu. Di mesjid ini terdapat peninggalan para penyebar Agama Islam di Ambon dan artefak Al-Quran yang ditulis tangan.
Selama kerusuhan terjadi penduduk Desa Hila yang beragama Kristen diselamatkan oleh penduduk muslim yang mengelilingi mereka. Saat ini penduduk berbeda agama tersebut kembali hidup berdampingan dengan damai, seperti yang dilakukan oleh nenek moyang mereka sejak ratusan tahun lampau.
Banyak sekali wilayah di Pulau Ambon yang belum digali dan diketahui dunia luar. Dengan akses penerbangan yang lebih mudah serta fasilitas akomodasi yang mendukung, potensi wisata di kepulauan ini merupakan asset yang menjanjikan, terlebih dari Ambon siapapun bisa melanjutkan petualangan mereka lebih jauh ke timur ke destinasi yang lebih jauh, di mana petualangan hanya sebagian kecil dari pengalaman kita membaur dengan keindahan alam Indonesia.


(Wildvagabond / gst)

Sumber:  Detik Travel

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger