Tampilkan postingan dengan label 7 syawal di Morella. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 7 syawal di Morella. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Agustus 2014

Atraksi Cakalele Cilik di Kirab Budaya Morella 2012

Duration :
0:31

Description : 

Anak-anak ini turut memeriahkan acara adat pukul sapu lidi negeri Hausihu Morella dengan mementaskan tari cakalele pada saat kirab budaya Morella yang dilaksanakan pada hari Minggu, 29 Agustus 2012 di desa Morella, Kecamatan Laeihitu, Kabupaten Maluku Tengah.

Link to this video :
http://youtu.be/SP1bF67wshw?list=UURLYfNatCTO2-STtVbTKYSg

Tari Katreji Soya pentas di acara Pukul Sapu Lidi Morella 2012


Duration :

0:25


Description : 


Tari ini dimainkan oleh 10 pemuda pemudi dari Negeri Soya menjelang akan
dilaksanakan upacara adat Atraksi Pukul Sapu Lidi di Negeri Morella,
(M.Nasrul Latulanit, Minggu, 26 Agustus 2012)


Link to this video :

http://youtu.be/FurjTMD1z6Y?list=UURLYfNatCTO2-STtVbTKYSg



Kamis, 14 Agustus 2014

LAWAMENA HAULALA DI PENTAS TEATRIKAL KAPAHAHA

Oleh : Rusda Leikawa, S.Si
(opini Ambon Ekspres, 11 Agustus 2014)

“Dengarlah wahai sekalian rakyat dan pejuang yang saya hormati...!
Tidak ada lagi pilihan untuk kita selain:
KAPAHAHA HAUSIHU HOLI SIWA LIMA, LISA’E MAKANA LAWA MENA HAULALA”.
“Usir penjajah-penjajah itu dari bumi kita ini sampai titik darah penghabisan, jangan biarkan mereka menindas kita sampai ke anak cucu kita,
KAPAHAHA HAUSIHU HOLI SIWA LIMA”.

Demikian teriak salah seorang pemain Teatrikal Perang Kapahaha di arena Pukul Sapu Lidi Negeri Morella. sebuah pekik patriotisme terlontar dari sang panglima perang Kapahaha merangsang semangat juang untuk menentang penjajah Belanda, dengan penuh semangat untuk kobarkan api perjuangan Kapahaha di seluruh patasiwa patalima.
Senin itu, bertepatan dengan perayaan pukul sapu 7 syawal negeri Morella, sebuah pentas teatrikal yang menarik perhatian penonton baik dari Morella sendiri maupun dari luar Morella. Teriakan yang menggelegar ditengah arena itu berasal dari teriakan pemeran Kapitan Telukabessy. “Lisa e Makana Lawamena Haulala, “ yang dalam arti kapata, Lisa= perang, Makana = bertahan, atau dalam pengertian umum artinya “Kita harus berjuang dan mempertahankan daerah ini”. Sementara Lawa= maju, Mena = depan, Haulala= semangat berapi-api, sehingga Lawa Mena Haulala dapat diartikan “Maju terus dengan semangat berapi-api.”
Pentas ini sudah enam tahun berturut-turut dibawakan pada arena yang sama. Masyarakat Morella umumnya sudah tahu alur cerita. Tapi ketika adegan demi adegan diperankan, masyarakat tetap antusias untuk menonton. Bagai terhipnotis dengan pementasan yang terus berulang, hal ini dapat kita lihat para penonton beberapa kali mengusap air mata.
”Kapahaha Hausihu Holi Siwa Lima, Lisa’e Makana Lawa Mena Haulala”. Terdengar kembali. Iya. ia mengerang. Tidak terima kehadiran Belanda yang sudah berlaku semena-mena. Ia kobarkan semangat juang melalui pekik itu. Korban jiwa tidak terelakan lagi namun semangat juang semakin bertambah. Pekikan-pekikan patriotis dan seruan perang oleh Kapitan Telukabessy terus mengalun memecah di angkasa Jazirah Leihitu. Para pejuang dari Wawane juga turut bergabung bersama Telukabessy. Dari Wawane yang berkumpul, diantaranya adalah; Kapitan Pattiwane, Karaeng Jipang, Daeng Manggapa, Kartulessy, Kapitan Tomol, Imam Rijali dll.

TEATRIKAL

Teatrikal sebagai pembawa pesan perjuangan adalah pilihan cerdas. Inspirasi ini bukan hal baru bagi pentas perjuangan Kapahaha. Minimal teatrikal semacam ini sudah pernah dipentaskan oleh M. Nour Tawainella dengan Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) tahun 1965. Tujuan Tawainella ada dua. Pertama, menemukan semboyan untuk digunakan Kodam (karena ada sayembara Kodam XV tahun 1965 untuk mengisi pataka Kodam Pattimura).
Tawainella bersama HSBI melakukan penelitian di Morella dan mengajukan pekik LAWA MENA HAULALA. Tujuan kedua, untuk mengisi kas pembangunan masjid Morella yang saat itu rencana direhab.
Pentas pertama Tawainella cs di halaman masjid Al-Muttaqin. Kemudian teatrikal ini menghilang, sampai tahun 2008 ketika pelajar dan mahasiswa Morella yang tergabung dalam Forum Kajian Sejarah dan Budaya (FKSB) Negeri Hausihu Morella membuat kembali teatrikal Telukabessy dengan menggunakan potensi internal. Benar-benar menggunakan pelajar dan mahasiswa dari Morella.

TERIAKAN MAKIN LANTANG ?

Apa yg menarik dari teriakan Lawamena Haulala ? Masyarakat Morella memahami bahwa Lawamena Haulala adalah pekik Telukabessy. Dan setelah digunakan oleh Kodam Pattimura pada pataka, nyaris tidak ada sebutan Telukabessy, ini terbukti ketika perayaan HUT Kodam XVI Pattimura, nama Telukabessy nyaris tidak lagi disebut. Lawamena Haulala sendiri sudah berubah arti dari “ Maju Terus dengan semangat berapi-api” ke “maju terus pantang mundur”. Bahkan pergeseran itu terjadi di buku Lintasan Sejarah Kodam, bahwa “Lawamena” yang berarti Maju Terus berasal dari Pattimura dan “Haulala” yang berarti Semangat Berapi-api dari Telukabessy. Pengertian “Haulala” tersebut terjadi perubahan menjadi Pantang Mundur.
Sah-sah saja bahwa ada perubahan arti karena disesuaikan dengan semboyan umum bahasa Indoensia. Namun bahwa itu digali dari Kapitan Telukabessy, nyaris tak ada sentuhan sedikitpun, hal ini merupakan proses lupa akan sejarah.
Pada Teatrikal tersebut teriakan itu diucap berulang. Seakan berteriak, “lawamena” harus terus maju, “haulala” itu darah kami. Darah pejuang Kapahaha yang hari ini tidak diingat.
Saya terlibat pada awal penyusunan naskah teatrikal ini bersama Ileng, Affan, Habsa dan beberapa kawan-kawan lainnya merasa bahwa semangat masyarakat Morella makin menyala-nyala dan antusias untuk memperkenalkan sejarah dan budaya secara terbuka pada dunia luar.
Hemat kami untuk memperkenal sejarah tersebut, salah satunya harus dengan mengangkat Lawa Mena Haulala melalui teatrikal. Tanpa membanding lantangnya suara kelompok atau antar generasi, maka nampaknya lantang Lawamena karena ada pengaruh teknologi dan media. Ini kita sukuri, termasuk sumber daya manusia yang makin membaik..
Bagi kelompok terpelajar baru yang tergabung dalam FKSB Negeri Morella ini, menemukan esensi pukul sapu adalah sangat penting. Dan mereka menemukan icon yang kuat. Icon itu “Kapahaha”. Persoalan yang kemudian harus dikembangkan adalah bagaimana icon itu dijabarkan lanjut. Karena disana akan ditemukan Lawamena. Disana akan ditemukan nama besar Telukabessy, disana ada nama besar Kapitan Pattiwane, Imam Rijali, bahkan para Karaeng dari Makassar. Teriakan itu tidak boleh sumbang. Biarkan ia nyaring memekakkan telinga anak negeri Maluku. Mengisi hati anak negeri. Lawamena adalah pekik Telukabessy, dan sudah sudah menjadi milik pejuang Kapahaha. Iya, pejuang Kapahaha yang bukan saja
dari negeri Kapahaha, Iyal uli, Niggareta dan Putilessy (negeri lama), tapi sudah menjadi semboyan seluruh pejuang Kapahaha dari seantero nusantara.
Sebagai anak Negeri, kami merasa bertanggunjawab untuk menyuarakan kembali Lawamena Haulala, meskipun hanya melalui sebuah pentas teatrikal, setidaknya kami tidak meninggalkan identitas, seperti kata pepatah bahwa Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengahargai jasa para pahlawan. Bangsa yang mengingat sejarah. Olehnya itu melalui kegiatan seni inilah Forum angkat kembali pekikan itu. Namun demikian, tetap membuka diri pada semua pihak untuk berbagi informasi, sehingga konsep Lawamena Haulala dapat menjadi konsumsi bersama secara merata.
Membaca Lawamena dalam konteks kekinian, maka Lawamena adalah cambuk untuk semua anak cucu pejuang Kapahaha bersatu membangun silaturrahim, mengusir ketertinggalan. mengusir keterbelakangan dan menolak ketridakadilan. Lala yang juga berarti darah adalah simbol dari kegigihan membangun negeri. Kegigihan anak cucu untuk membangun persaudaraan.
Terakhir, kita juga butuh kajian mendalam untuk pemahaman bersama tentang Lawamena Haulala. Sayangnya, belum ada satupun karya akademik bergenre sejarah yang menukik ke masalah ini. kita masih berkutat pada Lawamena yang diterikakan tiap 7 Syawal di halaman masjid Al-Muttaqin Morella.

Waeheru, 9 Agustus 2014

Kamis, 07 Agustus 2014

MEMBACA PUKUL SAPU NAGRI MORELLA



Foto Atraksi Pukul Sapu Lidi Negeri Morella 2014 (Rus)
Pukul sapu (PS) adalah budaya turun temurun yang dilakukan masyarakat di dua nagri bertetangga, Mamala dan Morella setiap tahun pada hari kedelapan Syawal. Dalam tulisan ini saya hanya akan menulis tentang pukul sapu di nagri Morella, karena beberapa hal yang menurut saya penting untuk dikaji lebih jauh lagi. Tulisan ini baru sekedar menggelitik rasa ingin tahu makanya tidak untuk menjawab tuntas. Ada beberapa pertanyaan yang saya kemukakan adalah bagian dari tugas kita bersama termasuk akademisi untuk menggali lebih jauh budaya PS.

Jumat, 09 September 2011

Kemas Pukul Sapu Dengan Icon

Atraksi Pukul Sapu Lidi Negeri Hausihu Morella (foto: FKSB 2011)
Salah satu even parawisata berlatar belakang adat yang kuat bertahan di Maluku adalah perayaan pukul sapu atau pukul manyapu (PS). PS hanya terjadi di dua negeri bertetangga Morella dan Mamala.  Dari dua negeri adat ini pula, kita bisa menelusuri makna tersimpan di balik perayaan.
Sepintas, ritualnya sama. Sama dilakukan pada hari ke 8 Syawal tiap tahun. Sama dilakukan di halaman masjid. Sama dalam waktu pelaksaan, sesudah shalat ashar, sebelum magrib. Dan sama-sama diakui sebagai warisan budaya tetua negeri ratusan tahun lalu.
Kiranya pemikiran ini juga mendasari tawaran beberapa kalangan untuk menyatukan PS dua negeri, kemudian dibuat sebagai perayaan bersama yang didukung penuh oleh Pemda (Maluku Tengah dan Maluku). Namun setiap ide untuk mempersatukan, hampir pasti mendapat sanggahan dari kedua negeri, Morella dan Mamala.  Alasan yang dikemukakan, “ perbedaan latar belakang yang membedakan kami”. 

KAPAHAHA 
Morella, mengangkat latar belakang sejarah perang Kapahaha.  Perang yang berlangsung dari tahun 1637 hingga 1646.  Kapahaha adalah bukit batu terjal yang terdapat di hutan Negeri Morella. Kapahaha adalah benteng terakhir yang jatuh ke pihak Belanda di Pulau Ambon.  Perang Kapahaha berakhir ketika benteng Kapahaha dikuasai Belanda.
Pejuang yang sempat tertangkap dalam penyerbuan itu disiksa sebagai tawanan di Teluk Sawatelu selama tiga bulan. Kapitan Telukabessy sendiri berhasil lolos. Namun ia kemudian menyerahkan diri dan digantung dan dibuang di pantai Namalatu. Sepeninggal Telukabessy, tawanan Kapahaha dibebaskan Belanda pada tanggal 27 Nopember 1664 yang bertepatan dengan bulan Ramadhan. Beberapa tokoh ditahan di Makassar dan Batavia. Sisanya, pulang ke daerah asal. (Maryam Lestaluhu, 1988)
Menurut Kapata Morella, pada perpisahan inilah, kemudian terjadi pukul sapu secara spontan sebagai ungkapan rasa sedih atas perjuangan yang telah berakhir. Perih di badan karena lecutan sapu menjadi perlambang kerasnya perjuangan yang disertai dengan pengorbanan jiwa raga. Kerasnya genggaman serta kuatnya pukulan jadi perlambang tekad kuat untuk tetap menolak semua bentuk penjajahan dan kerjasama dengan Belanda. Usai melakukan pukul sapu, mereka kemudian saling berpelukan, sambil berikrar untuk tetap saling mengingat dan akan bertemu kembali tiap tanggal 7 Syawal. Sejarah Kapahaha inilah yang menjadi latar belakang PS negeri Morella. Sejarah perang Kapahaha ini terus dibaca ulang tiap perayaan dan merupakan pertanda acara puncak PS siap digelar.

NYUALING MATEHU
Lain lagi dengan Mamala, minyak Mamala atau nyualing matehu dijadikan icon. Ketika diketahui bahwa salah satu tiang masjid retak/patah, imam Tuny (Tokoh Agama) bermunajat pada Sang Khalik agar masalah ini terselesaikan. Sesudah mendapat petunjuk melalui mimpi, Imam Tuny kemudian mengoles minyak pada tiang yang retak/patah, kemudian membungkus dengan kain putih. Keesokan hari, retak/patah tersebut sudah tersambung kembali. Dalam mimpinya juga, Imam Tuny mendapat petunjuk bahwa minyak itu dapat digunakan untuk penyembuhan keseleo, patah tulang dll. Khasiat minyak ini (nyualing matehu) kemudian diujicobakan ke tubuh manusia dengan terlebih dahulu dipukul dengan sapu hingga berdarah. Ternyata bekas luka sabetan sapu sembuh hanya dengan olesan nyualing matehu. Keberhasilan ini lalu dirayakan dengan memilih waktu yang tepat, yakni 7 Syawal. (Panduan Pelantikan; 2005)
Proses penyambungan retak/patah tiang dan penyembuhan luka bekas sabetan sapu lidi kemudian menjadikan nyualing matehu sebagai icon dalam perayaan 7 Syawal. Hal ini kita baca pada baliho-baliho milik negeri Mamala yang bertebaran di Kota Ambon, yang mengedepankan perlu pelestarian nyualing matehu sebagai warisan budaya. 

ICON
Icon atau symbol adalah hal penting dalam mengemas satu iven. Masih segar memori kita ketika pemerintah mengkampanyekan Bali sebagai paradise island. Atau Jogja menjadikan Malioboro sebagai salah satu icon parawisata. Di Maluku, kita juga menjual Banda sebagai icon wisata bahari melalui Sail Banda dll.
Lalu dalam mengemas PS, Morella dan Mamala juga butuh icon yang “kuat” dan terus menerus diangkat sehingga masyarakat mengenal pukul sapu dengan icon tersebut.  Mamala sudah tegas menjual icon nyualing matehu, minyak mamala. Tidak afdhal rasanya seorang pengunjung  pulang tanpa membawa minyak tersebut. Bahkan seorang peneliti Inggris Dr. Herbal Thomas, tahun 2008 perlu berjibaku dengan anak Mamala di arena PS  untuk buktikan khasiatnya (Ameks, 2008).
Teman saya seorang perwira yang pernah pertugas di Kodam Pattimura hanya meminta oleh-oleh nyualing matehu bila saya ke Jakarta. Dia justru kaget ketika saya cerita tentang nama Taman Makam Pahlawan Kapahaha yang diambil dari nama bukit benteng Kapahaha di Morella.  Dia makin serius merespon ketika pembicaraan menyinggung Saloka Kodam Pattimura,  Lawa Mena Haulala. Karena Lawa Mena Haulala adalah semboyan perjuangan Kapitan Telukabessy dari Kapahaha yang untuk pertama kali digunakan tahun 1965, namun jarang kita dapati anggota TNI memahami asal semboyan tersebut.
Bagi Negeri Morella mengemas icon Kapahaha untuk iven PS adalah penting. Karena di samping melaksanakan iven adat secara turun temurun,  PS juga memberikan pesan moral kuat tentang pentingnya sikap tegas dalam perjuangan.  Pentingnya membangun  silaturrahmi dengan anak cucu para pejuang Kapahaha yang berasal dari Wawane, Ternate, Seram, Tuban, Makassar dll.
Mengemas iven dengan icon yang kuat, bukanlah hal mudah. Butuh proses panjang dan terus menerus.  Laksana seorang pelari maraton, ia harus memiliki tenaga dan napas panjang serta konsisten menjaga. Begitupun di kedua Negeri, Morella dan Mamala. Mengemas icon Kapahaha dan nyualing matehu butuh semangat dan napas “pelari marathon”.


Fuad Mahfud Azuz
Durian Patah, 4 September 2011

Di Balik Pukul Sapu Lidi Morella


Atraksi Pukul Sapu Lidi Negeri Hausihu Morella (foto: FKSB 2011)
“Apa alasan masyarakat Morella mempertahankan Pukul Sapu Lidi ? Pertanyaan itu kemarin kembali diajukan seorang wartawan yang saya dampingi mengambil sejumlah bahan untuk dipublikasi di Morella. Pertanyaan yang sama tiap tahun diajukan pejabat, wartawan bahkan pengunjung yang sudah berulang-ulang mengikuti prosesi atraksi pukul sapu Morella. Salah seorang penanya adalah Andi Kumala Idjo Karaeng Lembang Parang, putra Raja Gowa terakhir.  Ia diundang dalam kapasitas sebagai perwakilan turunan kapitan dan malesi yang berjuang bersama pada perang Kapahaha tahun 1637 hingga 1646.

MEMAKNAI
Menarik membaca tulisan Faidah. Ia mencoba mendekati PS dari perspektif postcolonialsme. Bahwa pada masyarakat yang pernah dijajah, yang merasa tertindas dan  kemudian memarginalkan diri, ada “teriakan” dan gejolak jiwa yang tak terdengar. Gejoka ini baru bisa terdengar, terbaca, bila dilakukan pemihakan. (Faidah; Ameks, 8 Oktober 2008)
Pembacaan saya terhadap gejolak itu kira-kira terbaca dari cara mereka mensikapi pukul sapu. Pertama, cukup menyelesaikan ritual sebagaimana biasa. Seperti tahun-tahun sebelumnya. Di sini, nampak ada penolakan terhadap unsure baru. Kedua, kesadaran untuk membuka diri, umumnya dimulai dengan mengangkat cerita heroic Perang Kapahaha dan Kepahlawanan Kapitan Telukabessy. Ketiga, ada arus tengah, menyatukan sikap pertama dan kedua secara bersamaan.

ISOLASI
Salah satu sikap masyarakat Morella menolak unsure luar adalah cerita para tetua tentang pemilihan lokasi negeri. Saat kalah perang, semua penduduk di negeri tua (Kapahaha, Iyal Uli, Putilessy dan Ninggareta, lokasi di pebukitan negeri Morella) diharuskan untuk membangun kampong di pesisir pantai oleh Belanda. Awalnya, mereka menetap di Sawatelu yang dibuktikan dengan dua kubur Raja di Sawatelu.
Namun, kehidupan di Sawatelu tidak memberi rasa aman, karena masih memungkinkan Belanda mengontrol, kapal Belanda masih bisa berlabuh depan negeri. Maka dipilih lokasi baru, yang tidak memungkinkan Belanda melabuhkan kapal. Lokasi itu, Morella sekarang.
Di masyarakat ada pemeo, Belanda itu kafir. Label kafir dalam masyarakat tradisional muslim adalah sesuatu hal tabu. Kondisi ini masih terus terjadi walau pemerintah sudah berganti, minimal hingga tahun 70-an.  Sikap tertutup bahkan merambah hingga memilih sekolah untuk anak mereka. Pelajar dan pemuda Morella  memilih bersekolah di madrasah, pesantren atau IAIN.
Morella yang “tertutup”, masih kita rasakan tahun 70-an. Jumlah PNS dan yang mengecap pendidikan umum sangat minim.  Padahal dari segi ekonomi mereka terus berkembang. Pertanian tanaman keras dan perdagangan hasil bumi tumbuh baik. Saat bersamaan mereka justru mengirim anak ke pesantren-pesantren di Makassar dan Jawa (baca; bukan sekolah umum). Sehingga negeri lain menjuluki Morella saat itu sebagai negeri “pali-pali” (negeri tikar, karena banyak berkutat dengan tahlilan dan sejenis). 
Selepas generasi itu (tahun 70-an),  pelajar, mahasiswa Morella baru mulai merambah pendidikan umum. Jumlah yang berminat menjadi PNS dan bersekolah di sekolah/PT umum makin meningkat. Era baru masyarakat Morella sudah dimulai.
Mengapa mereka memilih menutup diri?,  Secara perlahan mulai saya pahami ketika dekat dengan panitia Pukul Sapu, suka kongko-kongko dengan tetua negeri. Kepanitian yang terkesan asal menyelesaikan acara puncak, selesai sudah, menjadi bahan pemikiran saya.  Mungkinkah sikap para leluhur yang tidak mau banyak membuka diri masih mendapat tempat hari ini, pada generasi yang lebih muda?

FORUM KAJIAN SEJARAH
Obor Kapitan Telukabessy (foto: FKSB 2011)
Sisi kedua dalam mensikapi pukul sapu dengan pandangan berbeda, ditunjukkan oleh kelompok muda. Ide-ide segar untuk mengangkat kepahlawanan Kapitan Telukabessy dan heroiknya perang Kapahaha menjadi icon. Umumnya mereka adalah pelajar, mahasiswa dan pemuda yang mulai bersentuhan dengan dunia luar, pendidikan umum atau yang tinggal di luar Morella.
Kelompok masyarakat ini mulai temukan ruh lain dari pukul sapu. Kalau sejak awal, pukul sapu diawali oleh pembakaran obor Kapitan Telukabessy, maka mereka memberikan pemaknaan lebih dari sekedar obor. Obor adalah semangat memperjuangkan kepahlawanan Kapitan Telukabessy.  Pukul sapu, tidak sekedar ritual adat tahunan, lebih dari itu sebagai pemersatu dan jalan menuju pengakuan kebesaran perang Kapahaha.   
Gejolak positif ini dimaknai dengan berbagai kegiatan terstruktur. Pembentukan Forum Kajian Sejarah dan Budaya, diskusi Kepahlawanan Kapitan Telukabessy, membangun jaringan dengan – yang mereka namakan – anak cucu para pejuang Kapahaha, seperti membangun silaturrahmi dengan kerajaan Gowa, dll, membuat teatrikal perang Kapahaha, hingga aktif membuka jaringan dengan media elektronik untuk “menjual” Morella, memberikan pesan jelas bahwa benar mereka sedang berproses.
Teriakan sumbang Morella tentang nama Kapitan Telukabessy yang disalah tulis oleh Pemda Kota Ambon pada nama jalan menjadi Tulukabessy, atau pataka Kodam XVI Pattimura “Lawa Mena Haulala” yang murni digali oleh Nurtawainela cs (tahun 1965) dari pekik perang Telukabessy, yang kini disalah artikan dan dicaplok seakan itu pekik Pattimura, sudah masuk dalam agenda besar mereka. Dan ini saya baca sebagai pemaknaan mereka terhadap obor Kapitan Telukabessy.   
Sampai di sini, nampak  bahwa dengan proses yang sedang dilakoni, hanya menunggu canal, waktu yang pas dan keberpihakan pemerintah. Manakala itu terjadi, tidak mustahil teriakan sumbang akibat isolasi diri, perasaan marginal, lambat laun akan menjadi energy positif. 
Allahu A’lam bish shawab.

Durian Patah,  7 september 2011
Fuad Mahfud Azuz

Dikirim ke Radar via email tgl 7 september 2011

Rabu, 26 Januari 2011

Foto Pukul Sapu Lidi Morella dari Tahun ke Tahun

Label :  Atraksi Pukul Sapulidi Morella tahun 2010
Date Picture Taken :  17-09-2010
Author :  Yus Kerubun


Label : Atraksi Pukul Sapu Morella tahun 2009
Date Picture Taken :  27-09-2009
Author :  Fikar Latukau


Label :  Atraksi Pukul Sapu Lidi Morella tahun 2007
Date Picture Taken : 20-10-2007
Author : Affan Leikawa 


Label :  Atraksi Pukul Sapu Lidi Morella tahun 2006
Date Picture Taken : 01-11-2006
Author : Rus Leikawa
Photo Album :  http://hausihupictures.blogspot.com 2010

Label :  Atraksi Pukul Sapu Lidi Morella tahun 2003
Date Picture Taken :    -    -2003
Author :
Photo Album :  http://hausihupictures.blogspot.com 2010


Label :  Atraksi Pukul Sapu Lidi Morella tahun 1995
Date Picture Taken :    -    -1995
Author :
Photo Album :  http://hausihupictures.blogspot.com 2010

Minggu, 16 Januari 2011

ATRAKSI BAMBU GILA (Morella 2009)


Bambu dimantra hingga bisa bergerak dan mempunyai kekuatan untuk meronta, para pemuda berusaha melumpuhkannya. Adegan ini digelar pada acara Perayaan 7 Syawal (Tradisi Pukul Sapu) di Negeri Hausihu Morella, Kec. Leihitu, Kab.Maluku Tengah

PUTRA MAHKOTA KERAJAAN GOWA hadiri pukul sapu morella 2008


Sambutan Pemangku Adat Kerajaan Gowa : Andi Kumala Ijo Daeng Sila Karaeng Lembang Parang, pada acara PUKUL SAPU Negeri Hausihu Morella Kec.Leihitu Kab.Maluku Tengah tahun 2008.

TARI GANRANG BULO pentas di acara PUKUL SAPU MORELLA 2008


Tari ini dipentaskan oleh anak-anak Sulawesi atas prakarsa KKSS Maluku yang ada di Ambon sebagai wujud kebersamaan masyarakat Gowa dan Maluku dalam melestarikan budaya yang diwariskan nenek moyang. Acara ini juga disaksikan oleh seorang Putra Mahkota Kerajaan Gowa yang hadir pada saat itu.

BUDAYA MAKAN PATITA MALUKU (teluk sawatelu morella 2009)


Makan Patita Yangmulia para Raja dan Sultan dari Kerajaan dan Keraton se Nusantara di Teluk Sawatelu Negeri Hausihu Morella, Kec. Leihitu, Kab. Maluku Tengah tahun 2009.

Prosesi Adat Pengambilan Obor Kapitan Telukabessy di Benteng Kapahaha 2008


Ritual ini dilakukan satu hari sebelum perayaan 7 syawal (atraksi pukul sapu lidi) di Negeri Hausihu Morella. Proses awal dimulai dengan pelepasan rombongan oleh Tua Adat Tuhe, Meten, Hiti & Barain di Baeleu Tomasiwa untuk menuju ke Benteng Kapahaha.

ATRAKSI PUKUL SAPU LIDI (morella 2009)


DUEL DARAH TANPA DENDAM, sebuah tradidisi adat di Maluku yang digelar setiap tahun di pelataran Masjid Al-mittaqien Morella setiap 7 hari setelah lebaran. biasanya orang ambon menyebutnya "BAKU PUKUL MANYAPU". Ritual ini sudah ada sejak masa jayanya Benteng Kapahaha........

Senin, 22 November 2010

PUKUL SAPU LIDI MORELLA


Atraksi tari Sapu Lidi telah menjadi tradisi adat di Negeri Morella sejak Tahun 1646, tari ini mulanya adalah permainan anak-anak di saat Benteng Kapahaha masih jaya.
Namun setelah jatuhnya para pejuang-pejuang Kapahaha ditangan VOC pada tanggal 25-27 Juli 1646, para malesi-malesi dengan seluruh rakyatnya ditawang di markas VOC Belanda di Teluk Sawatelu. Kapitang Telukabessy tertangkap dan diantar ke Kota Latania Ambon(Benteng Victoria) dan dihukum gantung pada tanggal 3 September 1646 di depan Benteng Victoria.
Pada tanggal 27 Oktober 1646 Gubernur Gerard Demmer membebaskan pejuang-pejuang Kapahaha yang ditawang di Teluk Sawatelu. Pembebasan tawanan perang kapahaha diadakan dengan pesta perpisahan. Maka pada acara pesta perpisahan ini dipentaskan tari-tari adat yang bernafas sejarah dengan nyanyian lagu-lagu kapata sejarah dan turut pula dengan serombongan pemuda kapahaha mempertunjukan tari Sapu Lidi.
Pada saat itu para malesi-malesi yang bertarung dalam perjuangan perang Kapahaha dari pihak Pata Siwa, Pata Lima maupun suku Bugis Makassar sangat tertarik dengan tari tersebut dengan luka-luka berdarah selalu membangkitkan semangat para pejuang.
Setelah selesainya acara pesta perpisahan, maka dengan tekad bersama dengan tiga Malesi sebagai pimpinan dari tiga sawat atau rombongan masing-masing hendak kembali pulang kedaerahnya masing-masng yaitu; jurusan Huamual,Buru dan sekitarnya,Iha Ulupalu di Saparua, Hulawano di Nusalaut, satu sawat menuju Seram Kaibonu, Tihulele, Latu, Tamilou dan Manusela. Ada juga Malesi-Malesi dari luar Maluku yang disebut suku Mahu diantaranya Bugis Makassar dll.
Perpisahan sangat berkesan dengan pekikan-pekikan dan cucuran air mata serta sumpah setia dengan satu ikrar dan menetapkan atraksi Sapu Lidi menjadi tradisi adat dan membudaya disepanjang masa, diulang tahunkan setiap 7 syawal. Pada saat itu pula digelarkanya Istilah “Hausihu” atau kobaran Api dengan kata lain “semangat berapi-api” kepada bekas pejuang Kapahaha yang tetinggal hingga saat ini dengan nama Negerinya Morella.

SUMBER :

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger