Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Agustus 2014

LAWAMENA HAULALA DI PENTAS TEATRIKAL KAPAHAHA

Oleh : Rusda Leikawa, S.Si
(opini Ambon Ekspres, 11 Agustus 2014)

“Dengarlah wahai sekalian rakyat dan pejuang yang saya hormati...!
Tidak ada lagi pilihan untuk kita selain:
KAPAHAHA HAUSIHU HOLI SIWA LIMA, LISA’E MAKANA LAWA MENA HAULALA”.
“Usir penjajah-penjajah itu dari bumi kita ini sampai titik darah penghabisan, jangan biarkan mereka menindas kita sampai ke anak cucu kita,
KAPAHAHA HAUSIHU HOLI SIWA LIMA”.

Demikian teriak salah seorang pemain Teatrikal Perang Kapahaha di arena Pukul Sapu Lidi Negeri Morella. sebuah pekik patriotisme terlontar dari sang panglima perang Kapahaha merangsang semangat juang untuk menentang penjajah Belanda, dengan penuh semangat untuk kobarkan api perjuangan Kapahaha di seluruh patasiwa patalima.
Senin itu, bertepatan dengan perayaan pukul sapu 7 syawal negeri Morella, sebuah pentas teatrikal yang menarik perhatian penonton baik dari Morella sendiri maupun dari luar Morella. Teriakan yang menggelegar ditengah arena itu berasal dari teriakan pemeran Kapitan Telukabessy. “Lisa e Makana Lawamena Haulala, “ yang dalam arti kapata, Lisa= perang, Makana = bertahan, atau dalam pengertian umum artinya “Kita harus berjuang dan mempertahankan daerah ini”. Sementara Lawa= maju, Mena = depan, Haulala= semangat berapi-api, sehingga Lawa Mena Haulala dapat diartikan “Maju terus dengan semangat berapi-api.”
Pentas ini sudah enam tahun berturut-turut dibawakan pada arena yang sama. Masyarakat Morella umumnya sudah tahu alur cerita. Tapi ketika adegan demi adegan diperankan, masyarakat tetap antusias untuk menonton. Bagai terhipnotis dengan pementasan yang terus berulang, hal ini dapat kita lihat para penonton beberapa kali mengusap air mata.
”Kapahaha Hausihu Holi Siwa Lima, Lisa’e Makana Lawa Mena Haulala”. Terdengar kembali. Iya. ia mengerang. Tidak terima kehadiran Belanda yang sudah berlaku semena-mena. Ia kobarkan semangat juang melalui pekik itu. Korban jiwa tidak terelakan lagi namun semangat juang semakin bertambah. Pekikan-pekikan patriotis dan seruan perang oleh Kapitan Telukabessy terus mengalun memecah di angkasa Jazirah Leihitu. Para pejuang dari Wawane juga turut bergabung bersama Telukabessy. Dari Wawane yang berkumpul, diantaranya adalah; Kapitan Pattiwane, Karaeng Jipang, Daeng Manggapa, Kartulessy, Kapitan Tomol, Imam Rijali dll.

TEATRIKAL

Teatrikal sebagai pembawa pesan perjuangan adalah pilihan cerdas. Inspirasi ini bukan hal baru bagi pentas perjuangan Kapahaha. Minimal teatrikal semacam ini sudah pernah dipentaskan oleh M. Nour Tawainella dengan Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) tahun 1965. Tujuan Tawainella ada dua. Pertama, menemukan semboyan untuk digunakan Kodam (karena ada sayembara Kodam XV tahun 1965 untuk mengisi pataka Kodam Pattimura).
Tawainella bersama HSBI melakukan penelitian di Morella dan mengajukan pekik LAWA MENA HAULALA. Tujuan kedua, untuk mengisi kas pembangunan masjid Morella yang saat itu rencana direhab.
Pentas pertama Tawainella cs di halaman masjid Al-Muttaqin. Kemudian teatrikal ini menghilang, sampai tahun 2008 ketika pelajar dan mahasiswa Morella yang tergabung dalam Forum Kajian Sejarah dan Budaya (FKSB) Negeri Hausihu Morella membuat kembali teatrikal Telukabessy dengan menggunakan potensi internal. Benar-benar menggunakan pelajar dan mahasiswa dari Morella.

TERIAKAN MAKIN LANTANG ?

Apa yg menarik dari teriakan Lawamena Haulala ? Masyarakat Morella memahami bahwa Lawamena Haulala adalah pekik Telukabessy. Dan setelah digunakan oleh Kodam Pattimura pada pataka, nyaris tidak ada sebutan Telukabessy, ini terbukti ketika perayaan HUT Kodam XVI Pattimura, nama Telukabessy nyaris tidak lagi disebut. Lawamena Haulala sendiri sudah berubah arti dari “ Maju Terus dengan semangat berapi-api” ke “maju terus pantang mundur”. Bahkan pergeseran itu terjadi di buku Lintasan Sejarah Kodam, bahwa “Lawamena” yang berarti Maju Terus berasal dari Pattimura dan “Haulala” yang berarti Semangat Berapi-api dari Telukabessy. Pengertian “Haulala” tersebut terjadi perubahan menjadi Pantang Mundur.
Sah-sah saja bahwa ada perubahan arti karena disesuaikan dengan semboyan umum bahasa Indoensia. Namun bahwa itu digali dari Kapitan Telukabessy, nyaris tak ada sentuhan sedikitpun, hal ini merupakan proses lupa akan sejarah.
Pada Teatrikal tersebut teriakan itu diucap berulang. Seakan berteriak, “lawamena” harus terus maju, “haulala” itu darah kami. Darah pejuang Kapahaha yang hari ini tidak diingat.
Saya terlibat pada awal penyusunan naskah teatrikal ini bersama Ileng, Affan, Habsa dan beberapa kawan-kawan lainnya merasa bahwa semangat masyarakat Morella makin menyala-nyala dan antusias untuk memperkenalkan sejarah dan budaya secara terbuka pada dunia luar.
Hemat kami untuk memperkenal sejarah tersebut, salah satunya harus dengan mengangkat Lawa Mena Haulala melalui teatrikal. Tanpa membanding lantangnya suara kelompok atau antar generasi, maka nampaknya lantang Lawamena karena ada pengaruh teknologi dan media. Ini kita sukuri, termasuk sumber daya manusia yang makin membaik..
Bagi kelompok terpelajar baru yang tergabung dalam FKSB Negeri Morella ini, menemukan esensi pukul sapu adalah sangat penting. Dan mereka menemukan icon yang kuat. Icon itu “Kapahaha”. Persoalan yang kemudian harus dikembangkan adalah bagaimana icon itu dijabarkan lanjut. Karena disana akan ditemukan Lawamena. Disana akan ditemukan nama besar Telukabessy, disana ada nama besar Kapitan Pattiwane, Imam Rijali, bahkan para Karaeng dari Makassar. Teriakan itu tidak boleh sumbang. Biarkan ia nyaring memekakkan telinga anak negeri Maluku. Mengisi hati anak negeri. Lawamena adalah pekik Telukabessy, dan sudah sudah menjadi milik pejuang Kapahaha. Iya, pejuang Kapahaha yang bukan saja
dari negeri Kapahaha, Iyal uli, Niggareta dan Putilessy (negeri lama), tapi sudah menjadi semboyan seluruh pejuang Kapahaha dari seantero nusantara.
Sebagai anak Negeri, kami merasa bertanggunjawab untuk menyuarakan kembali Lawamena Haulala, meskipun hanya melalui sebuah pentas teatrikal, setidaknya kami tidak meninggalkan identitas, seperti kata pepatah bahwa Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengahargai jasa para pahlawan. Bangsa yang mengingat sejarah. Olehnya itu melalui kegiatan seni inilah Forum angkat kembali pekikan itu. Namun demikian, tetap membuka diri pada semua pihak untuk berbagi informasi, sehingga konsep Lawamena Haulala dapat menjadi konsumsi bersama secara merata.
Membaca Lawamena dalam konteks kekinian, maka Lawamena adalah cambuk untuk semua anak cucu pejuang Kapahaha bersatu membangun silaturrahim, mengusir ketertinggalan. mengusir keterbelakangan dan menolak ketridakadilan. Lala yang juga berarti darah adalah simbol dari kegigihan membangun negeri. Kegigihan anak cucu untuk membangun persaudaraan.
Terakhir, kita juga butuh kajian mendalam untuk pemahaman bersama tentang Lawamena Haulala. Sayangnya, belum ada satupun karya akademik bergenre sejarah yang menukik ke masalah ini. kita masih berkutat pada Lawamena yang diterikakan tiap 7 Syawal di halaman masjid Al-Muttaqin Morella.

Waeheru, 9 Agustus 2014

Jumat, 09 September 2011

Achmad Leikawa – Kapitan Telukabessy

Baju perang milik Kapitan Telukabessy yang masih tersimpan
di rumah tua marga Leikawa (foto: FKSB 2006).

Nama aslinya adalah Achmad Leikawa, anak dari Syekh Barainela  marga Leikawa. Achmad leikawa dilahirkan ditengah-tengah rumah leikawa di Negeri Kapahaha. Ibunya bernama Nyai Luhu berasal dari Huamual. Pada usia 3 tahun ayahnya meninggal dunia, sehingga ia diasuh oleh kakeknya dengan memberikan ilmu agama dan ilmu kapitan.  Sejak kecil Achmad Leikawa sudah menunjukkan sikap ksatria dan pemberani. Ia selalu menggiatkan kawan-kawanya berlatih siasat perang, lomba mendaki, sepak betis, loncat gaba-gaba dan pertandingan sapu lidi.

          Kira-kira pada tahun 1614 M sebuah kapal portugis berlabuh dipantai Hitu, Achmad Leikawa mencoba ilmu yang diajar oleh orang tuanya dengan menyelam ke dasar laut sambil menyerupai seekor ikan dan membawa sebilah pahat dan hamar untuk melubangi kapal tersebut. Karena kapal bergerak, awak kapal memeriksa kapal dan hanya menemukan seekor ikan. Kapal akhirnya tenggelam, para awak mencari jalan untuk menyelematkan diri, dan nakhoda kapal itu diculik kemudian dibunuh, kepalanya dipancung dan diantarkan ke Benteng Kapahaha kemudian dipertontonkan didepan Baeleo Tomasiwalima. Pada saat itu malesi-malesi di Benteng Kapahaha sepakat mengangkat Ahmad Leikawa sebagai kapitan muda dan orang terdepan di Benteng Kapahaha. Pada tahun-tahun itu timbul perang Nusaniwe di jazirah Leitimur, Telukabessy diutus sebagai pimpinan bersama Lekalahabesy, Tuhepopu dan Tumbessi masing-masing dari marga Leikawa, Ollong, Latukau dan Wakan. Yang mengutus ini ialah empat perdana tanah Hitu, untuk membantu empat perdana Nusaniwe, yaitu Patilupa, Latuhalat, Lisakota dan Patinaila. Ketika kekuasaan Empat perdana dihapuskan dengan jatuhnya benteng Wawane melalui instruksi Gubernur VOC Gerard Demmer, maka dibenteng Kapahaha dibentuk sebuah dewan atau lembaga adat yang bernama Saliwangi dan berfungsi sebagai pengganti empat perdana.

          Dalam stuktur lembaga adat saliwangi Telukabessy menempati urutan ke sepuluh yang menangani urusan pertahananan dan Keamanan. Karena VOC memusatkan perhatian untuk menumpas pertahanan Benteng Wawane dan jazirah Huamual, maka pertahanan Benteng Kapahaha diperkuat oleh Telukabessy dan seluruh rakyatnya. Pada tanggal 27 Desember 1637 disaat Kapitan Kakiali di asingkan oleh VOC, Telukabessy mengumumkan perang terhadap Belanda.

          Pada tahun 1643, beberapa benteng perlawanan rakyat telah dikalahkan oleh Belanda termasuk benteng Wawane. Maka Telukabessy mengambil 2 kebijakan.
  1. Mengadakan suatu pertemuan yang dihadiri oleh 13 Kapitan dari selurjuh daerah yang tadinya berjuang secara terpisah dalam bentuk satuan yang diberi nama SIWA LIMA dan pertemuan itu pula  mengukuhkan Telukabessy sebagai Kapitan Besar dengan pusat perjuangan di Benteng Kapahaha.
  2. Pada pertemuan yang dimaksud juga ditetapkan suatu badan pemerintahan mencakup daerah Siwa Lima yang terangkum dalam wadah beserta simbol SOLE PALI HANU SOUHATU.

Pada saat-saat itu Belanda mendirikan markasnya di teluk Telepuan (Sawa Telu) yang dipimpin oleh Jacob Verheiden dan Frans Lindard dan Gerard Demmer sebagai Gubernur di Ambon. Kapitan Telukabessy mengumumkan perang melawan Belanda dengan semboyan kepada rakyatnya Lana mena hiti hala, lisa haulala – Maju terus pantang mundur dengan semangat berapi-api. Kapitan Telukabessy (Achmad Leikawa) membakar semangat rakyat dengan kata-kata penyemangat antara lain Kakula seli eka kula lala- Kemerdekaan hanya dapat ditebus dengan darah. Karena kita telah lewati genggaman portugis, kita sedang berhadapan dengan Belanda. Patia sou asu, patia sou pisu- terlepas dari mulut anjing, tertelan pada mulut ular, Maksudnya bebas dari belenggu portugis, terjajah dengan Belanda.

Perang Kapahaha berlangsung selama 9 tahun yaitu terjadi antara tahun 1637 – 1646. Dalam kapata disebutkan Kupa ai Kapahaha nala nale siwa yaitu sembilan tahun lamanya. Dalam catatan Rumphius yang diterjemahkan : Karena Telukabessy telah umum perang pada tanggal 27 Desember 1637 itu, maka putusan pembesar Belanda agar Kapahaha harus direbut dengan kekerasan. Saat itu gubernur Demmer memberangkatkan 3 buah kapal dan 35 buah kora-kora pada tanggal 13 april berpangkalan di teluk telepuan atau sawatelu. Dan markas mereka bertempat disitu, karena didepan Kapahaha tidak ada tempat mendarat sebab itu sepanjang pantainya tebing-tebing yang curam dan pantai pasirnya sangat sempit diantara batu-batu karang. Waktu itu Jacob Verheiden dengan 210 serdadu matrosnya diberangkatkan dari mamala untuk menyerbu dari belakang benteng Kapahaha, tapi tak ada petunjuk jalan, maka tak berhasil.

          Karena kokohnya pertahanan di Benteng Kapahaha sehingga sangat sukar diterobos oleh pasukan Belanda (VOC). Namun Belanda berhasil menangkap Yata Pori seorang wanita staf penyelidik Kapitan Telukabessy. Pori ditodong dan diberi sekarung beras yang telah dilubangi kemudian dibebaskan. Saat kembali ke Benteng Kapahaha beras  yang jatuh menjadi petunjuk jalan bagi pasukan Belanda untuk masuk ke Benteng Kapahaha.

          Pada pagi hari 25 juli 1646 Pasukan Belanda di bawah pimpinan Kapten Frans Leindard telah berhasil memasuki benteng Kapahaha. Perang berkobar dengan hebat. Dalam kapata diceritakan Letesi sarele elya Kapahaha......nala puti hee hale fajar heelia. Kapal-kapal VOC  menembakkan meriamnya ke arah benteng. Dari belakang Frans Leindard dengan pasukannya melancarkan tembakan pula.

          Saat itu Kapitan Telukabesi memberikia instruksi kepada penghuni Kapahaha yang tidak memegang senjata untuk mencari perlindungan di gua-gua. Dalam Kapata dijelaskan Nunu yambale seli eka pale mahu. Dan sebagian penduduk mengungsi ke Lataela dan yalo uli- Lumai nasi waa elya Lataela lumai nasi waa elya Yalo Uli. Pasukan Kapahaha dan pasukan bantuan makasar yang dipimpin oleh Karaeng Tulis, Karaeng Jipang dan Daeng Mangkapa terus melakukan perlawanan. Pertempuran berlangsung dua hari dari tgl 25-27 Juli. Darah para pejuang telah membasahi negerinya menambah semangat juang pasukan Kapahaha yang bertahan mati-matian, Lisa pasalita nitai rula uli rakula kapa-kapa- korbankan jiwa kita kampung halaman kita demi kemerdekaan. Elia kapahaha lia putu mahalasa- Benteng Kapahaha telah menjadi lautan api. Nahu mata waya bumi yane rasa-mereka bersedih bercucuran air mata jatuh ke Bumi. Pada pertempuran ditanggal 27 Juli  1646 istri Kapitan Telukabessy – Putijah Leikawa Van Derhagen - gugur menjadi Bunga Bangsa. Sedangkan Kapitan Telukabesy selamat dan diamankan oleh Kapitan Patinama, seorang pembantu kapitan Mahubesy. Mereka melalui gunung lataela dan beristirahat di benteng Alaka pulau Haruku. Benteng Kapahaha berhasil direbut oleh Pasukan Belanda, para malesi dan kapitan yang masih hidup beserta rakyat Kapahaha ditawan oleh pihak Belanda.

          Karena rakyat ditawan dan dijadikan sandera maka Kapitan Telukabesi menyerahkan diri sebagai tembusan bagi rakyatnya. Pada tanggal 3 September 1646 Kapitan Telukabessy dijatuhi hukuman  mati oleh Belanda. Sedangkan para kapitan dan malesi yang ditawan dibebas pada tanggal 27 oktober 1646. Sebelum menemui ajalnya ditiang gantungan Kapitan Telukabessy memberikan pesan:

Atumu tapulu himabuku peia maahunia lisa Kapahaha hinia
Kukirimkan sanjungan hormat untuk kampung halamanku serta pejuang-pejuang Kapahaha yang tercinta.
Pamasun Ina Luhu runa yana walia
Ibuku Ina Luhu dan semua keluargaku kupersembahkan keresaanmu
Nusai kakiela kapa lima kapa yai
Tetap bertalian kemerdekaan bangsa dan tanah air serta setia kepada rakyat
Meu rula molo sahi yana walia
Biar korban jiwa dan dilenyapkan bakal ada generasi mendatang.
          Kini perang Kapahaha telah berakhir tapi semangat Kapitan Telukabessi akan tetap terjaga di hati Telukabessy-telukabessy muda.





FKSB 2011

Negeri Lama “IYAL ULY” Morella

Bekas Pondasi Masjid di Iyal Uli (foto: FKSB 2006)
Iyal Uly merupakan salah satu negeri lama di Negeri Morella yang dikenal sebagai pusat keagamaan, dan letaknya  ± 2,5 km ke arah selatan Negeri Morella.

Negeri Morella terbagi dalam 3 soa,  masing-masing terdiri dari beberapa rumah tau dan dipimpin  oleh seorang  Kepala Soa. pembagian mata rumah tau untuk setiap soa berdasarkan asal negeri lama salah satunya adalah negeri lama Iyal Uly.
Soa Iyal Uly  atau biasa disebut Soa Hatalesy terdiri atas lima marga yaitu Tawainlatu, Latulanit, Wakang, Lauselang dan Pical dengan kepala soa disebut Ela Hatumena dari marga Tawainlatu.

Negeri Morella sebagai satu Negeri Adat yang terletak di daratan jazirah leihitu memiliki latar belakang sejarah dan budaya yang sangat menarik untuk dikaji, salah satunya  adalah dari sudut pandang perkembangan islam. Negeri Morella adalah salah satau daerah penyebaran islam di wilayah jazirah leihitu, hal ini terbukti dengan adanya peninggalan-peninggalan peradaban islam dahulu kala yang masih dapat ditemukan sampai saat ini.

Masuknya agama islam di Negeri Morella dimulai sejak abad ke-8 M yang dibawakan oleh penyiar islam dari timur tengah. Karena lepas dari percaturan politik yang terjadi pada zaman mu’awiyah di timur tengah, para mubaligh telah keluar membuka ekspansi dakwahnya, baik yang terpancar melalui gaungnya kerajaan Sriwijaya di Asia Tenggara maupun dinasti Tang di Negeri Cina.

Pesatnya perkembangan islam di Negeri Morella pada waktu itu, menjadikan masyarakatnya yang religius dan taat beribadah. pada saat terjadi perlawanan terhadap bangsa kolonial Belanda di Benteng Kapahaha, semangat perlawanan yang dipimpin oleh Kapitan Telukabessy (Ahmad Leikawa) pada waktu itu sangat berapi-api karena dipengaruhi oleh ajaran jihad fi sabilillah yaitu jihad di jalan Allah melawan para kaum kafir (Belanda), hal ini sebagaimana yang diceritakan  oleh Imam Rijali dalam Hikayat Tanah Hitu.

Sementara itu, karna Iyal Uly sebagai pusat keagamaan maka sampai saat ini di Negeri Morella para pengrus masjid atau dalam istilah masyarakat Negeri Morella disebut “Parenta” seperti imam, khatib, modin dsb, adalah orang-orang dari keturunan leluhur yang pernah tinggal di Negeri lama Iyal Uly yakni  salah satunya adalah marga wakang yang dijuluki dengan sebutan Pesy  yaitu orang yang menduduki jabatan tertinggi di mesjid (penguasa mesjid atau pengarah pengurus mesjd), dan Latulanit / Lauselang sebagai imam dan khatib.
Jejak perkembangan islam di Iyal Uly sebagai pusat keagamaan pada masa itu masih dapat ditemukan sampai saat ini yaitu berupa pondasi masjid tua Iyal Uly dan “halwat” yaitu tempat yang digunakan oleh para penyiar islam untuk meminta petunjuk Allah. selain itu, beberapa mushaf al-qur’an tua yang ditulis dengan tangan juga masih dapat ditemukan sampai sekarang.

Peninggalan-peninggalan  tersebut sampai saat ini memang masih dapat temukan namun kondisinya kian hari semakin memprihatinkan. Lingkungan yang kurang menudukung baik dari fakor alam maupun manusia membuat benda-benda tersebut hampir punah. Hal ini tentunya sangat disayangkan  mengingat tingginya nilai historis yang dimilikinya. Sampai saat ini memang belum ada langkah-langkah penanganan khusus dari pihak-pihak terkait utamanya pemerintah terhadap benda-benda bersejarah tersebut, meskipun demikian langkah-langkah perawatan seadanya sampai kini masih tetap dilakukan oleh masyarakat meskipun hal itu tidak terlalu maksimal mengingat keadaan masyarakat yang serba terbatas.

Harapan kita semoga saja kesadaran semua pihak untuk tetap melestarikan benda-benda bersejarah tersebut tidak pudar dimakan zaman, agar ia akan selalau bercerita kepada generasi mendatang atas perjuangan dan pengorbanan leluhur serta spirit islam yang pernah membangkitkan negeri ini. amin.


FKSB 2011

Di Balik Pukul Sapu Lidi Morella


Atraksi Pukul Sapu Lidi Negeri Hausihu Morella (foto: FKSB 2011)
“Apa alasan masyarakat Morella mempertahankan Pukul Sapu Lidi ? Pertanyaan itu kemarin kembali diajukan seorang wartawan yang saya dampingi mengambil sejumlah bahan untuk dipublikasi di Morella. Pertanyaan yang sama tiap tahun diajukan pejabat, wartawan bahkan pengunjung yang sudah berulang-ulang mengikuti prosesi atraksi pukul sapu Morella. Salah seorang penanya adalah Andi Kumala Idjo Karaeng Lembang Parang, putra Raja Gowa terakhir.  Ia diundang dalam kapasitas sebagai perwakilan turunan kapitan dan malesi yang berjuang bersama pada perang Kapahaha tahun 1637 hingga 1646.

MEMAKNAI
Menarik membaca tulisan Faidah. Ia mencoba mendekati PS dari perspektif postcolonialsme. Bahwa pada masyarakat yang pernah dijajah, yang merasa tertindas dan  kemudian memarginalkan diri, ada “teriakan” dan gejolak jiwa yang tak terdengar. Gejoka ini baru bisa terdengar, terbaca, bila dilakukan pemihakan. (Faidah; Ameks, 8 Oktober 2008)
Pembacaan saya terhadap gejolak itu kira-kira terbaca dari cara mereka mensikapi pukul sapu. Pertama, cukup menyelesaikan ritual sebagaimana biasa. Seperti tahun-tahun sebelumnya. Di sini, nampak ada penolakan terhadap unsure baru. Kedua, kesadaran untuk membuka diri, umumnya dimulai dengan mengangkat cerita heroic Perang Kapahaha dan Kepahlawanan Kapitan Telukabessy. Ketiga, ada arus tengah, menyatukan sikap pertama dan kedua secara bersamaan.

ISOLASI
Salah satu sikap masyarakat Morella menolak unsure luar adalah cerita para tetua tentang pemilihan lokasi negeri. Saat kalah perang, semua penduduk di negeri tua (Kapahaha, Iyal Uli, Putilessy dan Ninggareta, lokasi di pebukitan negeri Morella) diharuskan untuk membangun kampong di pesisir pantai oleh Belanda. Awalnya, mereka menetap di Sawatelu yang dibuktikan dengan dua kubur Raja di Sawatelu.
Namun, kehidupan di Sawatelu tidak memberi rasa aman, karena masih memungkinkan Belanda mengontrol, kapal Belanda masih bisa berlabuh depan negeri. Maka dipilih lokasi baru, yang tidak memungkinkan Belanda melabuhkan kapal. Lokasi itu, Morella sekarang.
Di masyarakat ada pemeo, Belanda itu kafir. Label kafir dalam masyarakat tradisional muslim adalah sesuatu hal tabu. Kondisi ini masih terus terjadi walau pemerintah sudah berganti, minimal hingga tahun 70-an.  Sikap tertutup bahkan merambah hingga memilih sekolah untuk anak mereka. Pelajar dan pemuda Morella  memilih bersekolah di madrasah, pesantren atau IAIN.
Morella yang “tertutup”, masih kita rasakan tahun 70-an. Jumlah PNS dan yang mengecap pendidikan umum sangat minim.  Padahal dari segi ekonomi mereka terus berkembang. Pertanian tanaman keras dan perdagangan hasil bumi tumbuh baik. Saat bersamaan mereka justru mengirim anak ke pesantren-pesantren di Makassar dan Jawa (baca; bukan sekolah umum). Sehingga negeri lain menjuluki Morella saat itu sebagai negeri “pali-pali” (negeri tikar, karena banyak berkutat dengan tahlilan dan sejenis). 
Selepas generasi itu (tahun 70-an),  pelajar, mahasiswa Morella baru mulai merambah pendidikan umum. Jumlah yang berminat menjadi PNS dan bersekolah di sekolah/PT umum makin meningkat. Era baru masyarakat Morella sudah dimulai.
Mengapa mereka memilih menutup diri?,  Secara perlahan mulai saya pahami ketika dekat dengan panitia Pukul Sapu, suka kongko-kongko dengan tetua negeri. Kepanitian yang terkesan asal menyelesaikan acara puncak, selesai sudah, menjadi bahan pemikiran saya.  Mungkinkah sikap para leluhur yang tidak mau banyak membuka diri masih mendapat tempat hari ini, pada generasi yang lebih muda?

FORUM KAJIAN SEJARAH
Obor Kapitan Telukabessy (foto: FKSB 2011)
Sisi kedua dalam mensikapi pukul sapu dengan pandangan berbeda, ditunjukkan oleh kelompok muda. Ide-ide segar untuk mengangkat kepahlawanan Kapitan Telukabessy dan heroiknya perang Kapahaha menjadi icon. Umumnya mereka adalah pelajar, mahasiswa dan pemuda yang mulai bersentuhan dengan dunia luar, pendidikan umum atau yang tinggal di luar Morella.
Kelompok masyarakat ini mulai temukan ruh lain dari pukul sapu. Kalau sejak awal, pukul sapu diawali oleh pembakaran obor Kapitan Telukabessy, maka mereka memberikan pemaknaan lebih dari sekedar obor. Obor adalah semangat memperjuangkan kepahlawanan Kapitan Telukabessy.  Pukul sapu, tidak sekedar ritual adat tahunan, lebih dari itu sebagai pemersatu dan jalan menuju pengakuan kebesaran perang Kapahaha.   
Gejolak positif ini dimaknai dengan berbagai kegiatan terstruktur. Pembentukan Forum Kajian Sejarah dan Budaya, diskusi Kepahlawanan Kapitan Telukabessy, membangun jaringan dengan – yang mereka namakan – anak cucu para pejuang Kapahaha, seperti membangun silaturrahmi dengan kerajaan Gowa, dll, membuat teatrikal perang Kapahaha, hingga aktif membuka jaringan dengan media elektronik untuk “menjual” Morella, memberikan pesan jelas bahwa benar mereka sedang berproses.
Teriakan sumbang Morella tentang nama Kapitan Telukabessy yang disalah tulis oleh Pemda Kota Ambon pada nama jalan menjadi Tulukabessy, atau pataka Kodam XVI Pattimura “Lawa Mena Haulala” yang murni digali oleh Nurtawainela cs (tahun 1965) dari pekik perang Telukabessy, yang kini disalah artikan dan dicaplok seakan itu pekik Pattimura, sudah masuk dalam agenda besar mereka. Dan ini saya baca sebagai pemaknaan mereka terhadap obor Kapitan Telukabessy.   
Sampai di sini, nampak  bahwa dengan proses yang sedang dilakoni, hanya menunggu canal, waktu yang pas dan keberpihakan pemerintah. Manakala itu terjadi, tidak mustahil teriakan sumbang akibat isolasi diri, perasaan marginal, lambat laun akan menjadi energy positif. 
Allahu A’lam bish shawab.

Durian Patah,  7 september 2011
Fuad Mahfud Azuz

Dikirim ke Radar via email tgl 7 september 2011

Sabtu, 05 Maret 2011

Apa itu Maaiiyat dan siapa Maaiiyat

Assalaamu'alaykum WarahmatULLAAHI Wabarakaatuh

BismILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM

Maaiiayaat????? Kata ini sering kita dengar di kalangan masyarakat kita khususnya Morella tercinta, sudah turun temurun sejak zaman kehidupan di kampung lama kita,, Kapahaha, Iyal Uli, NInggareta, Putilessy,,,, sampai sekarang,,, mungkin masih menjadi tanda TANYA besarrrrrr dikalangan masyarakat Morella, siapakah Maiiyyat itu?? dan Siapa Mereka??

Sebelum kita masuk ke pokok permasalahan, mari kita ulas kembali tentang kehidupan pertama nenek moyang kita di Ula Pokol, saya sendiri yang melakukan penelitian ini, saya sempat menanyakan langsung ke mahina sou tai lua, beliau masih keturunan asli dari Uka Latu Tapi, dari Sasole Salamony, beliau masih keluarga dekat dari pihak Ibu saya, kita sering mendengar selintingan kata bahwa Negeri Ula Pokol adalah Negeri yang pertama yang tumbuh dipermukaan bumi, hal ini yang masih membuat pertanyaan besar, Karena sesuai dengan Syariat Islam, dan dijelaskan dalam Al-Qur'an dan Hadits bahwa Bangunan yang pertama di muka bumi yang diciptakan ALLLAAH SWT adalah Ka'bah, Ka'bah sudah diciptakan ALLAAH SWT sebelum Nabi Adam AS di utus ke muka bumi, dan gunung yang pertama kali diciptakan oleh ALLAAH SWT adalah "Gunung Thur" atau sering dikenal dengan Bukit Thursina yang berada di Mekkah.

Mari kita simak percakapan saya dengan Mahina Soi Tailua tersebut, Beliau mulai menjabarkan ke saya asal muasal negeri Ula Pokol,,
Ummat Islam seluruh dunia pastilah tau bagaimana terjadi banjir bandang yang melanda dunia, terjadi pada zaman Nabi Nuh AS, setelah banjir bandang itu surut maka terlihat salah dati dataran yang pertama kali yang berbentuk gunung, saat itu juga salah satu penumpang dari kapal Nabi Nuh AS tersebut (laki-laki) bergegas bersama seekor ayam besar, (pada zaman dulu binatang-binatang bentuk tubuhnya besar-besar, bahkan sebelum manusia mengisi bumi sebelumya sudah ada kehidupan di muka bumi yaitu iblis, setelah itu binatang-binatang besar, dan kemudian fossil-fossil, setelah itu baru manusia, hal ini telah dijelaskan dalam Al-Qur'an dan Hadits), untuk terbang menuju dataran/pegunungan itu, seperti dijelaskan dalam Al-Qur'an bahwa semua pengikut Nabi Nuh AS yang naik ke kapal adalah orang-orang Shaleh dan orang-orang yang beriman, jelaslah bahwa mereka beragama Islam, namun agama Islam mereka adalah Islam pengikut Nabi Nuh AS atau disebut juga agama Hanif, dan sholatnya pun bukan 5 waktu seperti ummat Nabi Muhammad SAW, mereka mempunyai ritual tersendiri.
Laki-laki atau Orang Shaleh tersebut adalah Uka Latu Tapi, nama ini adalah nama bahasa Lani atau nama alias atau nama gelar saja, tentunya nama asli beliau secara nama Islam pasti ada, dan nama itu sempat saya tanyakan dan diberi tahu,namun saya belum bisa menulis nama Islam beliau di sini, mungkin lain waktu atau pwmbahasan berikutnya.
Uka Latu Tapi menikah dengan seorang putri dari riring, daerah seram dan putri itu adalan anak dari raja laut setempat, maka jelaslah sudah, Raja Laut itu yang disebut dengan bangsa Maaiiyat,
mereka menikah dan dikaruniai 7 anak laki-laki dan 1 perempuan: 1. Tulisa Menay 2. Tulisa Muling, 3. Tuharela Huwala 4. Nahuwaya Amay, 5. Latu Poisela, 6. Payong, 7. Maliyong, dan saudara perempuan mereka bernama Hatuwatini atau nama hakikatnya 'Amma Yashifuun, tentunya ke-7 putra beliau tadi ada nama hakikatnya juga atau nama Islam namun saya tidak sempat tanyakan. 'Amma Yashifuun dikala masih kecil jikalau menangis tidak mau berhenti jika tidak dihubur dengan sesuatu yang menarik, maka diciptakannlah sebuah tarian indah yang kita sering kenal di acara 7 syawal yaitu "tari reti" atau tari saliwangi, itulah asal mula tari tersebut. dari ke-7 putra dan 1 putri tsb hampir semuanya hidup di alam maaiiyat, hanya 1 putra beliau Uka Latu yang hidup di alam manusia yaitu "Tuharela Huwala" karena alamnya berbeda maka dipindahkanlah putranya ini ke negeri ke-2 yaitu 'Kapahaha" dan beranak pinak sampai keturunannya para Asel dan lain-lain, entah Tuharela Huwal ini menikah lagi dengan bangsa maaiiyat atau manusia, yang jelas beliau mempunyai keturunan manusia di kapahaha kala itu.


Berikut Firman ALLAAH SWT dalam Surat Hud ayat 38-44

Allah lantas memerintahkan Nuh untuk membuat kapal guna menyelamatkan diri dan kaumnya yang beriman dari banjir dahsyat, "Mulailah dia (Nuh) membuat kapal. Setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewatinya, mereka mengejeknya. Dia (Nuh) berkata, 'Jika kalian mengejek kami, maka kami (pun) akan mengejek kalian sebagaimana kalian mengejek (kami). Maka kelak kalian akan mengetahui siapa yang akan ditimpa adzhab yang menghinakan dan (siapa) yang akan ditimpa adzhab yang kekal. 'Hingga apabila perintah Kami datang dan tanur (dapur) telah memancarkan air, Kami berfirman, 'Muatkanlah ke dalamnya (kapal itu) dari masing-masing (hewan) sepasang (jantan dan betina), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah terkena ketetapan terdahulu dan (muatkan pula) orang yang beriman. 'Ternyata orang-orang beriman yang bersama Nuh hanya sedikit. Dan dia berkata, 'Naiklah kalian semua ke dalamnya (kapal) dengan (menyebut) nama Allah pada waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan kapal itu berlayar membawa mereka ke dalam gelombang laksana gunung-gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, ketika dia (anak itu) berada di tempat yang jauh terpencil, 'Wahai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir. 'Dia (anaknya) menjawab, 'Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan aku dari air bah! '(Nuh) berkata, 'Tidak ada yang melindungi dari siksaan Allah pada hari ini selain Allah Yang Maha Penyayang.' Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka dia (anak itu) termasuk orang yang ditenggelamkan. Dan difirmankan, 'Wahai bumi, telanlah airmu dan wahai langit (hujan) berhentilah,' Dan air pun disurutkan, dan perintah pun diselesaikan, dan kapal itu pun berlabuh di atas gunung Judi, dan dikatakan, 'Binasalah orang-orang zhalim," (QS. Hud [11]: 38-44).

Demikianlah, badai topan menimpa kaum Nuh yang ingkar, sombong, dan berbuat kerusakan di muka bumi. Allah menyelamatkan Nabi Nuh dan pengikutnya yang beriman saat kapal mereka berlabuh di atas Bukit Judi, di sebuah tempat yang dikenal dengan nama JaziraI Ibnu Umar. Saat ini, tempat tersebut merupakan bagian timur Turki (Gunung Arafat).
Penumpang kapal pun keluar dan menetap di sana untuk pertama kalinya setelah perpindahan baru ini, Prof. Mahmud Syakir mengungkapkan, "demikianlah terjadinya perpindahan tempat tinggal penduduk bumi untuk kedua kalinya dari selatan ar-Rafidin (Mesopotamia) ke berbagai daerah pegunungan di utara. Pertambahan penduduk pun terjadi untuk kedua kalinya di berbagai tempat". Dengan begitu, keturunan Nabi Nuh dari anak-anaknya yang telah ikut serta dalam kapal semakin bertambah.
Sam dan keturunannya berangkat menuju barat daya ke arah jazirah Arab dan berpencar di sana. Ham dan keturunannya berangkat menuju selatan dan menetap di bagian selatan Irak setelah bumi kering dan mulai tampak subur kembali. Sebagian yang lain mengikuti langkah tersebut dan ada pula yang berpencar menuju tenggara ke arah India.
Sementara itu, yang lainnya menuju barat daya melewati Selat Bal el-Mandeb ke arah Afrika. Dari sana mereka menuju utara dan berbagai tempat lainnya. Yafits, anak Nabi Nuh yang ketiga berangkat bersama keturunannya ke arah timur dan ada juga yang menuju ke arah barat.
dari data yang saya cantumkan diatas, beserta Firman ALLAAH SWT jelaslah sudah kalau saat badai kering semua penumpang kapal itu mau kemana saja sesuai dengan kehendaknya masing-masing. tentunya Uka Latu Tapi pun demikian.


Nah disinilah kita bisa mengetahui siapa saudara kita Maaiiyat yang sebenarnya, Maaiiyat adalah golongan bangsa Jin, dalam syariat Islam, manusia boleh menikah dengan bangsa Jin, Jin juga ada yang Islam dan lain-lain, Jin diciptakan di muka bumi untuk menyembah ALLAAH SWT sama dengan Manusia, bahkan ALLAAH SWT menjelaskan bangsa Jin dalam Al-Qur'an dengan surat yang terpisah yaitu Surat Al-Jin yang terdiri dari 28 ayat, atau Qur'an surat 72 yang terdiri dari 28 ayat, jelaslah sudah manusia menikah dengan manusia selain itu manusia hanya bisa menikah dengan Jin, tidak mungkin dengan mahluk lain yang ada dimuka bumi ini, bangsa Jin waktu zaman Nabi Muhammad SAW mereka datang bergerombolan untuk masuk Islam di satu masjid yang ada di madinah, Masjid itu sampai sekarang diberi nama Masjid Al-Jin. Bangsa Jin semasa hidup di dunia mereka melihat manusia, namun manusia tidak bisa melihat Jin, hanya orang-orang tertentuh.begitu juga sebaliknya di akhirat nanti.


ALLAAH SWT sudah memberikan banyak peringatan dan isyarat kepada kita masyarakat morella bahwa maaiiyat itu jin... buktinya:
belum lama ini mungkin kurang lebih sekitar 50 thn lalu, terjadi peristiwa hilangnya nene hajar dan nene atima, yang hilang di perairan hasihi letang, dan dikabarkan Nenek Atima menikah dengan seseorang laki-laki penduduk laut di daerah tanjung alang nusaniwe, kemudian dikabarkan juga Nene Hajar menikah dengan Raja Laut, dan dibuktikan dengan anak beliau "Ghafur Maaiiyat" yang suka mengganggu ma'kaw nya mahina Latukau, kemudian kabar yang terakhir 2 thn yang lalu saat acara 7 syawal, kita mengundang para raja dan malesi datang ke acara 7 Syawal kita, dan muncul lagi anak dari Ghafur Maaiiyat yang membonceng beta pung Kaka Haji Adam dari ma'lamet ke letang, dengan mengenderai motor yang saat itu laju kecepatan motornya diluar akal sehat manusia, alias motornya "terbang", setelah tiba ditempat tujuan, anak tersebut ditanya oleh Kak Haji Adam, dan dia menjawab "saya cucunya Nenek Hajar, saya anaknya Bapak Ghafur",... jelaslah sudah saudaraku.
Jika kita sedang ada maslah atau perang, pasti maaiiyat sibuk dengan segala sesuatunya, entah gong lah apa lah macam-macam, ada juga dipanggil dengan cara adat mahina soy tai lua, agar mereka datang untuk membantu kita.
himbauan dari saya maaiiyat hadir atau di panggil itu bukan hal yang tahayyul atau syirik, tergantung dari kita manusia khususnya masyarakat morella, jika kita menyikapi seakan-akan kita menganggap mereka itu disamakan dengan ALLAAH SWT maka syiriklah kita, namun jika kita memanggil mereka dengan cara adat namun keyakinan dan maksud yang sudah tertanam di hati hanya sekedar meminta pertolongan dari mahluk atau yang tepatnya saudara kita mahluk maaiiyat maka hal ini boleh, bukan syirik, diperbolehkan oleh Rasul SAW. Karena kita memanggil mereka sebatas untuk membantu kita dan kita menganggap mereka sebatas mahluk, bukan lebih dari itu. dan jangan lupa selalu di mulai dengan Basmalah dan lebih baik lagi ditambah Shalawat.
Contoh: Ilham dan Affan, mereka dalah kakak beradik, Ilham ingin meminta tolong sesuatu dari Affan, apakah tidak boleh! atau Ilham lagi di serang oleh orang musuh dan Ilham tau, loh saya kan tidak sendiri, saya punya saudara yaitu Affan, maka dipanggillah Affan untuk membantu, apakah itu tidak boleh? atau tahayyul? atau syirik? tentunya tidak saudara-saudaraku. karena maaiiyat juga beranak pinak seperti kita manusia, mereka beragamaIslam juga, mereka tau siapa kita, mereka tau kita masyarakat morella adalah saudara mereka.
Jika hal ini tahayyul atau syirik, tentunya orang-orang tua kita sudah melarangnya dari dulu, apakah mereka syirik? mereka itu ulama-ulama besar.
mau tidak mau suka tidak suka, maaiiyat adalah saudara kita, saudara kandung kita, saudara dari satu rahim. Jadi kesimpulannya Maaiiyat adalah bangsa Jin, namun bangsa Jin yang mengalir darah manusia. Yaa boleh dikatakan yaa Maaiiyat itu Jin funky...alias Jin gaul bangettt,,, he..he..he.., gue senang banget punya sudara maaiiyat itu, karena mereka baik banget, mereka peduli banget sama kita saudara-saudaraanya...
Jika ada comment silahkan, karena saya manusia biasa dan punya keterbatasan
wassalaam

Senin, 28 Februari 2011

Sekilas Tentang Benteng Kapahaha

Foto FKSB
Oleh : Yusuf Mony, S.Ag

Kapahaha adalah sebuah benteng alam (benteng pertahanan) pada perang Ambon IV (Ruhmpius) atau sering disebut dengan Perangan Kapahaha 1637-1646, letaknya ± 4 KM ke arah utara Pusat Negeri Morella. Sebelum menjadi Benteng Pertahanan tempat ini sudah di huni oleh manusia sejak berabad-abad. Manusia yang menghuni tempat ini berasal dari ula pokol di gunung Salahutu, manusia pertama di Ulapokol tersebut adalah Uka Latu Tapil. Dalam perkembangan selanjutnya anak-anak dari Uka Latu Tapil melakukan perpindahan Ke Amaela (Gunung Kukusan), setelah itu kemudian mereka pindah dan menetap di Kapahaha. Dari waktu ke waktu melalui proses perkawinan maka semakin banyak manusia di tempat ini kemudian mereka membentuk sebuah Aman/Hena (Negeri). Aman (negeri) tersebut terdiri dari beberapa rumah tau yaitu : Rumah Tau Sasole, Rumah Tau Sialana, Rumah Tau Sialana, Rumah Tau Leikawa dan Rumah Tau Manilet. Keemepat rumah tau inilah yang merupakan turunan asli yang menetap di aman (Negeri Lama) Kapahaha. Rumah Tau Manilet adalah turunan dari seorang penyiar agama islam yang berasal dari timur tengah bernama Syekh Qalam Abdul Kahar. Beliau datang sekitar abad ke-8 Masehi dan mengislamkan Penduduk Kapahaha (Tiga Rumah Tau Tsb).
Pada masa-masa selanjutnya Kapaha kemudian menjadi pusat pemerintahan adat dari beberapa negeri sekitar yaitu iyal uli yang berjarak ± 2,5 KM dari Negeri Morella, Ninggareta yang berjarak ± 9 KM dari Negeri Morella, dan Putulesi yang berjarak ± 1,5 KM dari Negeri Morella. Lambang Pemerintahan adat negeri Kapahaha yaitu Burung Manu Saliwangi yang sampai saat ini masih dipakai sebagai lambang pemerintahan adat Negeri Morella, dan Baeleu Tomasiwa sebagai tempat Musyawarah. Sementra itu, pusat keagamaan terletak di Negeri Lama Iyal Uli.
Pada awal abad Ke-17 dimana sebagian benteng Pertahanan di Maluku ditaklukan oleh VOC Belanda, maka semua Kapitan dan Malesi dari Patasiwa-Patalima yang bentengnya sudah di taklukan tersebut bergabung di Kapahaha dan karena letaknya yang strategis maka dijadikanlah sebagai benteng pertahanan perang yang berlangsung selama 9 tahun dengan Kapitan Besarnya Telukabessy (Ahmad Leikawa). perang yang berlangsung sejak tahun 1637 tersebut kemudian berakhir pada tahun 1646 dengan ditaklukannya para pejuang kapahaha oleh kaum penjajah VOC Belanda. Setelah itu Kapitan Telukabessy (Ahmad Leikawa) dihukum dan digantung di bentang Victoria Ambon dan jenazahnya ditenggelamkan di pantai Namalatu-Ambon.
Wai Do,a Selamat (Foto: FKSB)
Rakyat Kapahaha yang tertangkap dalam penaklukan tersebut dikenal dengan masyarakat “Hausihu” yang artinya kobaran api perjuangan. Kapahaha sekarang menjadi saksi bisu perjuangan Kapitan Telukabessy (Ahmad Leikawa). Pada saat ditaklukan Benteng Kapahaha juga dibakar oleh VOC sehingga semua barang atau benda yang ada di Kapahaha saat itu semuanya ikut hangus terbakar, hal ini seperti yang tertuang dalam sebuah Lani/Kapata (Bahasa Tanah) “Elya Kapahaha Lia Putu Mahalisa”, yang Artinya “Kapahaha Habis dilalap Api”. Kini di Benteng Kapahaha hanya tersisa kuburan-kuburan tua, pecahan-pecahan alat rumah tangga serta beberapa buah benda/barang yang sempat diselamatkan. Kapahaha kemudian diabadikan namanya di taman makam pahlawan di Kota Ambon.
Kini Kapahaha juga menjadi objek wisata alam yang mengandung nilai supranatural dan religius. Selain itu, yang mengundang perhatian orang ke Kapahaha adalah sebuah mata air jernih di kaki benteng kapahaha yang bernama Wae Do’a Selamat (Air Doa Selamata) air ini dipercaya memiliki khasiat menyembuhkan berbagai penyakit.

Selasa, 15 Februari 2011

Asal Usul Tanaman Cengkih

Cengkeh (Syzigium aromaticum) termasuk dalam suku Myrtaceae. Tumbuhan ini merupakan tanaman yang termasuk dalam kategori rempah-rempah dan pemanfaatannya bisa juga sebagai bahan obat. Asal dari tanaman ini masih dalam perdebatan di antara para ahli botani, ada yang mengatakan bahwa tanaman ini berasal dari Maluku Utara, Kepulauan Maluku, Philipina atau Irian.

Maluku Utara tampaknya merupakan daerah yang lebih kuat dan lebih diyakini oleh Masyarakat Negeri Morella sebagai asal mula Tanaman Cengkih. Hal ini dikarenakan di daerah ini terdapat tanaman cengkeh tua yang dianggap tertua di dunia karena ia telah tumbuh dan menghasilkan sejak zaman VOC sampai sekarang.

Konon kabarnya Tanaman cengkih yang ada sekarang bermula dari suatu peristiwa yang terjadi pada masa kejayaan kerajaan Ternate di Maluku Utara dan kerajaan Kapahaha di Morella Pulau Ambon.

Pada suatu ketika Sultan Ternate mengadakan pertemuan dengan para pemimpin wilayah dari seluruh Maluku untuk mengajak bergabung dengan Kerajaan Ternate. Di antara para Pemimpin tersebut di undang pula Raja dari Kerajaan Kapahaha.

Dan adapun maksud dari dari pertemuan tersebut adalah Sultan Ternate berkeinginan untuk menjadikan semua wilayah yang ada di Maluku masuk dalam wilayah kekuasaan Ternate, dan semua pemimpin yang hadir pada saat itu menyetujui rencana tersebut kecuali Raja Kapahaha, Setiap wilayah yang sudah bergabung dengan kesultanan ternate wajib membayar upeti kepada sultan ternate.

Selang beberapa waktu lamanya sebagai wujud penolakan Raja Kapahaha untuk bergabung dengan Kesultanan Ternate, Raja Kapahaha mengirim upeti kepada Sultan Ternate dan setelah upeti itu dibuka ternyata isinya adalah Mayat bayi dan Sultanpun Memerintahkan pengawalnya untuk menanam (memakamkan) mayat bayi tersebut di depan Keraton.

Beberapa tahun kemudian terjadi keanehan pada makam tersebut karena pada dua batu nisannya tumbuh dua tanaman, yang kemudian dirawat dengan baik oleh para abdi di Keraton namun satu tanaman di nisan bagian kaki mati dan yang tinggal hanya satu tanaman dinisan kepala.

Seiring dengan berjalannya waktu tanaman tersebut tumbuh besar kemudian berbunga dan berbuah dengan mengeluarkan harum yang semerbak, pada saat yang bersamaan Sultan mengadakan suatu acara dengan mengundang Semua pemimpin di wilayah kekuasaannya termasuk Raja Kapahaha, akan tetapi Raja Kapahaha mengutus seorang punggawa kerajaan kapahaha yaitu Upu Hatunuku untuk mewakili Raja Kapahaha pada pertemuan tersebut.

Setibanya di keraton Ternate semua Tamu tertarik dengan tanaman tersebut dan Para tamu tersebut berkeinnginan untuk membawa pulang buah dari pohon tersebut sebagai bibit yang akan dibawa ke daerah masing-masing namun keinginan tersebut tidak diperkenankan oleh Sultan Ternate dengan alasan tanaman tersebut menjadi sejarah hubungan Keraton Ternate dan Kerajaan Kapahaha.

Setelah selesai pertemuan para tamupun meninggalkan Keraton, ketika keluar dari keraton ini Upu Hatunuku tak menyadari bahwa pada ujung tongkatnya paling bawah yang berlubang telah masuk beberapa biji dari tanaman tersebut.

Setibanya di Wawane tongkat tersebut di letakkan di sebelah rumah yang beberapa lama kemudian ujung bawah tongkat tersebut pecah, Upu Hatunuku kemudian memeriksa apa yang menyebabkan sehingga tongkatnya yang terbuat dari bambu bisa pecah, setelah diperiksa ternyata biji dari tanaman yang ada di depan Keraton Ternate itu, Kemudian Upu Hatunuku menanam Biji yang suadah mulai tumbuh tersebut dan setelah besar dinamai dengan Nama Pukulawang yang bermakna tidak bergabung dan ingin sendiri atau juga bermakna merasa takjub bila melihatnya.


Mitos Masyarakat Negeri Morella

By: Oyang Y. Mony

Mansoi, 15 Februari 2011

Jumat, 04 Februari 2011

Selayang Pandang Negeri Morella


Asal mula Negeri Morella adalah penggabungan dari beberapa Aman ( Hena) atau Negeri Lama, yakni Negeri Lama Kapahaha, Negeri Lama Iyal Uli, Negeri Lama Putulesi dan Negeri Lama Ninggareta. Keempat Aman atau Negeri Lama inilah yang membentuk suatu Aman atau Negeri Hausihu Morella.
Menurut tua-tua adat, leluhur yang tinggal di Negeri-negeri lama tersebut berasal  dari Ula Pokol. Ula Pokol merupakan pusat negeri pertama sejak dulu, juga merupakan tempat yang sangat disakralkan oleh masyarakat Morella karena dipercayai sebagai tempat hunian Roh-roh Gaib (Rijalal Gaib). Ula Pokol terletak di pegunungan Salahutu, mula-mula yang hidup ditempat tersebut adalah Uka Latu Tapil, Beliau berasal dari Timur Tengah. Uka Latu Tapil datang ditempat tersebut dengan membawa seekor burung Manulatu (Burung Raja).
Dikisahkan pula oleh para Tua-tua Adat setelah Uka Latu Tapil berada di Ula Pokol muncul tiga orang  yang masing-masing mengklaim dirinya sebagai pendahulu atau penemu daerah baru tersebut, ditengah peredebatan sengit itu tiba-tiba mereka mendengar kicauan Burung Manulatu. Akhirnya mereka menyadari ternyata daerah itu telah berpenghuni dan mereka bertiga pun bersepakat untuk menemukan pemilik Manulatu tersebut. Ketiga orang tersebut adalah Tuhe, Meten dan Hiti. Tidak beberapa lama kemudian Tuhe, Meten dan Hiti menemukan orang yang dicari di Ula Pokol tersebut, saat itu dia sedang duduk bersemedi (Bersembahyang).
Dihadapan orang yang sedang duduk itu, mereka mengikrarkan “ Upu Tapil Ame” yang bermakna Tuanku Pelindung/Junjungan Kami, beliaulah Uka Latu Tapil. Tuhe, Meten dan Hiti kemudian dikukuhkan sebagai Hulubalang atau pengawal Uka Latu Tapil, selanjutnya Uka Latu Tapil kemudian meletakkan tiga buah batu di Salahutu sebagai “ Hatu Manuai Telu” atau Batu Tiga Tuan Tanah karena disinilah tempat pertemuan Tuhe, Meten dan Hiti.
Dalam perkembangan selanjutnya Tuhe Meten Dan Hiti meminang seorang putri yang bernama Hatuatina yang berasal dari Nusa Ina (Pulau Seram) tepatnya di pusat tiga aliran sungai Eti, Tala dan Sapalewa di Nunusaku Salahua untuk menjadi istri Uka Latu Tapil, dari perkawianan itu Uka Latu Tapil dan istrinya memperoleh tujuh orang anak laki-laki dan satu orang anak perempuan. Dari ketujuh anak laki-laki tersebut hanya anak yang bernama Tuharela / Umarella yang menjalani kehidupan normal sebagai manusia, sedangkan keenam lainnya menjalani hidup sebagai Sufisme Tulen (Gaib). Tuharella beristrikan seorang perempuan yang bernama Alungnusa dari Pulau Seram. Dari perkawinan inilah melahirkan/beranak pinak  sebagian besar warga Morella sekarang.
Melalui proses perkawinan maka semakin banyak manusia di tempat itu (Ula Pokol) dan karena keadaan alam, merekapun  mengadakan perpindahan ke beberapa tempat di daerah pegunungan yaitu ke Ama Ela (Gunung Kukusan) kemudian berpindah lagi ke Kapahaha dan sebagian ke Iyal Uli, Ninggareta, dan Putulessy. Walaupun ke-empat negeri lama ini terpisah jarak satu dengan yang lain namun kehidupan mereka bersatu dalam sistem kehidupan sosial kemasyarakatan, dimana pusat pemerintahan adatnya berada di Kapahaha yang saat itu pimpinan adat tertinggi di pegang oleh Tuhe, Meten, dan Hiti (Salamoni). Sementara pelaksanaan keagamaannya di pusatkan di Iyal Uli.
Dari abad keabad kehidupan empat negeri lama ini dalam keadaan rukun dan damai, sampai pada akhir abad ke-6 ketika Bangsa Penjajah bercokol di Maluku, ke empat negeri lama ini bersatu untuk mempertahankan wilayah mereka dari serangan kaum penjajah. Kapahaha kemudian dijadikan sebagai pusat pertahanan untuk melawan kaum penjajah tersebut hal ini dikarenakan letaknya yang strategis dengan Kapitan Telukabessy (Ahmad Leikawa) sebagai panglima perang. Pada saat itu beberapa benteng pertahanan di Maluku sudah di taklukkan oleh Belanda sehingga para kapitan dan malesi dari daerah-daerah tersebut di tambah dengan bala bantuan dari daerah-daerah lain  bergabung di Benteng Kapahaha seperti dari Kerajaan Ternate,  Kerajaan Gowa, Tuban, Alaka, Huamual, Iha, Buru, Nusa Laut, Banda dan lain-lain. Mereka melakukan perlawanan terhadap kaum kompeni yang berlangsung dari tahun 1637 sampai dengan 1646.
Ketika pada tahun 1646 Kapahaha berhasil ditaklukkan oleh kaum penjajah Belanda, maka semua rakyat kapahaha, para kapitan dan malesi serta seluruh personil bantuan tersebut diturunkan dari Bentang Kapahaha dan ditawan di pantai Teluk Telapuan (Teluk Sawatelu Morella).
Setelah adanya pengumuman pembebasan tawanan perang kapahaha oleh gubernur Van Deimer, maka mereka mengadakan acara perpisahan sebelum kembali ke daerah masing-masing, dalam acara perpisahan itu di isi dengan lagu-lagu dan tari-tarian adat serta sekelompok Pemuda Kapahaha mengadakan Atraksi Pukul Sapu Lidi. Hari itu yang bertepatan dengan tanggal 27 Oktober 1646 mereka memberikan nama bagi Rakyat Kapahaha yang akan mereka tinggalkan dengan gelar Hausihu yang bermakna Kobaran Api Perjuangan (Kapahaha Hausihu Holi Siwalima).
Sementara itu, Rakyat Kapahaha Hausihu oleh belanda tidak diperkenangkan untuk kembali lagi ke Negeri Lama dipegunungan dengan maksud untuk memudahkan pengawasan Belanda terhadap mereka. Maka mereka kemudian menempati wilayah kurang lebih 3 km kearah selatan dari arah Sawatelu yaitu wilayah Morella sekarang dengan nama negerinya Hausihu Morella.
Negeri Hausihu Morella termasuk dalam wilayah Ulisailessy bersama dengan Negeri Liang dan Negeri Waai. Khususnya untuk Negeri Hausihu Morella terdapat beberapa dati-dati kecil seperti :
  1. Huta Haha sebagai dati Tuhe
  2. Ima Uli sebagai dati Manilet
  3. Sia’ Aman sebagai dati Sialana
  4. Uli Kau sebagai dati tawainlatu
  5. Uli Ina sebagai dati Leikawa
  6. Ninggareta sebagai dati Ulath
  7. Putulessy sebagai dati Latukau
  8. Sipil sebagai dati Lekai
  9. Ula Pokol sebagai dati Sasole

Surga di Tanah Leluhur



Tanjung Setan Morella, Foto: FKSB 2010
Negeri Seribu Pulau,…….Itulah julukan yang diberikan kepada Maluku, salah satu wilayah diujung timur Indonesia yang memiliki gugusan pulau-pulau dengan beraneka ragam budaya, bahasa maupun adat istiadat dan kekayaan alam yang berlimpah serta keindahan yang tiada tara.
Dari sekian banyak desa yang tersebar di wilayah Maluku, Morella merupakan salah satu negri adat yang menyimpan sejuta kelebihan dan keindahan. Terletak di Jazirah Leihitu, berdamping dengan dua desa lainnya yakni Negeri Mamala dan Negeri Liang, berjarak kurang lebih 35.km dari Kota Ambon, ibukota Propinsi Maluku. Perjalanan dapat ditempun selama 45 menit melalui jalan darat dari pusat kota Ambon (Terminal Batu merah).
Selain memiliki kekayaan alam yang melimpah seperti ikan, cengkih,pala,kelapa dan sagu, Negeri Morella juga memiliki kekayaan alam lain dan belum tersentuh oleh perkembangan zaman. Beberapa objek wisata (Wisata bahari,Budaya dan wisata alam) yang dapat ditemui antara lain sbb :
1.    Benteng Kapahaha
2.    PantaiSawatelu
3.    PantaiLetan
4.    Pantai Tilepuai
5.    Taman Laut
6.    Tradisi Pukul Sapu Lidi
Benteng Kapahaha adalah salah satu benteng yang dibentuk oleh alam terletak di tanjung setan,kurang 200 m dari bibir pantai dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Berbagai peninggalan bersejarah berupa makam2 para pejuang dan benda2 kuno masih dapat dijumpai di tempat tersebut (sebagian besar telah disimpan di rumah Raja/Kepala Desa).
Pantai Sawatelu yang terletak di teluk sawatelu memiliki keindahan yang tidak kalah bila dibandingkan dengan objek wisata lainnya di wilayah Maluku. Pantai berpasir berukuran luas dengan panorama alam sekitar yang memukau dapat menjadi salah satu pilihan untuk melepas kepenatan setelah enam hari melaksanakan rutinitas yang melelahkan. Posisi pantai yang terletak di kelokan teluk sawatelu dengan aliran sungai ditengahnya memberikan nuansa tersendiri.
Bagi anda yang gemar berdiving, Sepanjang pantai sawatelu sampai di tanjung setan, terdapat taman laut yang tidak kalah indahnya dengan Bunaken. Taman laut yang memiliki beraneka ragam biota laut. Ikan-ikan beraneka rupa dan warna, gugusan karang-karang dalam berbagai bentuk yang menawan dan berbagai jenis biota lainnya.
Ketiga objek wisata tersebut (Benteng Kapahaha, Pantai Sawatelu dan Taman Laut) terletak saling berdampingan sehingga memberikan kemudahan bagi para wisatawan untuk menentukan pilihan tanpa harus merogoh kocek untuk berpindah-pindah lokasi. Ibarat kata pepatah sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Sekali berkunjung, tiga lokasi wisata dikunjungi.
Konon kisah yang melahirkan tradisi pukul sapu berawal ketika terjadi pembebasan tahanan di benteng kapahaha oleh kolonial belanda di teluk sawatelu. Luapan kegembiraan sekaligus rasa haru yang bercampur dengan semangat patriotisme diaplikasikan dalam bentuk tindakan memukul diri sendiri dengan menggunakan sapu. Menurut catatan sejarah peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 7 syawal yang kemudian dikembangkan menjadi tradisi 7 syawal oleh masyarakat setempat secara turun temurun. Dalam perayaan tersebut, selain atraksi pukul sapu juga ditampilkan tarian-tarian daerah seperti tari cakalele yang diiringi musik tradisional juga ditampilkan atraksi bambu gila. Dalam atraksi Bambu Gila penonton diberikan kesempatan untuk ikut mencoba unjuk kekuatan memegang bambu yang telah diisi dengan roh-roh para leluhur oleh sang pawang. Tentunya hal tersebut dapat menjadi satu pengalaman tersendiri bagi para wisatawan.


Ambon, Kamis 3 Februari 2011 | By: Fahmi Sialana

Selasa, 01 Februari 2011

Menghadirkan Karaeng Di Kapahaha


Oleh :   Fuad Mahfud Azuz

Agustus lalu, di saat negeri ini memperingati kemerdekaan, saya bersilaturrahmi ke rumah Pemangku Adat Kerajaan Gowa, Andi Kumala Andi Idjo Karaeng Serang. Rumahnya terbilang sederhana untuk ukuran seorang pemangku adat. Orang tua Andi Kumala adalah Raja terakhir Kerajaan Gowa, Andi Idjo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aidudin yang meninggal tahun 1978 di Jongaya Makassar.  
Dalam silaturrahmi tersebut, kami membahas dua topik tentang hubungan  Gowa dengan Maluku. Pertama ketika perang Wawane dan Perang Kapahaha, dan Kedua, ketika penyelesaian konflik Maluku, Gowa menjadi tuan rumah penyelesaian dengan perjanjian Malino-nya.
Kami banyak membincang kehadiran pasukan Kerajaan Gowa di Maluku, pada masa perang melawan Belanda di Abad 17.  Kemudian juga menyinggung acara Pukul Manyapu yang berawal dari atraksi sebelum perpisahan dengan para pejuang Kapahaha. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 27 Oktober 1646 di pantai Sawatelu Negeri Hausihu  -  nama negeri lama Morella. 
Kehadiran saya di Sungguminasa Gowa, dalam rangka mengundang Pemangku Adat Kerajaan Gowa dan anak cucu tiga orang Karaeng (Karaeng Jipang, Karaeng Tulis dan Daeng Mangapa) untuk hadir pada perayaan Pukul Manyapu.  Di samping itu juga membuka silaturrahmi dengan Kerajaan Gowa. Karena selama dua tahun terakhir, kegiatan Pukul Manyapu Morella selalu dihadiri oleh Pengurus  Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) sebagai representasi dari anak cucu tiga orang Karaeng yang berperang di Kapahaha.
Undangan ini disahuti. Sang Pemangku Adat sangat bersuka cita untuk hadir pada perayaan Pukul Manyapu 7 Syawal.

SEKILAS JEJAK KARAENG
Di tengah perbincangan, ketika saya menyebut beberapa nama pimpinan pasukan Kerajaan Gowa  - antara lain; Karaeng Jipang, Daeng Mangapa, dan Karaeng Bontonompo, - Sang Karaeng (Andi Kumala), berdiri mengambil sebuah buku Inseklopedia Kerajaan Gowa dan memperlihatkan catatan tentang keterlibatan “Pasukan Karaeng” di berbagai daerah nusantara bahkan ke luar nusantara.
“Nama yang disebut tadi, seperti Karaeng Jipang, Karaeng Bontonompo, Daeng Mangapa, kalau masa  sekarang,  mereka minimal setingkat Brigjen”. Kata Sang Karaeng. 
Wah,…. mencengangkan. Betapa besar kekuatan yang dikirim oleh Kerajaan Gowa ke Benteng Wawane yang saat itu panglima perangnya adalah Kapitan Kakiali. Pasukan yang dikirim berjumlah sekitar 400 orang. Mereka adalah pasukan terbesar dari luar Jazirah Leihitu, ditambah dengan pimpinan sekaliber Karaeng Jipang dll.  Hal ini sekaligus menunjukkan kontribusi dan perhatian besar Kerajaan Gowa terhadap Maluku.
 Proses kedatangan diawali oleh permintaan Kapitan Kakiali pada Raja Gowa, I Mannuntungi Daeng Mattola Karaeng Lakiyung Sultan Malikussaid Tuminanga ri Papang Batuna (berkuasa tahun 1639 hingga 1653) untuk membantu perang melawan Belanda. Kemudian disusul dengan pengiriman cengkeh dalam jumlah relatif besar sebagai biaya bagi pasukan Karaeng.
Dukungan Karaeng sangat berarti pada Perang Wawane (Hitu I) dan menjadi sandungan bagi Belanda. Sehingga Belanda menggunakan politik de vide et impera dan membayar seorang berkebangsaan Spanyol untuk membunuh Kapitan Kakiali di saat tidur.
Setelah Kapitan Kakiali terbunuh dan Wawane jatuh, pasukan Karaeng berpencar di hutan-hutan Leihitu.  Mereka kemudian bersama Kapitan Tomol, Kapitan Patiwane, Imam Rijali, dan sejumlah pasukan lain bergabung ke Kapahaha. Kapahaha adalah benteng terakhir. Bukit batu terjal sesuai namanya, Kapa = tajam, haha = di atas.  Terletak sekitar 3,5 Km sebelah Utara Negeri Morella. Saat itu Panglima Perang Kapahaha adalah Kapitan Telukabessy.   
Menurut Imam Rijali, setelah rombongan tiba di Kapahaha, pembagian pos-pos pertahanan diatur. Pasukan Karaeng bergabung dengan Kapitan Patiwani dan Kapitan Tomol menjaga pos Iyal Uli. Pos pertahanan ini dekat Benteng Kapahaha.
            Sebelum Kapahaha jatuh, Karaeng Jipang dan Bontonompo bersama sebagian pasukannya kembali ke Gowa pada musim timur.  
Perang Kapahaha berakhir ketika Belanda berhasil mengetahui satu-satunya jalur menuju Benteng Kapahaha. Pada malam harinya, mereka melakukan serangan mendadak.  Pasukan Kapahaha kucar kacir. Kapahaha dibumihanguskan. Para pejuang banyak gugur. Sebagian yang selamat ditawan dan sebagian lainnya berhasil lolos, termasuk Kapitan Telukabessy, dan Imam Rijali.   
Setelah perang berakhir,  jejak pasukan Karaeng hingga kini kurang terungkap.  Informasi yang ada hanya seputar cerita sebuah batu di muara sungai Moki – sekitar 8 Km dari Morella ke arah Liang - yang biasa disebut “Batu Tete Bugis”. Selain itu, hanya menjelang acara Pukul Manyapu 7 Syawal, dilakukan pendekatan ke KKSS untuk mengahdiri acara mewakili 3 Karaeng. 

BERSAMA MENGUSIK SEJARAH
Perbincangan dengan Pemangku Adat Kerajaan Gowa di atas,  membangun mimpi indah saya.
Karena di Kabupaten Gowa sendiri ada rencana melakukan temu turunan Karaeng sedunia. Idenya agak wah,… Tapi bila ditilik pada langkah-langkah persiapan termasuk pagelaran Festival Kraton di Gowa pada bulan November nanti, maka  rencana ini sangat mungkin terlaksana. Agenda ini perlu disahuti sebagai upaya menapaktilas perjalanan sejarah, termasuk sejarah keterlibatan Pasukan Karaeng di Perang Wawane dan Kapahaha.
Lalu, dalam konteks  kekinian, apa yang dapat diambil oleh masyarakat Maluku terutama bagi wilayah-wilayah yang pernah berperang bersama melawan penjajah.
Jelas, bahwa jejak kebesaran Kerajaan Gowa dan pengaruh tokoh asal Sulsel secara umum di pentas nasional sekarang jadi pertimbangan. Tampilnya Jusuf Kalla sebagai Wapres, Riyaas Rasyid, Andi Alfian dan Rizal Mallarangeng, Syahrul Yasin Limpo – Gubernur Sulsel keturunan Karaeng Bontonompo - serta  sederet nama  orang Sulsel memberikan kontribusi signifikan yang membawa harum nama Indonesia Bagian Timur, menjadi peluang yang perlu disikapi sebaik mungkin. 
Minimal, perhatian yang diawali dengan keterpanggilan membangun sejarah bersama, dapat digunakan untuk mengangkat sejarah kebesaran para kapitan yang tertinggal jauh dibanding dengan Pahlawan Maluku; Kapitan Pattimura dan Martha Christina Tiahahu.
Lalu, bagi masyarakat Maluku, rencana kehadiran Pemangku Adat Kerajaan Gowa di pentas Pukul Manyapu merupakan kehormatan besar. Perayaan budaya ini penting untuk dikemas cantik dan menarik dengan tetap berdasar akurasi sejarah perjuangan. Karena dengan event adat berlatar belakang sejarah yang dikemas “cantik”, perasaan memiliki sejarah akan menjadi pendorong membangun event yang lebih “menasional” di kemudian hari.
Wawane dan Kapahaha (Perang Hitu I dan II) adalah perang berskala besar yang melibatkan Kerajaan Gowa, Ternate, Kerajaan Mataram (Jogja) dan hampir seluruh perwakilan dari wilayah Maluku. Masa perangnya juga lebih dari 13 tahun (Wawane tahun 1633 – 1643 dan Kapahaha tahun 1637 -1646).     
Di sisi lain, kemampuan mengorganisir event besar masih menjadi kendala internal di Morella. Kelemahan internal ini penting dijadikan warning dalam  mengemas event secara baik, persiapan lebih matang,  apalagi dengan rencana kehadiran Sang Karaeng.
Sedang bagi KKSS dan masyarakat Maluku asal Sulsel saatnya untuk lebih proaktif melakukan pendekatan guna mengambil peran dan bahu membahu membuka simpul-simpul kerjasama yang lebih baik dengan negeri-negeri yang memiliki sejarah bersama.   
Karena dengan menghadirkan Karaeng, kita sebenarnya sedang menata ulang pondasi sejarah bangsa yang kokoh.  
Allahu a’lam.

Fuad Mahfud Azuz     
Ketua YPI Al-Wathan Ambon
Sekretaris Kerukunan Masyarakat Morella (KMM) Ambon.
Tulisan ini pernah dimuat di Ambon Ekspres tanggal 22 septem,ber 2008

Kunjungan Putra Mahkota Kerajaan Gowa (Andi Kumala Ijo Daeng Sila Karaeng Lembang Parang) di Perayaan  Pukul Sapu Lidi Negeri Morella tahun 2008. (foto: Mubarak Leikawa)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger