Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Agustus 2014

Oi Lowa’ Lete Kapahahai

Oleh : Fuad Mahfud Azuz
(opini Ambon Ekspres, 12 Agustus 2014)


Saya dan Busra Sialana, sepupu yang selama ini menetap di Jakarta membuat kesepakatan. Kami akan membawa keluarga masing-masing untuk “menaklukkan” bukit bersejarah Kapahaha. Tidak ada target muluk. Yang ada hanya dorongan untuk memperkenalkan pada anak dan istri yang kebetulan berasal dari luar Maluku, bahwa Kapahaha yang sering mereka dengar melalui pembicaraan kami, atau baca di media, beginilah alamnya. Terjal, berbatu karang.

Rabu, 09 November 2011

Membangun Negeri dengan adat… “Tulehu Melakukan Ritual Abda’u – Morella Melantungkan Tun Teha Usai”

Sebuah catatan bersama MPC
 

Luar biasa perjalanan kemaring sangat melelahkan, tapi itu bukanlah suatu penyesalan untukku. Minggu 6 November 2011, usai sholat idhul kurban saya bersama dengan teman-teman MPC ( Maluku Photo Club) melakukan Hunting bersama di Negeri Tulehu yang jaraknya tidak jauh dari Pusat kota Ambon.
Negeri Tulehu yang juga merupakan ibu kota kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah ini terletak 25 Km sebelah utara Kota Ambon, seperti masyarakat Muslim lain pada umumnya, Negeri Tulehu juga melakukan perayaan Hari raya idul Adha, Uniknya di Negeri Tulehu selain adanya penyembelihan hewan kurban mereka juga melakukan upacara ritual Kaul Negeri yakni proses pengkaulan hewan kurban, Abda’u dan hadrat, yang menurut sejarahnya sudah dilakukan sekitar tahun 1600 M,
Proses Pengkaulan hewan kurban dilaksanakan dirumah Masjid Jami Tulehu oleh Ibu-ibu selanjutnya dikapankan dengan kain putih atau dalam bahasa Tulehu yaitu Kain Salele, diantarkan kerumah raja untuk selanjutnya diarak keliling negeri, alunan zikir dan salawat Nabi pun mengiringi langkah demi langkah menuju pelataran Masjid raya Tulehu untuk dilakukan penyembelihan.
Tidak sampai disitu saja Nampak pemandangan unik tersebut, saya juga dikagetkan dengan datangnya sekelompok pemuda dengan berbaju putih serta ikatan putih dikepala masing-masing berkumpul di depan rumah Raja Negeri Tulehu sambil Berteriak Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, benar-benar bikin merinding, saya langsung menghampiri salah seorang warga Tulehu untuk menanyakan ritual tersebut, dan dia pun menjelaskan bahwa inilah Abda’u.
Setelah mendapat sedikit penjelasan serta menyaksikan langsung ritual tersebut saya pun bergegas untuk lebih dekat menghampiri Rumah Raja Negeri Tulehu, sesampai disana ternyata John Saleh Ohorella yang tak lain merupakan Raja Tulehu sedang memberikan arahan dan nasehat kepada pemuda-pemuda yang akan melakukan Abda’u tersebut , dan saya pun turut mendengarkannya, sambil berdiam diri sempat terpikirkan dalam benak saya bahwa begitu kayanya Bangsa Indonesia akan budaya serta adat istiadat, khususnya di Maluku hampir disetiap desa/Negeri memiliki kekayaan budayanya masing-masing, misalnya Tulehu adanya Abda’u, Mamala- Morella melaksanakan Atraksi Pukul Sapu Lidi, Pelau dengan ritual cakalele (mengiris tubuh sendiri) atau dalam bahasa tanahnya Ma’atenu, dan masih banyak lagi adat istiadat Maluku, benar-benar luar biasa, budaya inilah yang justru jadi daya tarik para pengujung untuk datang ke Negeri tersebut.
Usai mendengarkan arahan dari Raja Tulehu, para pemuda tersebut langsung melakukan Abda’u dengan berebutan Benderah Hijau yang bertuliskan Laillaha Illah Muhammaddarussallah, sambil melantungkan takbir Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, jika ada pemuda yang bisa mendapatkan bendera itu maka diciumnya bendera tersebut dengan penuh semangat kemudian dikibarkan lagi walau tubuhnya harus ditarik oleh pemuda lainnya, asalkan Bendera tersebut tetap diatas dan tidak boleh bersentuhan dengan tanah.
Abda’u sendiri berasal dari kata Abada yang artinya Ibadah yang bermakna pengabdian seorang Hamba pada Sang Halik. Atraksi dinamis yang dilakoni oleh ratusan pemuda itu saling berdesak-desakan, bahu membahu merebut bendera untuk diangkat setinggi-tingginya, merupakan refleksi pengakuan kehambaan yang tulus dalam menerima Islam sebagai agama yang diyakini, untuk tetap lestari dan abadi dibumi Haturessy, sementara Bendera yang berwarna hijau tersebut melambangkan kesuburan dengan tulisan LAILAHA ILLAH MUHAMMADARRSULULLAH, berwarna kuning emas melambangkan kemakmuran dan kejayaan.
Siang itu, cuaca cukup bersahabat untuk kami, tidak hujan namun juga tidak begitu panas, Alunan zikir, tahlil, salawat serta takbir bergema di bumi Tuiruhui (Tulehu), semua jalan di padati masyarakat lokal maupun interlokal. Sementara itu, teman-teman MPC lainnya tengah sibuk dengan kameranya masing-masing untuk mendokumentasikan moment tersebut. Begitu meriahnya perayaan hari raya idhul Adha 2011 di Negeri Tulehu, dengan dipentaskannya beberapa atraksi dan carnaval budaya lainnya, sangat menghibur dan berkesan bagi setiap yang berkunjung.

Tun Teha Usai
Tun Tun Tun Teha usai e..
Marika asing jawa pamatere pipi waing..
Tun Tun Tun Teha usai e..
Marika asing jawa pamatere pipi waing..
Itulah sebait lagu daerah dari Negeri Morella, Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah.
Usai menyaksikan ritual Abda’u di Negeri Tulehu, kami pun pulang ketempat masing-masing, keesokan harinya belum juga selesai tidur panjang ku.. sudah terdengar nyanyian anak-anak negeri dengan memukul rebana sambil berhenti disetiap rumah warga untuk mengambil sumbangan bumbu masakan daging hewan kurban, dengan tetap menyanyikan lagu Tun Tun Tun Teha usai e Marika asing jawa pamatere pipi waing. Warga pun sudah siap dan ikhlas memberikan sumbangan bumbu masakan kepada anak-anak tersebut, bahkan ada yang menyumbangkan kayu bakar, setelah semuanya terkumpul barulah anak-anak tersebut menyerahkan kepada panitia Hewan Kurban, yang kemudian digunakan untuk memasak daging hewan kurban yang sudah disembelih pada saat Idhul Adha tersebut. Sangat lucu, menggelitik bila melihatnya, saya jadi kebayang masa kecil dulu. Namun Tradisi ini hanya bisa dilakukan setahun sekali di Negeri Morella, sehari setelah perayaan hari raya Idhul Adha.
Itulah sedikit cerita tentang tradisi dan budaya yang sampai sekarang masih dilakukan oleh masyarakat adat di Negeri Raja-Raja (Al-Mulk) Maluku Manise..
========================********************==========================
Sumber/penulis: Rusda Leikawa 

Jumat, 09 September 2011

Kemas Pukul Sapu Dengan Icon

Atraksi Pukul Sapu Lidi Negeri Hausihu Morella (foto: FKSB 2011)
Salah satu even parawisata berlatar belakang adat yang kuat bertahan di Maluku adalah perayaan pukul sapu atau pukul manyapu (PS). PS hanya terjadi di dua negeri bertetangga Morella dan Mamala.  Dari dua negeri adat ini pula, kita bisa menelusuri makna tersimpan di balik perayaan.
Sepintas, ritualnya sama. Sama dilakukan pada hari ke 8 Syawal tiap tahun. Sama dilakukan di halaman masjid. Sama dalam waktu pelaksaan, sesudah shalat ashar, sebelum magrib. Dan sama-sama diakui sebagai warisan budaya tetua negeri ratusan tahun lalu.
Kiranya pemikiran ini juga mendasari tawaran beberapa kalangan untuk menyatukan PS dua negeri, kemudian dibuat sebagai perayaan bersama yang didukung penuh oleh Pemda (Maluku Tengah dan Maluku). Namun setiap ide untuk mempersatukan, hampir pasti mendapat sanggahan dari kedua negeri, Morella dan Mamala.  Alasan yang dikemukakan, “ perbedaan latar belakang yang membedakan kami”. 

KAPAHAHA 
Morella, mengangkat latar belakang sejarah perang Kapahaha.  Perang yang berlangsung dari tahun 1637 hingga 1646.  Kapahaha adalah bukit batu terjal yang terdapat di hutan Negeri Morella. Kapahaha adalah benteng terakhir yang jatuh ke pihak Belanda di Pulau Ambon.  Perang Kapahaha berakhir ketika benteng Kapahaha dikuasai Belanda.
Pejuang yang sempat tertangkap dalam penyerbuan itu disiksa sebagai tawanan di Teluk Sawatelu selama tiga bulan. Kapitan Telukabessy sendiri berhasil lolos. Namun ia kemudian menyerahkan diri dan digantung dan dibuang di pantai Namalatu. Sepeninggal Telukabessy, tawanan Kapahaha dibebaskan Belanda pada tanggal 27 Nopember 1664 yang bertepatan dengan bulan Ramadhan. Beberapa tokoh ditahan di Makassar dan Batavia. Sisanya, pulang ke daerah asal. (Maryam Lestaluhu, 1988)
Menurut Kapata Morella, pada perpisahan inilah, kemudian terjadi pukul sapu secara spontan sebagai ungkapan rasa sedih atas perjuangan yang telah berakhir. Perih di badan karena lecutan sapu menjadi perlambang kerasnya perjuangan yang disertai dengan pengorbanan jiwa raga. Kerasnya genggaman serta kuatnya pukulan jadi perlambang tekad kuat untuk tetap menolak semua bentuk penjajahan dan kerjasama dengan Belanda. Usai melakukan pukul sapu, mereka kemudian saling berpelukan, sambil berikrar untuk tetap saling mengingat dan akan bertemu kembali tiap tanggal 7 Syawal. Sejarah Kapahaha inilah yang menjadi latar belakang PS negeri Morella. Sejarah perang Kapahaha ini terus dibaca ulang tiap perayaan dan merupakan pertanda acara puncak PS siap digelar.

NYUALING MATEHU
Lain lagi dengan Mamala, minyak Mamala atau nyualing matehu dijadikan icon. Ketika diketahui bahwa salah satu tiang masjid retak/patah, imam Tuny (Tokoh Agama) bermunajat pada Sang Khalik agar masalah ini terselesaikan. Sesudah mendapat petunjuk melalui mimpi, Imam Tuny kemudian mengoles minyak pada tiang yang retak/patah, kemudian membungkus dengan kain putih. Keesokan hari, retak/patah tersebut sudah tersambung kembali. Dalam mimpinya juga, Imam Tuny mendapat petunjuk bahwa minyak itu dapat digunakan untuk penyembuhan keseleo, patah tulang dll. Khasiat minyak ini (nyualing matehu) kemudian diujicobakan ke tubuh manusia dengan terlebih dahulu dipukul dengan sapu hingga berdarah. Ternyata bekas luka sabetan sapu sembuh hanya dengan olesan nyualing matehu. Keberhasilan ini lalu dirayakan dengan memilih waktu yang tepat, yakni 7 Syawal. (Panduan Pelantikan; 2005)
Proses penyambungan retak/patah tiang dan penyembuhan luka bekas sabetan sapu lidi kemudian menjadikan nyualing matehu sebagai icon dalam perayaan 7 Syawal. Hal ini kita baca pada baliho-baliho milik negeri Mamala yang bertebaran di Kota Ambon, yang mengedepankan perlu pelestarian nyualing matehu sebagai warisan budaya. 

ICON
Icon atau symbol adalah hal penting dalam mengemas satu iven. Masih segar memori kita ketika pemerintah mengkampanyekan Bali sebagai paradise island. Atau Jogja menjadikan Malioboro sebagai salah satu icon parawisata. Di Maluku, kita juga menjual Banda sebagai icon wisata bahari melalui Sail Banda dll.
Lalu dalam mengemas PS, Morella dan Mamala juga butuh icon yang “kuat” dan terus menerus diangkat sehingga masyarakat mengenal pukul sapu dengan icon tersebut.  Mamala sudah tegas menjual icon nyualing matehu, minyak mamala. Tidak afdhal rasanya seorang pengunjung  pulang tanpa membawa minyak tersebut. Bahkan seorang peneliti Inggris Dr. Herbal Thomas, tahun 2008 perlu berjibaku dengan anak Mamala di arena PS  untuk buktikan khasiatnya (Ameks, 2008).
Teman saya seorang perwira yang pernah pertugas di Kodam Pattimura hanya meminta oleh-oleh nyualing matehu bila saya ke Jakarta. Dia justru kaget ketika saya cerita tentang nama Taman Makam Pahlawan Kapahaha yang diambil dari nama bukit benteng Kapahaha di Morella.  Dia makin serius merespon ketika pembicaraan menyinggung Saloka Kodam Pattimura,  Lawa Mena Haulala. Karena Lawa Mena Haulala adalah semboyan perjuangan Kapitan Telukabessy dari Kapahaha yang untuk pertama kali digunakan tahun 1965, namun jarang kita dapati anggota TNI memahami asal semboyan tersebut.
Bagi Negeri Morella mengemas icon Kapahaha untuk iven PS adalah penting. Karena di samping melaksanakan iven adat secara turun temurun,  PS juga memberikan pesan moral kuat tentang pentingnya sikap tegas dalam perjuangan.  Pentingnya membangun  silaturrahmi dengan anak cucu para pejuang Kapahaha yang berasal dari Wawane, Ternate, Seram, Tuban, Makassar dll.
Mengemas iven dengan icon yang kuat, bukanlah hal mudah. Butuh proses panjang dan terus menerus.  Laksana seorang pelari maraton, ia harus memiliki tenaga dan napas panjang serta konsisten menjaga. Begitupun di kedua Negeri, Morella dan Mamala. Mengemas icon Kapahaha dan nyualing matehu butuh semangat dan napas “pelari marathon”.


Fuad Mahfud Azuz
Durian Patah, 4 September 2011

Di Balik Pukul Sapu Lidi Morella


Atraksi Pukul Sapu Lidi Negeri Hausihu Morella (foto: FKSB 2011)
“Apa alasan masyarakat Morella mempertahankan Pukul Sapu Lidi ? Pertanyaan itu kemarin kembali diajukan seorang wartawan yang saya dampingi mengambil sejumlah bahan untuk dipublikasi di Morella. Pertanyaan yang sama tiap tahun diajukan pejabat, wartawan bahkan pengunjung yang sudah berulang-ulang mengikuti prosesi atraksi pukul sapu Morella. Salah seorang penanya adalah Andi Kumala Idjo Karaeng Lembang Parang, putra Raja Gowa terakhir.  Ia diundang dalam kapasitas sebagai perwakilan turunan kapitan dan malesi yang berjuang bersama pada perang Kapahaha tahun 1637 hingga 1646.

MEMAKNAI
Menarik membaca tulisan Faidah. Ia mencoba mendekati PS dari perspektif postcolonialsme. Bahwa pada masyarakat yang pernah dijajah, yang merasa tertindas dan  kemudian memarginalkan diri, ada “teriakan” dan gejolak jiwa yang tak terdengar. Gejoka ini baru bisa terdengar, terbaca, bila dilakukan pemihakan. (Faidah; Ameks, 8 Oktober 2008)
Pembacaan saya terhadap gejolak itu kira-kira terbaca dari cara mereka mensikapi pukul sapu. Pertama, cukup menyelesaikan ritual sebagaimana biasa. Seperti tahun-tahun sebelumnya. Di sini, nampak ada penolakan terhadap unsure baru. Kedua, kesadaran untuk membuka diri, umumnya dimulai dengan mengangkat cerita heroic Perang Kapahaha dan Kepahlawanan Kapitan Telukabessy. Ketiga, ada arus tengah, menyatukan sikap pertama dan kedua secara bersamaan.

ISOLASI
Salah satu sikap masyarakat Morella menolak unsure luar adalah cerita para tetua tentang pemilihan lokasi negeri. Saat kalah perang, semua penduduk di negeri tua (Kapahaha, Iyal Uli, Putilessy dan Ninggareta, lokasi di pebukitan negeri Morella) diharuskan untuk membangun kampong di pesisir pantai oleh Belanda. Awalnya, mereka menetap di Sawatelu yang dibuktikan dengan dua kubur Raja di Sawatelu.
Namun, kehidupan di Sawatelu tidak memberi rasa aman, karena masih memungkinkan Belanda mengontrol, kapal Belanda masih bisa berlabuh depan negeri. Maka dipilih lokasi baru, yang tidak memungkinkan Belanda melabuhkan kapal. Lokasi itu, Morella sekarang.
Di masyarakat ada pemeo, Belanda itu kafir. Label kafir dalam masyarakat tradisional muslim adalah sesuatu hal tabu. Kondisi ini masih terus terjadi walau pemerintah sudah berganti, minimal hingga tahun 70-an.  Sikap tertutup bahkan merambah hingga memilih sekolah untuk anak mereka. Pelajar dan pemuda Morella  memilih bersekolah di madrasah, pesantren atau IAIN.
Morella yang “tertutup”, masih kita rasakan tahun 70-an. Jumlah PNS dan yang mengecap pendidikan umum sangat minim.  Padahal dari segi ekonomi mereka terus berkembang. Pertanian tanaman keras dan perdagangan hasil bumi tumbuh baik. Saat bersamaan mereka justru mengirim anak ke pesantren-pesantren di Makassar dan Jawa (baca; bukan sekolah umum). Sehingga negeri lain menjuluki Morella saat itu sebagai negeri “pali-pali” (negeri tikar, karena banyak berkutat dengan tahlilan dan sejenis). 
Selepas generasi itu (tahun 70-an),  pelajar, mahasiswa Morella baru mulai merambah pendidikan umum. Jumlah yang berminat menjadi PNS dan bersekolah di sekolah/PT umum makin meningkat. Era baru masyarakat Morella sudah dimulai.
Mengapa mereka memilih menutup diri?,  Secara perlahan mulai saya pahami ketika dekat dengan panitia Pukul Sapu, suka kongko-kongko dengan tetua negeri. Kepanitian yang terkesan asal menyelesaikan acara puncak, selesai sudah, menjadi bahan pemikiran saya.  Mungkinkah sikap para leluhur yang tidak mau banyak membuka diri masih mendapat tempat hari ini, pada generasi yang lebih muda?

FORUM KAJIAN SEJARAH
Obor Kapitan Telukabessy (foto: FKSB 2011)
Sisi kedua dalam mensikapi pukul sapu dengan pandangan berbeda, ditunjukkan oleh kelompok muda. Ide-ide segar untuk mengangkat kepahlawanan Kapitan Telukabessy dan heroiknya perang Kapahaha menjadi icon. Umumnya mereka adalah pelajar, mahasiswa dan pemuda yang mulai bersentuhan dengan dunia luar, pendidikan umum atau yang tinggal di luar Morella.
Kelompok masyarakat ini mulai temukan ruh lain dari pukul sapu. Kalau sejak awal, pukul sapu diawali oleh pembakaran obor Kapitan Telukabessy, maka mereka memberikan pemaknaan lebih dari sekedar obor. Obor adalah semangat memperjuangkan kepahlawanan Kapitan Telukabessy.  Pukul sapu, tidak sekedar ritual adat tahunan, lebih dari itu sebagai pemersatu dan jalan menuju pengakuan kebesaran perang Kapahaha.   
Gejolak positif ini dimaknai dengan berbagai kegiatan terstruktur. Pembentukan Forum Kajian Sejarah dan Budaya, diskusi Kepahlawanan Kapitan Telukabessy, membangun jaringan dengan – yang mereka namakan – anak cucu para pejuang Kapahaha, seperti membangun silaturrahmi dengan kerajaan Gowa, dll, membuat teatrikal perang Kapahaha, hingga aktif membuka jaringan dengan media elektronik untuk “menjual” Morella, memberikan pesan jelas bahwa benar mereka sedang berproses.
Teriakan sumbang Morella tentang nama Kapitan Telukabessy yang disalah tulis oleh Pemda Kota Ambon pada nama jalan menjadi Tulukabessy, atau pataka Kodam XVI Pattimura “Lawa Mena Haulala” yang murni digali oleh Nurtawainela cs (tahun 1965) dari pekik perang Telukabessy, yang kini disalah artikan dan dicaplok seakan itu pekik Pattimura, sudah masuk dalam agenda besar mereka. Dan ini saya baca sebagai pemaknaan mereka terhadap obor Kapitan Telukabessy.   
Sampai di sini, nampak  bahwa dengan proses yang sedang dilakoni, hanya menunggu canal, waktu yang pas dan keberpihakan pemerintah. Manakala itu terjadi, tidak mustahil teriakan sumbang akibat isolasi diri, perasaan marginal, lambat laun akan menjadi energy positif. 
Allahu A’lam bish shawab.

Durian Patah,  7 september 2011
Fuad Mahfud Azuz

Dikirim ke Radar via email tgl 7 september 2011

Rabu, 15 Juni 2011

Pohon Yang Terabaikan

Oleh:Fahmi Sialana

Suatu hari pada masa kecilku, seperti layaknya anak kecil yang sedang dalam masa pertumbuhan, aku ingin mencari nuansa baru, mengenal dunia yang sedang aku jalani lalu aku berjalan disepanjang pantai.menelusuri pantai. Sampailah aku di suatu tempat, dibawah pohon Mintanggur yang sudah tua dan sudah teramputasi. Aku duduk sambil menikmati panorama alam nan indah. Sungguh duniaku seperti fatamorgana.

Dari kejauhan di ufuk barat tampak tanjung sial, di seberangnya tampak semenanjung Jazirah Leihitu. Lalu aku berbalik arah memandang tanjung setan, tanjung yang kaya akan pemandangan alam bawah laut beserta biota-biota lautnya, tanjung yang menjadi saksi bisu patriotisme nenek moyangku dalam menghadapi para agresor dari Eropa.

Didepan mata tampak hamparan lautan yang luas dan teduh, seteduh semua orang yang memandangnya. Tak ada ombak,aku sangat menikmati pemandangan itu. Terdengar tiupan angin sepoi-sepoi menggetarkan daun-daun Mintanggur, begitu menggugah sanubariku.

Aku naik dan duduk diatas sebatang pohon mintanggur yang menjulang ke laut. Kudengar kawanan burung kasturi yang sudah hampir punah berkicau tak karuan di ujung ranting pohon besar yang sebagian besar daun-daunnya sudah gugur yang tak jauh dari pantai . Seakan-akan mereka sedang marah-marah melihat dadesu atau perangkap burung yang dipasang oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab. Sambil sesekali memandangi langit. Tampak burung camar terbang melayang dan bersahutan dibalik awan. Sungguh dunia mereka berbeda.

Lalu aku memandang kebawah, memandangi jernihnya air laut. Tampak ikan-ikan kecil bermain diantara bebatuan dan rumput-rumput laut. Sesekali ikan-ikan itu memandang kearahku, kemudian pergi lagi. Aku tak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh ikan-ikan itu. Tak lama kemudian datang kawanan ikan-ikan tadi dan tiba-tiba “PLOK”, buah mintanggur jatuh menembus permukaan air, membentuk gelombang-gelombang kecil, dan tiba-tiba kawanan ikan itupun kalang kabut lari kesana kemari.

Hatiku lalu bertanya-tanya, ada apa dengan ikan ikan itu dan buah mintanggur tadi? apakah ikan-ikan itu menjadi trauma akibat selalu dihantui gelegar BOM IKAN yang telah meluluhlantahkan dunia dan generasi-generasi mereka? Lalu apakah jatuhnya buah mintanggur tadi ibarat air mata yang jatuh menangisi nasibnya yang tidak berdaya, menunggu untuk dimutilasi oleh tangan-tangan manusia yang beralatkan mesin Chainsaw?

Tiba-tiba tampak dari kejauhan terdengar deru mesin pemotonng pohon/Chainsaw meraung–raung membelah kesunyian hutan belantara. Aku kembali teringat akan jatuhnya buah mintanggur tadi, mungkinkah dia sedang menangisi ketidak berdayaannya akibat sering mendengar suara mesin pemotonng pohon tadi?......

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Itulah sekilas kisah yang saya alami saat masa kecilku. Sebagai anak Negeri Morella saya sangat prihatin atas tindakan arogan masyarakat yang sangat tidak menghargai buah tangan nenek moyangnya.

Menurut cerita orang tua-tua dulu di sepanjang pantai morella, berjejeran pohon mintanggur dan seandainya orang-orang dengan perahu mau ke hutan, apalagi dimusim panas, orang akan mendayung di bawah pohon mintanggur untuk menghindari terik matahari. Tapi kenyataan yang ada sekarang, sepanjang pantai yang dulu ditumbuhi pohon mintanggur sudah sangat gersang. Abrasi pantai sudah semakin jauh. Padahal pohon mintanggur merupakan pohon yang sangat kokoh menahan terpaan ombak.

Saya kagum dengan pemikiran nenek moyang dahulu. Daya fikir mereka telah menembus ruang batas dan waktu. Penebangan pohon secara liar bukan saja terjadi ditengah hutan tetapi juga terjadi di sepanjang pantai. Hamparan hijau pohon mintanggur telah hilang, yang ada hanya batang-batang kayu mintanggur kering yang sudah teramputasi, yang jauh dari pantai akibat abrasi. Lalu apakah kita sebagai anak cucu hanya tinggal diam melihat ini semua?

Lalu seandainya pada masa anak cucu kita nanti, cadangan minyak bumi telah habis, apa yang bisa mereka gunakan sebagai bahan bakar penerang rumah? Pada saat itulah mereka akan kembali mengingat akan cerita orang tua mereka tentang pohon yang pernah menjadi andalan nenek moyang mereka.

Dulu minyak tanah sangat terbatas dan mahal lagi pula sulit didapat. Karena itu orang tua-tua dulu menggunakan buah mintanggur sebagai obor/lampu penerang rumah. Dengan cara: Biji dari buahnya digoreng sampai warnanya berubah menjadi merah tua, kemudian ditusuk dengan lidi daun sagu. Satu tusukan bisa menyala hingga semalam suntuk yang hanya terdiri dari 20-30 biji Mintanggur.

Karena pohon mintanggur begitu bermanfaat maka untuk melestarikannya dibuatlah sasi mintanggur, selain sasi kelapa, sasi laut, sasi pala dan sasi hutan lainnya.

Kita bisa berimajinasi untuk mengelompokkan generasi muda dalam tiga kelompok Yaitu: (1) Mereka yang tergerak untuk menghadirkan solusi berbagai problema masyarakat. (2) Mereka yang diam saja dan tak peduli dengan beragam problema itu. (3) Mereka yang menjadi bagian dari problema itu. Bagaimana kita melihat fenomena yang ada? Apakah harus tetap menjadi generasi kelompok kedua? Tentunya tidak, kita seharusnya menjadi bagian dari kelompok yang pertama, agar tercipta kerja sama untuk menanam dan melestarikan pohon Mintanggur.

Sebagian besar wilayah di sepanjang pantai Negeri Morella berpotensi sebagai tempat wisata. Beberapa diantaranya memiliki keindahan dan keunikan pohon Mintanggur yang tidak dapat ditemukan di tempat lain. Misalnya di PANTAI LETAN, lokasi ini masih terdapat pohon Mintanggur yang terawat dengan baik.


Senin, 11 April 2011

Pukul Sapu Ceremony

Tradition at the broom held once a year on 7 Shawwal. This year was held on 8 October. Culture that has survived hundreds of years has its roots in perjuagan Kapitan Telukabessy who led the struggle against the people of Maluku VOC years 1636-1646. After being defeated, Kapitan Telukabessy sentenced to death. His forces then dissolve itself by a broom at.
This tradition is then survived until now in the village of Morella and Mamala, Leihitu District, Central Maluku district, Maluku Province. The youths and adult men participated in at the broom in Morella and Mamala. Participate at the broom is the pride and virility test as a man.
The event was watched by thousands of citizens of the Moluccas and several foreign tourists. Participants were divided into two groups, each consisting of 20 persons. Each fighter stood face to face with fighters from other groups in the middle of the arena-sized lapagan footballs. Every person holding the stick shaft enau to disabetkan. Lidi new replaced if damaged or broken.
The group hit a turn, retreated a few steps to take distance of a stick. Participants from groups opposed to standing, raising his stick above his head and allow the body to disabet stick. When the referee blew the Pluit, participants menyabetkan stick into the opponent’s body accompanied by shouts penggugah spirit.
Sabetan stick, leaving the leather stripes on the waist, chest, and back. Bleeding from the torn skin. Kerenyitan pain looked at the faces of the participants. Turn to hit the switch after the opponent backwards cornered kedekat spectators surrounding the arena.
“In this tradition there is no grudge, because at the broom is a symbol of brotherhood. The fighters from different parts of Maluku, Gowa (South Sulawesi) and Mataram (Java) had united against the invaders here, “said Abdul Kadir Latukau, King Affairs Morella.
The wounds on the body of participants at the broom is a symbol of unity in memory of the fighters under the command of Kapitan Telukabessy.

Sumber: Villas In Bali For Rent News & Articles

Minggu, 10 April 2011

HEAVEN IN THE LAND OF ANCESTORS


Cape satan Morella,Photos: FKSB 2010
Thousand Islands country, ... .... That's the nickname given to the Moluccas, one of Indonesia's eastern tip region has a cluster of islands with diverse cultures, languages ​​and customs and abundant natural resources and matchless beauty.
Of the many scattered villages in the Moluccas, Morella is one of the country that holds a million indigenous strengths and beauty. Located on the Peninsula Leihitu, cheek by jowl with the other two villages namely Home Affairs and State Mamala Liang, located approximately 35.km of Ambon, the capital of Maluku Province. Travel can be taken for 45 minutes by road from downtown Ambon (Terminal red stone).
Besides having abundant natural resources such as fish, cloves, nutmeg, coconut and sago, Morella Affairs also has a wealth of other natural and untouched by the times. Some tourist attractions (marine tours, cultural and natural attractions) which can be found among others the following:
1. Fortress Kapahaha
2. Sawatelu beach
3. Letan beach
4. Tilepuai beach
5. Marine Park
6. Tradition At Broom Sticks

Crazy bamboo attraction,photos:FKSB 2010
Kapahaha Castle is one formed by a natural .fortress located on the headland devil, less 200 m from the beach and within walking distance. Various historical heritage of the fighters and objects old graves can still be found in these places (most have been kept in the house of King / Head of Village).
Sawatelu Beach which is located in the bay sawatelu has beauty but not least when compared with other tourist attractions in the Moluccas. Large-sized sandy beach with stunning natural scenery around could be one option to relieve fatigue after six days carrying out an exhausting routine. The position of the beach which is located on a bend bay sawatelu with adjoining stream to give the feel of its own.
For those of you who like to diving, Along the coast to the promontory sawatelu devil, there is a marine park that is not less beautiful in Bunaken. Marine park has a diverse marine biota. The fish various shapes and colors, clusters of coral-reefs in various forms a charming and various other types of biota.
All three attractions are (Fort Kapahaha, Sawatelu Beach and Marine Park) is located contiguous to each other so that makes it easy for travelers to make choices without having to spend to move the location. Like the saying goes once a row, two of the three islands exceeded. Once visited, three tourist sites visited.
It is said that the story that gave birth to a tradition started when a broom at the release of prisoners occurred in kapahaha by Dutch colonial fort in the bay sawatelu. Surge of excitement as well as compassion mixed with the spirit of patriotism was applied in the form of strike action yourself by using a broom. According to historical records the incident occurred on 7 syawal which later developed into a tradition of seven syawal by local communities for generations. In celebration, other attractions are also displayed at the broom dances Cakalele areas such as dance to the accompaniment of traditional music is also featured attraction of bamboo crazy. In Mad Bamboo spectator attraction given the opportunity to go try a show of force holding the bamboo that has been filled with the spirits of the ancestors by the handler. Surely it can be a special experience for tourists.


Ambon, Saturday, March 2nd, 2011 | By:
Fahmi Sialana

Senin, 14 Maret 2011

Bambu Gila in Morella Village

This a Bambu Gila performance, was taken in September 17th 2010, located in Morella village, the up-northern part of Ambon Island. It is traditionally presented along with other performances on the 7th days after Eid Day, e.g. Pukul Sapu, etc.
Bambu Gila is literally translated as Crazy Bamboo. A very typically Malukan performance, also seen on Ambon but claimed to originate from Ternate. Here several people are holding a long piece of bamboo, which is then made to vehemently move around shaking itself after having some "magic" cast on it with some smoke. Supposedly it moves by itself, and so hard that it's difficult to hold, dragging the people around the arena with itself.
Melanie Wilson, an Australian TV presenter for an Indonesian travel show called Belajar Indonesia had a chance to try it.


Video by:  

Rabu, 09 Maret 2011

Khasiat Getah Jarak Untuk Mengobati Luka Akibat Pukulan Sapu Lidi


Pohon Jarak  sudah dikenal luas oleh masyarakat terutama di wilayah pedesaan sebagai tanaman pembatas pekarangan dan lahan perkebunan, sehingga orang menyebutnya dengan Jarak Pagar.
Tanaman berfamili Euphorbiaceae ini menyebar hampir di seluruh bagian dunia beriklim tropis dan dapat tumbuh di wilayah yang kurang subur serta kering sehingga dapat berperan dalam penghijauan lahan kritis.
Jarak Pagar (Jatropha curcas) atau yang bernama Cina Ma feng shu,  mempunyai banyak manfaat. Saalah satunya yang saat ini hangat dibicarakan adalah potensinya sebagai sumber energi nabati (biofuel). Biji tanaman ini dapat diolah menjadi minyak jarak yang diproyeksikan sebagai bahan bakar alternatif pengganti minyak bumi atau  bahan bakar fosil yang kian menipis ketersediaannya.
Sebelum ramai dimanfaatkan sebagai tanaman penghijauan maupun bahan bakar nabati, secara tradisional jarak pagar sudah digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit luar. Dinantaranya adalah Minyak dari bijinya serta daun yang telah dilumatkan digunakan untuk mengatasi gangguan pada kulit, bengkak, maupun terkilir. Dan getah dari ranting atau daunnya  berkhasiat menghentikan perdarahan akibat luka.
Dr. A. Setiawan Wirian, salah seorang pendiri Himpunan Pengobat Tradisional dan Akupuntur se-Indonesia (HIPTRI) mengatakan jarak pagar juga mampu melancarkan darah (stagnant blood dispelling), menghilangkan bengkak (antiswelling), menghentikan perdarahan (hemostatik), serta menghilangkan gatal (antipruritik). Tanaman ini mengandung n-l-triakontanol, alpha-amirin, kampesterol, stigmast-5-ene-3 beta, 7 alpha-diol, stigmasterol, beta-sitosterol, iso-viteksin, viteksin, 7-keto-beta sitosterol, dan HCN.
Di Negeri Morella Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah, getah daun jarak mempunyai peran khusus sebagai obat tradisional dalam acara adat Pukul Sapu Lidi. Acara yang digelar setiap 7 hari setelah lebaran ini di awali dengan pengumpulan peserta yang terdiri dari para pemuda dengan membawah sapu lidi dan pohon jarak di sebuah rumah adat (Rumah Tua Pesy),  untuk kemudian diarahkan ke arena pementasan di depan masjid Al-Muttaqien Morella. Acara ini merupakan tradisi yang sudah dilaksanakan sejak zaman dahulu kala.
Para pemuda hanya memakai celana pendek dan ikat kepala sebagai pelindung telinga, mereka salin baku pukul dengan menggunakan sapu lidi hingga di setiap tubuh peserta  menjadi luka dan berdarah. Luka akibat pukulan ini sangat banyak, beberapa orang diantara mereka lukanya hampir memenuhi tubuh terutama bagian perut, dada dan punggung.
Usai pementasan mereka lalu berpelukan dan saling mengobati satu sama lain dengan meneteskan getah daun jarak ke luka-luka mereka.
Pengobatan ini dilakukan secara bersamaan, biasanya para penonton dan keluarga yang hadir saat itu turut ambil bagian dengan memetik ranting atau daun jarak yang telah disediakan kemudian mengolesinya ke bagian tubuh yang terluka.
Getah jarak pagar bersifat antimikroba sehingga dapat mengusir bakteri seperti jenis Staphylococcus, Streptococcus, dan  Escherichia coli. Hal ini sangat baik bila digunakan untuk luka. Para peserta pukul sapu lidi mengaku dalam jangka 3-4 hari luka-luka mereka sudah dapat disembuhkan tanpa menggunakan obat-obat yang di beli dari toko. Mereka juga mengaku tidak merasa gatal saat mengolesi getah jarak ke tubuh mereka.
Demikian info ini disampaikan untuk kita semua, bagi yang ingin mengetahui lebih dalam tentang kahasiat Jarak Pagar silahkan kunjungi link-link dibawah ini:
 Semoga Bermanfaat.
 

Senin, 28 Februari 2011

Sekilas Tentang Benteng Kapahaha

Foto FKSB
Oleh : Yusuf Mony, S.Ag

Kapahaha adalah sebuah benteng alam (benteng pertahanan) pada perang Ambon IV (Ruhmpius) atau sering disebut dengan Perangan Kapahaha 1637-1646, letaknya ± 4 KM ke arah utara Pusat Negeri Morella. Sebelum menjadi Benteng Pertahanan tempat ini sudah di huni oleh manusia sejak berabad-abad. Manusia yang menghuni tempat ini berasal dari ula pokol di gunung Salahutu, manusia pertama di Ulapokol tersebut adalah Uka Latu Tapil. Dalam perkembangan selanjutnya anak-anak dari Uka Latu Tapil melakukan perpindahan Ke Amaela (Gunung Kukusan), setelah itu kemudian mereka pindah dan menetap di Kapahaha. Dari waktu ke waktu melalui proses perkawinan maka semakin banyak manusia di tempat ini kemudian mereka membentuk sebuah Aman/Hena (Negeri). Aman (negeri) tersebut terdiri dari beberapa rumah tau yaitu : Rumah Tau Sasole, Rumah Tau Sialana, Rumah Tau Sialana, Rumah Tau Leikawa dan Rumah Tau Manilet. Keemepat rumah tau inilah yang merupakan turunan asli yang menetap di aman (Negeri Lama) Kapahaha. Rumah Tau Manilet adalah turunan dari seorang penyiar agama islam yang berasal dari timur tengah bernama Syekh Qalam Abdul Kahar. Beliau datang sekitar abad ke-8 Masehi dan mengislamkan Penduduk Kapahaha (Tiga Rumah Tau Tsb).
Pada masa-masa selanjutnya Kapaha kemudian menjadi pusat pemerintahan adat dari beberapa negeri sekitar yaitu iyal uli yang berjarak ± 2,5 KM dari Negeri Morella, Ninggareta yang berjarak ± 9 KM dari Negeri Morella, dan Putulesi yang berjarak ± 1,5 KM dari Negeri Morella. Lambang Pemerintahan adat negeri Kapahaha yaitu Burung Manu Saliwangi yang sampai saat ini masih dipakai sebagai lambang pemerintahan adat Negeri Morella, dan Baeleu Tomasiwa sebagai tempat Musyawarah. Sementra itu, pusat keagamaan terletak di Negeri Lama Iyal Uli.
Pada awal abad Ke-17 dimana sebagian benteng Pertahanan di Maluku ditaklukan oleh VOC Belanda, maka semua Kapitan dan Malesi dari Patasiwa-Patalima yang bentengnya sudah di taklukan tersebut bergabung di Kapahaha dan karena letaknya yang strategis maka dijadikanlah sebagai benteng pertahanan perang yang berlangsung selama 9 tahun dengan Kapitan Besarnya Telukabessy (Ahmad Leikawa). perang yang berlangsung sejak tahun 1637 tersebut kemudian berakhir pada tahun 1646 dengan ditaklukannya para pejuang kapahaha oleh kaum penjajah VOC Belanda. Setelah itu Kapitan Telukabessy (Ahmad Leikawa) dihukum dan digantung di bentang Victoria Ambon dan jenazahnya ditenggelamkan di pantai Namalatu-Ambon.
Wai Do,a Selamat (Foto: FKSB)
Rakyat Kapahaha yang tertangkap dalam penaklukan tersebut dikenal dengan masyarakat “Hausihu” yang artinya kobaran api perjuangan. Kapahaha sekarang menjadi saksi bisu perjuangan Kapitan Telukabessy (Ahmad Leikawa). Pada saat ditaklukan Benteng Kapahaha juga dibakar oleh VOC sehingga semua barang atau benda yang ada di Kapahaha saat itu semuanya ikut hangus terbakar, hal ini seperti yang tertuang dalam sebuah Lani/Kapata (Bahasa Tanah) “Elya Kapahaha Lia Putu Mahalisa”, yang Artinya “Kapahaha Habis dilalap Api”. Kini di Benteng Kapahaha hanya tersisa kuburan-kuburan tua, pecahan-pecahan alat rumah tangga serta beberapa buah benda/barang yang sempat diselamatkan. Kapahaha kemudian diabadikan namanya di taman makam pahlawan di Kota Ambon.
Kini Kapahaha juga menjadi objek wisata alam yang mengandung nilai supranatural dan religius. Selain itu, yang mengundang perhatian orang ke Kapahaha adalah sebuah mata air jernih di kaki benteng kapahaha yang bernama Wae Do’a Selamat (Air Doa Selamata) air ini dipercaya memiliki khasiat menyembuhkan berbagai penyakit.

Minggu, 27 Februari 2011

Pantai Tilepuwai Masih “PERAWAN”

Pantai Tilepuwai merupakan salah satu pantai indah yang terletak di Negeri Hausihu Morella kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah tepatnya dibawah kaki Bukit Kapahaha, tak jauh dari Tanjung Setan. Meski belum populer, namun pantai ini kerap dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun manca negara pada setiap hari libur. Keindahannya yang sangat kental dengan nuansa alam menyebabkan pantai ini sangat menarik perhatian setiap orang yang melintas di jalan darat maupun dengan kenderaan laut. Selain panorama pantai yang indah, Tilepuwai juga memiliki potensi keindahan dasar laut. Beberapa penyelam dan photografer yang pernah datang di pantai ini mengatakan terumbu karang dan jenis ikan hias yang ada di dalamnya sangat berpariasi. Di bagian selatan terdapat banyak terumbu karang indah yang berderetan hingga ke tanjung setan, sedangkan sebelah utara juga terdapat terumbu karang indah yang berderet sampai ke Teluk Namanalu (tempat adannya gua laut). Di pesisir pantai banyak terdapat pepohonan besar, pada beberapa tebing bukit tak jauh dari pantai ini nampak beringin-beringin tua yang sering disinggahi burung, sehingga tak heran jika kita berada disana banyak terdengar kicauannya. Saat menjelan sore hari nuansa alami pantai Tilepuwai semakin terasa, suasana ini sangat cocok untuk para pemburu panorama karena beberapa titik dipantai ini dapat dijadikan untuk menikmati Sunset.
Selain keindahan-keindahan fisiknya, pantai tilepuai juga menyimpan sebuah kisah menarik tentunya ini adalah cerita sejarah perang Kapahaha (lihat Kapata Perang Kapahaha). Konon disuatu tempat dalam wilayah Tilepuwai yang bernama Haita Nandaluhu terjadilah suatu peristiwa dramatis antara VOC dan rakyat Kapahaha, kisah ini merupakan awal mula jatuhnya benteng kapahaha. Pada tahun 1646 serdadu belanda menangkap seorang staf ahli penyelidik dari benteng kapahaha yang diutus oleh Kapitan telukabessy untuk memantau di Haita Nandaluhu. Staf ahli ini bernama Yatapori, dia dijebak oleh VOC hingga tak dapat lolos. Saat itu belanda telah mempunyai suatu rencana buruk dengan siasatnya ingin membantu meringankan beban rakyat kapahaha yang sementara dalam penderitaan, yatapori dibujuk untuk menunjukan jalan rahasia menuju benteng kapahaha namun karena dia hanya mengelak tidak tau maka seorang serdadu belanda memberikan sebuah pundi beras yang telah dilubangi untuk Yatapori. Dengan sangat terpaksa Yatapori menerima pundi beras tersebut dan membawahnya pulang sampai ke Benteng Kapahaha. Belandapun menjejaki tumpahan beras dari pundi bawaan Yatapori itu hingga berhujung pada suatu pagi kelabu benteng kapahaha diserang secara tiba-tiba. Selengkapnya tentang kisah ini baca Perang Kapahaha di sini.
Itulah tadi sedikit info tentan pantai Tilepuwai, semoga dapat menginspirasi anda untuk melalan buana kesana.
Info Wisata Murah di pantai Tilepuwai Negeri Morella:
- Jarak dari kota Ambon ± 39 km, dapat ditempuh dengan angkutan umum dalam waktu 1 jam, biaya taraspot Rp. 8.000 sekali jalan/orang
- Jarak dari Pasar Hitu ± 8 km, dapat ditempuh dengan angkutan darat (motor ojek) dalam waktu 15 menit, biaya taraspot Rp. 15.000 sekali jalan/orang.
- Jarak dari pusat Negeri Morella ± 4 km, dapat ditempuh dengan angkutan darat (motor ojek) dalam waktu 5 menit, biaya taraspot Rp. 5.000 sekali jalan/orang, angkutan laut (perahu sampan) dalam waktu 25 menit.
Sebagai pelengkap tulisan ini, berikut adalah beberapa foto panorama di pantai tilepuwai:


Foto-foto ini saya dapat dari seorang Wisatawan asal Jakarta yang bernama FaturViss , dia mengunjungi pantai Tilepuwai pada Februari 2011.
Foto Tilepuwai lainnya dapat anda lihat disini

Jumat, 04 Februari 2011

Surga di Tanah Leluhur



Tanjung Setan Morella, Foto: FKSB 2010
Negeri Seribu Pulau,…….Itulah julukan yang diberikan kepada Maluku, salah satu wilayah diujung timur Indonesia yang memiliki gugusan pulau-pulau dengan beraneka ragam budaya, bahasa maupun adat istiadat dan kekayaan alam yang berlimpah serta keindahan yang tiada tara.
Dari sekian banyak desa yang tersebar di wilayah Maluku, Morella merupakan salah satu negri adat yang menyimpan sejuta kelebihan dan keindahan. Terletak di Jazirah Leihitu, berdamping dengan dua desa lainnya yakni Negeri Mamala dan Negeri Liang, berjarak kurang lebih 35.km dari Kota Ambon, ibukota Propinsi Maluku. Perjalanan dapat ditempun selama 45 menit melalui jalan darat dari pusat kota Ambon (Terminal Batu merah).
Selain memiliki kekayaan alam yang melimpah seperti ikan, cengkih,pala,kelapa dan sagu, Negeri Morella juga memiliki kekayaan alam lain dan belum tersentuh oleh perkembangan zaman. Beberapa objek wisata (Wisata bahari,Budaya dan wisata alam) yang dapat ditemui antara lain sbb :
1.    Benteng Kapahaha
2.    PantaiSawatelu
3.    PantaiLetan
4.    Pantai Tilepuai
5.    Taman Laut
6.    Tradisi Pukul Sapu Lidi
Benteng Kapahaha adalah salah satu benteng yang dibentuk oleh alam terletak di tanjung setan,kurang 200 m dari bibir pantai dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Berbagai peninggalan bersejarah berupa makam2 para pejuang dan benda2 kuno masih dapat dijumpai di tempat tersebut (sebagian besar telah disimpan di rumah Raja/Kepala Desa).
Pantai Sawatelu yang terletak di teluk sawatelu memiliki keindahan yang tidak kalah bila dibandingkan dengan objek wisata lainnya di wilayah Maluku. Pantai berpasir berukuran luas dengan panorama alam sekitar yang memukau dapat menjadi salah satu pilihan untuk melepas kepenatan setelah enam hari melaksanakan rutinitas yang melelahkan. Posisi pantai yang terletak di kelokan teluk sawatelu dengan aliran sungai ditengahnya memberikan nuansa tersendiri.
Bagi anda yang gemar berdiving, Sepanjang pantai sawatelu sampai di tanjung setan, terdapat taman laut yang tidak kalah indahnya dengan Bunaken. Taman laut yang memiliki beraneka ragam biota laut. Ikan-ikan beraneka rupa dan warna, gugusan karang-karang dalam berbagai bentuk yang menawan dan berbagai jenis biota lainnya.
Ketiga objek wisata tersebut (Benteng Kapahaha, Pantai Sawatelu dan Taman Laut) terletak saling berdampingan sehingga memberikan kemudahan bagi para wisatawan untuk menentukan pilihan tanpa harus merogoh kocek untuk berpindah-pindah lokasi. Ibarat kata pepatah sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Sekali berkunjung, tiga lokasi wisata dikunjungi.
Konon kisah yang melahirkan tradisi pukul sapu berawal ketika terjadi pembebasan tahanan di benteng kapahaha oleh kolonial belanda di teluk sawatelu. Luapan kegembiraan sekaligus rasa haru yang bercampur dengan semangat patriotisme diaplikasikan dalam bentuk tindakan memukul diri sendiri dengan menggunakan sapu. Menurut catatan sejarah peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 7 syawal yang kemudian dikembangkan menjadi tradisi 7 syawal oleh masyarakat setempat secara turun temurun. Dalam perayaan tersebut, selain atraksi pukul sapu juga ditampilkan tarian-tarian daerah seperti tari cakalele yang diiringi musik tradisional juga ditampilkan atraksi bambu gila. Dalam atraksi Bambu Gila penonton diberikan kesempatan untuk ikut mencoba unjuk kekuatan memegang bambu yang telah diisi dengan roh-roh para leluhur oleh sang pawang. Tentunya hal tersebut dapat menjadi satu pengalaman tersendiri bagi para wisatawan.


Ambon, Kamis 3 Februari 2011 | By: Fahmi Sialana

Rabu, 26 Januari 2011

Foto Pukul Sapu Lidi Morella dari Tahun ke Tahun

Label :  Atraksi Pukul Sapulidi Morella tahun 2010
Date Picture Taken :  17-09-2010
Author :  Yus Kerubun


Label : Atraksi Pukul Sapu Morella tahun 2009
Date Picture Taken :  27-09-2009
Author :  Fikar Latukau


Label :  Atraksi Pukul Sapu Lidi Morella tahun 2007
Date Picture Taken : 20-10-2007
Author : Affan Leikawa 


Label :  Atraksi Pukul Sapu Lidi Morella tahun 2006
Date Picture Taken : 01-11-2006
Author : Rus Leikawa
Photo Album :  http://hausihupictures.blogspot.com 2010

Label :  Atraksi Pukul Sapu Lidi Morella tahun 2003
Date Picture Taken :    -    -2003
Author :
Photo Album :  http://hausihupictures.blogspot.com 2010


Label :  Atraksi Pukul Sapu Lidi Morella tahun 1995
Date Picture Taken :    -    -1995
Author :
Photo Album :  http://hausihupictures.blogspot.com 2010

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger