Tampilkan postingan dengan label Tradisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tradisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 April 2011

Pukul Sapu Ceremony

Tradition at the broom held once a year on 7 Shawwal. This year was held on 8 October. Culture that has survived hundreds of years has its roots in perjuagan Kapitan Telukabessy who led the struggle against the people of Maluku VOC years 1636-1646. After being defeated, Kapitan Telukabessy sentenced to death. His forces then dissolve itself by a broom at.
This tradition is then survived until now in the village of Morella and Mamala, Leihitu District, Central Maluku district, Maluku Province. The youths and adult men participated in at the broom in Morella and Mamala. Participate at the broom is the pride and virility test as a man.
The event was watched by thousands of citizens of the Moluccas and several foreign tourists. Participants were divided into two groups, each consisting of 20 persons. Each fighter stood face to face with fighters from other groups in the middle of the arena-sized lapagan footballs. Every person holding the stick shaft enau to disabetkan. Lidi new replaced if damaged or broken.
The group hit a turn, retreated a few steps to take distance of a stick. Participants from groups opposed to standing, raising his stick above his head and allow the body to disabet stick. When the referee blew the Pluit, participants menyabetkan stick into the opponent’s body accompanied by shouts penggugah spirit.
Sabetan stick, leaving the leather stripes on the waist, chest, and back. Bleeding from the torn skin. Kerenyitan pain looked at the faces of the participants. Turn to hit the switch after the opponent backwards cornered kedekat spectators surrounding the arena.
“In this tradition there is no grudge, because at the broom is a symbol of brotherhood. The fighters from different parts of Maluku, Gowa (South Sulawesi) and Mataram (Java) had united against the invaders here, “said Abdul Kadir Latukau, King Affairs Morella.
The wounds on the body of participants at the broom is a symbol of unity in memory of the fighters under the command of Kapitan Telukabessy.

Sumber: Villas In Bali For Rent News & Articles

Rabu, 09 Maret 2011

Khasiat Getah Jarak Untuk Mengobati Luka Akibat Pukulan Sapu Lidi


Pohon Jarak  sudah dikenal luas oleh masyarakat terutama di wilayah pedesaan sebagai tanaman pembatas pekarangan dan lahan perkebunan, sehingga orang menyebutnya dengan Jarak Pagar.
Tanaman berfamili Euphorbiaceae ini menyebar hampir di seluruh bagian dunia beriklim tropis dan dapat tumbuh di wilayah yang kurang subur serta kering sehingga dapat berperan dalam penghijauan lahan kritis.
Jarak Pagar (Jatropha curcas) atau yang bernama Cina Ma feng shu,  mempunyai banyak manfaat. Saalah satunya yang saat ini hangat dibicarakan adalah potensinya sebagai sumber energi nabati (biofuel). Biji tanaman ini dapat diolah menjadi minyak jarak yang diproyeksikan sebagai bahan bakar alternatif pengganti minyak bumi atau  bahan bakar fosil yang kian menipis ketersediaannya.
Sebelum ramai dimanfaatkan sebagai tanaman penghijauan maupun bahan bakar nabati, secara tradisional jarak pagar sudah digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit luar. Dinantaranya adalah Minyak dari bijinya serta daun yang telah dilumatkan digunakan untuk mengatasi gangguan pada kulit, bengkak, maupun terkilir. Dan getah dari ranting atau daunnya  berkhasiat menghentikan perdarahan akibat luka.
Dr. A. Setiawan Wirian, salah seorang pendiri Himpunan Pengobat Tradisional dan Akupuntur se-Indonesia (HIPTRI) mengatakan jarak pagar juga mampu melancarkan darah (stagnant blood dispelling), menghilangkan bengkak (antiswelling), menghentikan perdarahan (hemostatik), serta menghilangkan gatal (antipruritik). Tanaman ini mengandung n-l-triakontanol, alpha-amirin, kampesterol, stigmast-5-ene-3 beta, 7 alpha-diol, stigmasterol, beta-sitosterol, iso-viteksin, viteksin, 7-keto-beta sitosterol, dan HCN.
Di Negeri Morella Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah, getah daun jarak mempunyai peran khusus sebagai obat tradisional dalam acara adat Pukul Sapu Lidi. Acara yang digelar setiap 7 hari setelah lebaran ini di awali dengan pengumpulan peserta yang terdiri dari para pemuda dengan membawah sapu lidi dan pohon jarak di sebuah rumah adat (Rumah Tua Pesy),  untuk kemudian diarahkan ke arena pementasan di depan masjid Al-Muttaqien Morella. Acara ini merupakan tradisi yang sudah dilaksanakan sejak zaman dahulu kala.
Para pemuda hanya memakai celana pendek dan ikat kepala sebagai pelindung telinga, mereka salin baku pukul dengan menggunakan sapu lidi hingga di setiap tubuh peserta  menjadi luka dan berdarah. Luka akibat pukulan ini sangat banyak, beberapa orang diantara mereka lukanya hampir memenuhi tubuh terutama bagian perut, dada dan punggung.
Usai pementasan mereka lalu berpelukan dan saling mengobati satu sama lain dengan meneteskan getah daun jarak ke luka-luka mereka.
Pengobatan ini dilakukan secara bersamaan, biasanya para penonton dan keluarga yang hadir saat itu turut ambil bagian dengan memetik ranting atau daun jarak yang telah disediakan kemudian mengolesinya ke bagian tubuh yang terluka.
Getah jarak pagar bersifat antimikroba sehingga dapat mengusir bakteri seperti jenis Staphylococcus, Streptococcus, dan  Escherichia coli. Hal ini sangat baik bila digunakan untuk luka. Para peserta pukul sapu lidi mengaku dalam jangka 3-4 hari luka-luka mereka sudah dapat disembuhkan tanpa menggunakan obat-obat yang di beli dari toko. Mereka juga mengaku tidak merasa gatal saat mengolesi getah jarak ke tubuh mereka.
Demikian info ini disampaikan untuk kita semua, bagi yang ingin mengetahui lebih dalam tentang kahasiat Jarak Pagar silahkan kunjungi link-link dibawah ini:
 Semoga Bermanfaat.
 

Rabu, 09 Februari 2011

Video: Atraksi Pukul Sapu Lidi Morella 2008



Budaya Maluku kekayaan Nusantara, Tradisi ini dilaksanakan setiap 7 hari setelah lebaran di Negeri Morella Kabupaten Maluku Tengah untuk mengenang perjuangan di Bentang Kapahaha Jazirah Leihitu yang dipimpin oleh Kapitan Telukabessy. Pada perayaan di tahun 2008 ini pukulan penghormatan yang biasanya untuk mengawali acara di lakukan oleh Putra Mahkota Kerajaan Gowa: Andi Kumala Ijo Daeng Sila Karaeng Lembang Parang & Ir.Hamzah Sangadji serta sejumlah Pejabat di Maluku.

Selasa, 08 Februari 2011

Video: Atraksi CAKALELE Negeri Morella (2008)


Atraksi Cakalele Maluku memperkaya budaya Nusantara. Keberanian dan kelincahan serta semangat berjuang diolah padukan dalam sebuah gerakan seni dengan ciri khas anak adat.
Di Negeri Morella Kec.Leihitu, atraksi ini digelar setiap tahun pada saat perayaan acara adat 7 Syawal (Pukul Sapu Lidi).

Jumat, 04 Februari 2011

Surga di Tanah Leluhur



Tanjung Setan Morella, Foto: FKSB 2010
Negeri Seribu Pulau,…….Itulah julukan yang diberikan kepada Maluku, salah satu wilayah diujung timur Indonesia yang memiliki gugusan pulau-pulau dengan beraneka ragam budaya, bahasa maupun adat istiadat dan kekayaan alam yang berlimpah serta keindahan yang tiada tara.
Dari sekian banyak desa yang tersebar di wilayah Maluku, Morella merupakan salah satu negri adat yang menyimpan sejuta kelebihan dan keindahan. Terletak di Jazirah Leihitu, berdamping dengan dua desa lainnya yakni Negeri Mamala dan Negeri Liang, berjarak kurang lebih 35.km dari Kota Ambon, ibukota Propinsi Maluku. Perjalanan dapat ditempun selama 45 menit melalui jalan darat dari pusat kota Ambon (Terminal Batu merah).
Selain memiliki kekayaan alam yang melimpah seperti ikan, cengkih,pala,kelapa dan sagu, Negeri Morella juga memiliki kekayaan alam lain dan belum tersentuh oleh perkembangan zaman. Beberapa objek wisata (Wisata bahari,Budaya dan wisata alam) yang dapat ditemui antara lain sbb :
1.    Benteng Kapahaha
2.    PantaiSawatelu
3.    PantaiLetan
4.    Pantai Tilepuai
5.    Taman Laut
6.    Tradisi Pukul Sapu Lidi
Benteng Kapahaha adalah salah satu benteng yang dibentuk oleh alam terletak di tanjung setan,kurang 200 m dari bibir pantai dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Berbagai peninggalan bersejarah berupa makam2 para pejuang dan benda2 kuno masih dapat dijumpai di tempat tersebut (sebagian besar telah disimpan di rumah Raja/Kepala Desa).
Pantai Sawatelu yang terletak di teluk sawatelu memiliki keindahan yang tidak kalah bila dibandingkan dengan objek wisata lainnya di wilayah Maluku. Pantai berpasir berukuran luas dengan panorama alam sekitar yang memukau dapat menjadi salah satu pilihan untuk melepas kepenatan setelah enam hari melaksanakan rutinitas yang melelahkan. Posisi pantai yang terletak di kelokan teluk sawatelu dengan aliran sungai ditengahnya memberikan nuansa tersendiri.
Bagi anda yang gemar berdiving, Sepanjang pantai sawatelu sampai di tanjung setan, terdapat taman laut yang tidak kalah indahnya dengan Bunaken. Taman laut yang memiliki beraneka ragam biota laut. Ikan-ikan beraneka rupa dan warna, gugusan karang-karang dalam berbagai bentuk yang menawan dan berbagai jenis biota lainnya.
Ketiga objek wisata tersebut (Benteng Kapahaha, Pantai Sawatelu dan Taman Laut) terletak saling berdampingan sehingga memberikan kemudahan bagi para wisatawan untuk menentukan pilihan tanpa harus merogoh kocek untuk berpindah-pindah lokasi. Ibarat kata pepatah sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Sekali berkunjung, tiga lokasi wisata dikunjungi.
Konon kisah yang melahirkan tradisi pukul sapu berawal ketika terjadi pembebasan tahanan di benteng kapahaha oleh kolonial belanda di teluk sawatelu. Luapan kegembiraan sekaligus rasa haru yang bercampur dengan semangat patriotisme diaplikasikan dalam bentuk tindakan memukul diri sendiri dengan menggunakan sapu. Menurut catatan sejarah peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 7 syawal yang kemudian dikembangkan menjadi tradisi 7 syawal oleh masyarakat setempat secara turun temurun. Dalam perayaan tersebut, selain atraksi pukul sapu juga ditampilkan tarian-tarian daerah seperti tari cakalele yang diiringi musik tradisional juga ditampilkan atraksi bambu gila. Dalam atraksi Bambu Gila penonton diberikan kesempatan untuk ikut mencoba unjuk kekuatan memegang bambu yang telah diisi dengan roh-roh para leluhur oleh sang pawang. Tentunya hal tersebut dapat menjadi satu pengalaman tersendiri bagi para wisatawan.


Ambon, Kamis 3 Februari 2011 | By: Fahmi Sialana

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger