Tampilkan postingan dengan label Jazirah Leihitu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jazirah Leihitu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 November 2011

Membangun Negeri dengan adat… “Tulehu Melakukan Ritual Abda’u – Morella Melantungkan Tun Teha Usai”

Sebuah catatan bersama MPC
 

Luar biasa perjalanan kemaring sangat melelahkan, tapi itu bukanlah suatu penyesalan untukku. Minggu 6 November 2011, usai sholat idhul kurban saya bersama dengan teman-teman MPC ( Maluku Photo Club) melakukan Hunting bersama di Negeri Tulehu yang jaraknya tidak jauh dari Pusat kota Ambon.
Negeri Tulehu yang juga merupakan ibu kota kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah ini terletak 25 Km sebelah utara Kota Ambon, seperti masyarakat Muslim lain pada umumnya, Negeri Tulehu juga melakukan perayaan Hari raya idul Adha, Uniknya di Negeri Tulehu selain adanya penyembelihan hewan kurban mereka juga melakukan upacara ritual Kaul Negeri yakni proses pengkaulan hewan kurban, Abda’u dan hadrat, yang menurut sejarahnya sudah dilakukan sekitar tahun 1600 M,
Proses Pengkaulan hewan kurban dilaksanakan dirumah Masjid Jami Tulehu oleh Ibu-ibu selanjutnya dikapankan dengan kain putih atau dalam bahasa Tulehu yaitu Kain Salele, diantarkan kerumah raja untuk selanjutnya diarak keliling negeri, alunan zikir dan salawat Nabi pun mengiringi langkah demi langkah menuju pelataran Masjid raya Tulehu untuk dilakukan penyembelihan.
Tidak sampai disitu saja Nampak pemandangan unik tersebut, saya juga dikagetkan dengan datangnya sekelompok pemuda dengan berbaju putih serta ikatan putih dikepala masing-masing berkumpul di depan rumah Raja Negeri Tulehu sambil Berteriak Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, benar-benar bikin merinding, saya langsung menghampiri salah seorang warga Tulehu untuk menanyakan ritual tersebut, dan dia pun menjelaskan bahwa inilah Abda’u.
Setelah mendapat sedikit penjelasan serta menyaksikan langsung ritual tersebut saya pun bergegas untuk lebih dekat menghampiri Rumah Raja Negeri Tulehu, sesampai disana ternyata John Saleh Ohorella yang tak lain merupakan Raja Tulehu sedang memberikan arahan dan nasehat kepada pemuda-pemuda yang akan melakukan Abda’u tersebut , dan saya pun turut mendengarkannya, sambil berdiam diri sempat terpikirkan dalam benak saya bahwa begitu kayanya Bangsa Indonesia akan budaya serta adat istiadat, khususnya di Maluku hampir disetiap desa/Negeri memiliki kekayaan budayanya masing-masing, misalnya Tulehu adanya Abda’u, Mamala- Morella melaksanakan Atraksi Pukul Sapu Lidi, Pelau dengan ritual cakalele (mengiris tubuh sendiri) atau dalam bahasa tanahnya Ma’atenu, dan masih banyak lagi adat istiadat Maluku, benar-benar luar biasa, budaya inilah yang justru jadi daya tarik para pengujung untuk datang ke Negeri tersebut.
Usai mendengarkan arahan dari Raja Tulehu, para pemuda tersebut langsung melakukan Abda’u dengan berebutan Benderah Hijau yang bertuliskan Laillaha Illah Muhammaddarussallah, sambil melantungkan takbir Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, jika ada pemuda yang bisa mendapatkan bendera itu maka diciumnya bendera tersebut dengan penuh semangat kemudian dikibarkan lagi walau tubuhnya harus ditarik oleh pemuda lainnya, asalkan Bendera tersebut tetap diatas dan tidak boleh bersentuhan dengan tanah.
Abda’u sendiri berasal dari kata Abada yang artinya Ibadah yang bermakna pengabdian seorang Hamba pada Sang Halik. Atraksi dinamis yang dilakoni oleh ratusan pemuda itu saling berdesak-desakan, bahu membahu merebut bendera untuk diangkat setinggi-tingginya, merupakan refleksi pengakuan kehambaan yang tulus dalam menerima Islam sebagai agama yang diyakini, untuk tetap lestari dan abadi dibumi Haturessy, sementara Bendera yang berwarna hijau tersebut melambangkan kesuburan dengan tulisan LAILAHA ILLAH MUHAMMADARRSULULLAH, berwarna kuning emas melambangkan kemakmuran dan kejayaan.
Siang itu, cuaca cukup bersahabat untuk kami, tidak hujan namun juga tidak begitu panas, Alunan zikir, tahlil, salawat serta takbir bergema di bumi Tuiruhui (Tulehu), semua jalan di padati masyarakat lokal maupun interlokal. Sementara itu, teman-teman MPC lainnya tengah sibuk dengan kameranya masing-masing untuk mendokumentasikan moment tersebut. Begitu meriahnya perayaan hari raya idhul Adha 2011 di Negeri Tulehu, dengan dipentaskannya beberapa atraksi dan carnaval budaya lainnya, sangat menghibur dan berkesan bagi setiap yang berkunjung.

Tun Teha Usai
Tun Tun Tun Teha usai e..
Marika asing jawa pamatere pipi waing..
Tun Tun Tun Teha usai e..
Marika asing jawa pamatere pipi waing..
Itulah sebait lagu daerah dari Negeri Morella, Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah.
Usai menyaksikan ritual Abda’u di Negeri Tulehu, kami pun pulang ketempat masing-masing, keesokan harinya belum juga selesai tidur panjang ku.. sudah terdengar nyanyian anak-anak negeri dengan memukul rebana sambil berhenti disetiap rumah warga untuk mengambil sumbangan bumbu masakan daging hewan kurban, dengan tetap menyanyikan lagu Tun Tun Tun Teha usai e Marika asing jawa pamatere pipi waing. Warga pun sudah siap dan ikhlas memberikan sumbangan bumbu masakan kepada anak-anak tersebut, bahkan ada yang menyumbangkan kayu bakar, setelah semuanya terkumpul barulah anak-anak tersebut menyerahkan kepada panitia Hewan Kurban, yang kemudian digunakan untuk memasak daging hewan kurban yang sudah disembelih pada saat Idhul Adha tersebut. Sangat lucu, menggelitik bila melihatnya, saya jadi kebayang masa kecil dulu. Namun Tradisi ini hanya bisa dilakukan setahun sekali di Negeri Morella, sehari setelah perayaan hari raya Idhul Adha.
Itulah sedikit cerita tentang tradisi dan budaya yang sampai sekarang masih dilakukan oleh masyarakat adat di Negeri Raja-Raja (Al-Mulk) Maluku Manise..
========================********************==========================
Sumber/penulis: Rusda Leikawa 

Jumat, 09 September 2011

Negeri Lama “IYAL ULY” Morella

Bekas Pondasi Masjid di Iyal Uli (foto: FKSB 2006)
Iyal Uly merupakan salah satu negeri lama di Negeri Morella yang dikenal sebagai pusat keagamaan, dan letaknya  ± 2,5 km ke arah selatan Negeri Morella.

Negeri Morella terbagi dalam 3 soa,  masing-masing terdiri dari beberapa rumah tau dan dipimpin  oleh seorang  Kepala Soa. pembagian mata rumah tau untuk setiap soa berdasarkan asal negeri lama salah satunya adalah negeri lama Iyal Uly.
Soa Iyal Uly  atau biasa disebut Soa Hatalesy terdiri atas lima marga yaitu Tawainlatu, Latulanit, Wakang, Lauselang dan Pical dengan kepala soa disebut Ela Hatumena dari marga Tawainlatu.

Negeri Morella sebagai satu Negeri Adat yang terletak di daratan jazirah leihitu memiliki latar belakang sejarah dan budaya yang sangat menarik untuk dikaji, salah satunya  adalah dari sudut pandang perkembangan islam. Negeri Morella adalah salah satau daerah penyebaran islam di wilayah jazirah leihitu, hal ini terbukti dengan adanya peninggalan-peninggalan peradaban islam dahulu kala yang masih dapat ditemukan sampai saat ini.

Masuknya agama islam di Negeri Morella dimulai sejak abad ke-8 M yang dibawakan oleh penyiar islam dari timur tengah. Karena lepas dari percaturan politik yang terjadi pada zaman mu’awiyah di timur tengah, para mubaligh telah keluar membuka ekspansi dakwahnya, baik yang terpancar melalui gaungnya kerajaan Sriwijaya di Asia Tenggara maupun dinasti Tang di Negeri Cina.

Pesatnya perkembangan islam di Negeri Morella pada waktu itu, menjadikan masyarakatnya yang religius dan taat beribadah. pada saat terjadi perlawanan terhadap bangsa kolonial Belanda di Benteng Kapahaha, semangat perlawanan yang dipimpin oleh Kapitan Telukabessy (Ahmad Leikawa) pada waktu itu sangat berapi-api karena dipengaruhi oleh ajaran jihad fi sabilillah yaitu jihad di jalan Allah melawan para kaum kafir (Belanda), hal ini sebagaimana yang diceritakan  oleh Imam Rijali dalam Hikayat Tanah Hitu.

Sementara itu, karna Iyal Uly sebagai pusat keagamaan maka sampai saat ini di Negeri Morella para pengrus masjid atau dalam istilah masyarakat Negeri Morella disebut “Parenta” seperti imam, khatib, modin dsb, adalah orang-orang dari keturunan leluhur yang pernah tinggal di Negeri lama Iyal Uly yakni  salah satunya adalah marga wakang yang dijuluki dengan sebutan Pesy  yaitu orang yang menduduki jabatan tertinggi di mesjid (penguasa mesjid atau pengarah pengurus mesjd), dan Latulanit / Lauselang sebagai imam dan khatib.
Jejak perkembangan islam di Iyal Uly sebagai pusat keagamaan pada masa itu masih dapat ditemukan sampai saat ini yaitu berupa pondasi masjid tua Iyal Uly dan “halwat” yaitu tempat yang digunakan oleh para penyiar islam untuk meminta petunjuk Allah. selain itu, beberapa mushaf al-qur’an tua yang ditulis dengan tangan juga masih dapat ditemukan sampai sekarang.

Peninggalan-peninggalan  tersebut sampai saat ini memang masih dapat temukan namun kondisinya kian hari semakin memprihatinkan. Lingkungan yang kurang menudukung baik dari fakor alam maupun manusia membuat benda-benda tersebut hampir punah. Hal ini tentunya sangat disayangkan  mengingat tingginya nilai historis yang dimilikinya. Sampai saat ini memang belum ada langkah-langkah penanganan khusus dari pihak-pihak terkait utamanya pemerintah terhadap benda-benda bersejarah tersebut, meskipun demikian langkah-langkah perawatan seadanya sampai kini masih tetap dilakukan oleh masyarakat meskipun hal itu tidak terlalu maksimal mengingat keadaan masyarakat yang serba terbatas.

Harapan kita semoga saja kesadaran semua pihak untuk tetap melestarikan benda-benda bersejarah tersebut tidak pudar dimakan zaman, agar ia akan selalau bercerita kepada generasi mendatang atas perjuangan dan pengorbanan leluhur serta spirit islam yang pernah membangkitkan negeri ini. amin.


FKSB 2011

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger