Tampilkan postingan dengan label BUDAYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUDAYA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Agustus 2014

MEMBACA PUKUL SAPU NAGRI MORELLA



Foto Atraksi Pukul Sapu Lidi Negeri Morella 2014 (Rus)
Pukul sapu (PS) adalah budaya turun temurun yang dilakukan masyarakat di dua nagri bertetangga, Mamala dan Morella setiap tahun pada hari kedelapan Syawal. Dalam tulisan ini saya hanya akan menulis tentang pukul sapu di nagri Morella, karena beberapa hal yang menurut saya penting untuk dikaji lebih jauh lagi. Tulisan ini baru sekedar menggelitik rasa ingin tahu makanya tidak untuk menjawab tuntas. Ada beberapa pertanyaan yang saya kemukakan adalah bagian dari tugas kita bersama termasuk akademisi untuk menggali lebih jauh budaya PS.

Rabu, 09 November 2011

Membangun Negeri dengan adat… “Tulehu Melakukan Ritual Abda’u – Morella Melantungkan Tun Teha Usai”

Sebuah catatan bersama MPC
 

Luar biasa perjalanan kemaring sangat melelahkan, tapi itu bukanlah suatu penyesalan untukku. Minggu 6 November 2011, usai sholat idhul kurban saya bersama dengan teman-teman MPC ( Maluku Photo Club) melakukan Hunting bersama di Negeri Tulehu yang jaraknya tidak jauh dari Pusat kota Ambon.
Negeri Tulehu yang juga merupakan ibu kota kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah ini terletak 25 Km sebelah utara Kota Ambon, seperti masyarakat Muslim lain pada umumnya, Negeri Tulehu juga melakukan perayaan Hari raya idul Adha, Uniknya di Negeri Tulehu selain adanya penyembelihan hewan kurban mereka juga melakukan upacara ritual Kaul Negeri yakni proses pengkaulan hewan kurban, Abda’u dan hadrat, yang menurut sejarahnya sudah dilakukan sekitar tahun 1600 M,
Proses Pengkaulan hewan kurban dilaksanakan dirumah Masjid Jami Tulehu oleh Ibu-ibu selanjutnya dikapankan dengan kain putih atau dalam bahasa Tulehu yaitu Kain Salele, diantarkan kerumah raja untuk selanjutnya diarak keliling negeri, alunan zikir dan salawat Nabi pun mengiringi langkah demi langkah menuju pelataran Masjid raya Tulehu untuk dilakukan penyembelihan.
Tidak sampai disitu saja Nampak pemandangan unik tersebut, saya juga dikagetkan dengan datangnya sekelompok pemuda dengan berbaju putih serta ikatan putih dikepala masing-masing berkumpul di depan rumah Raja Negeri Tulehu sambil Berteriak Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, benar-benar bikin merinding, saya langsung menghampiri salah seorang warga Tulehu untuk menanyakan ritual tersebut, dan dia pun menjelaskan bahwa inilah Abda’u.
Setelah mendapat sedikit penjelasan serta menyaksikan langsung ritual tersebut saya pun bergegas untuk lebih dekat menghampiri Rumah Raja Negeri Tulehu, sesampai disana ternyata John Saleh Ohorella yang tak lain merupakan Raja Tulehu sedang memberikan arahan dan nasehat kepada pemuda-pemuda yang akan melakukan Abda’u tersebut , dan saya pun turut mendengarkannya, sambil berdiam diri sempat terpikirkan dalam benak saya bahwa begitu kayanya Bangsa Indonesia akan budaya serta adat istiadat, khususnya di Maluku hampir disetiap desa/Negeri memiliki kekayaan budayanya masing-masing, misalnya Tulehu adanya Abda’u, Mamala- Morella melaksanakan Atraksi Pukul Sapu Lidi, Pelau dengan ritual cakalele (mengiris tubuh sendiri) atau dalam bahasa tanahnya Ma’atenu, dan masih banyak lagi adat istiadat Maluku, benar-benar luar biasa, budaya inilah yang justru jadi daya tarik para pengujung untuk datang ke Negeri tersebut.
Usai mendengarkan arahan dari Raja Tulehu, para pemuda tersebut langsung melakukan Abda’u dengan berebutan Benderah Hijau yang bertuliskan Laillaha Illah Muhammaddarussallah, sambil melantungkan takbir Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, jika ada pemuda yang bisa mendapatkan bendera itu maka diciumnya bendera tersebut dengan penuh semangat kemudian dikibarkan lagi walau tubuhnya harus ditarik oleh pemuda lainnya, asalkan Bendera tersebut tetap diatas dan tidak boleh bersentuhan dengan tanah.
Abda’u sendiri berasal dari kata Abada yang artinya Ibadah yang bermakna pengabdian seorang Hamba pada Sang Halik. Atraksi dinamis yang dilakoni oleh ratusan pemuda itu saling berdesak-desakan, bahu membahu merebut bendera untuk diangkat setinggi-tingginya, merupakan refleksi pengakuan kehambaan yang tulus dalam menerima Islam sebagai agama yang diyakini, untuk tetap lestari dan abadi dibumi Haturessy, sementara Bendera yang berwarna hijau tersebut melambangkan kesuburan dengan tulisan LAILAHA ILLAH MUHAMMADARRSULULLAH, berwarna kuning emas melambangkan kemakmuran dan kejayaan.
Siang itu, cuaca cukup bersahabat untuk kami, tidak hujan namun juga tidak begitu panas, Alunan zikir, tahlil, salawat serta takbir bergema di bumi Tuiruhui (Tulehu), semua jalan di padati masyarakat lokal maupun interlokal. Sementara itu, teman-teman MPC lainnya tengah sibuk dengan kameranya masing-masing untuk mendokumentasikan moment tersebut. Begitu meriahnya perayaan hari raya idhul Adha 2011 di Negeri Tulehu, dengan dipentaskannya beberapa atraksi dan carnaval budaya lainnya, sangat menghibur dan berkesan bagi setiap yang berkunjung.

Tun Teha Usai
Tun Tun Tun Teha usai e..
Marika asing jawa pamatere pipi waing..
Tun Tun Tun Teha usai e..
Marika asing jawa pamatere pipi waing..
Itulah sebait lagu daerah dari Negeri Morella, Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah.
Usai menyaksikan ritual Abda’u di Negeri Tulehu, kami pun pulang ketempat masing-masing, keesokan harinya belum juga selesai tidur panjang ku.. sudah terdengar nyanyian anak-anak negeri dengan memukul rebana sambil berhenti disetiap rumah warga untuk mengambil sumbangan bumbu masakan daging hewan kurban, dengan tetap menyanyikan lagu Tun Tun Tun Teha usai e Marika asing jawa pamatere pipi waing. Warga pun sudah siap dan ikhlas memberikan sumbangan bumbu masakan kepada anak-anak tersebut, bahkan ada yang menyumbangkan kayu bakar, setelah semuanya terkumpul barulah anak-anak tersebut menyerahkan kepada panitia Hewan Kurban, yang kemudian digunakan untuk memasak daging hewan kurban yang sudah disembelih pada saat Idhul Adha tersebut. Sangat lucu, menggelitik bila melihatnya, saya jadi kebayang masa kecil dulu. Namun Tradisi ini hanya bisa dilakukan setahun sekali di Negeri Morella, sehari setelah perayaan hari raya Idhul Adha.
Itulah sedikit cerita tentang tradisi dan budaya yang sampai sekarang masih dilakukan oleh masyarakat adat di Negeri Raja-Raja (Al-Mulk) Maluku Manise..
========================********************==========================
Sumber/penulis: Rusda Leikawa 

Jumat, 09 September 2011

Prosesi Adat Pernikahan di Negeri Morella

Seperti biasa proses pernikahan masyarakat muslim pada umumnya di awali dengan proses peminangan, begitu juga dengan Negeri Morella. 

PEMINANGAN
Di Negeri Morella Peminangan di laksanakan atas persetujuan dari kedua belapihak terlebih dahulu yang di hadiri oleh paman dan bibi dari kedua belapihak sebanyak 12 orang yang terdiri dari 6 orang  dari pihak laki-laki (3 paman dan 3 bibi) demikian juga dari pihak perempuan, sekaligus dengan perundingan untuk penetapan tanggal pernikahan dan penentuan saudara  kawin dan saudara makan telur.
Saudara kaweng adalah seorang laki-laki pendamping pengantin yang memiliki hubungan keluarga dengan mempelai perempuan dan biasanya di panggil oleh pengantin laki-laki dengan sebutan kauu dan di panggil pengantin perempuan dengan sebutan le’uu.
Saudara makan telur adalah seorang perempuan yang juga memiliki hubungan keluarga dengan mempelai laki-laki. Kemudian calon mempelai perempuan di antar kerumah pihak laki-laki 1 minggu sebelum hari pernikahan, dengan tujuan agar calon mempelai perempuan mengenal secara keseluruhan silsilah keluarga pihak laki- laki atau dalam kata lain perkenalan dengan seluruh anggota keluarga,biasanya pelaksanaannya di sore hari sekitar jam 4 sore ( matahari masuk).  akan tetapi sebelum keluar dari rumah atau kediyaman mempelai perempuan di adakan pernikahan siri terlebih dahulu atau dalam bahasa negeri morella di sebut nikah spele yang bertempat di kediyaman calon mempelai perempuan dengan maksud untuk mengesahkan hubungan kedua mempelai.



PERSIAPAN RESEPSI
Sebelum ijab qabul di laksanakan terlebih dahulu kedua calon mempelai beserta kedua pendamping di kembalikan ke rumah pihak perempuan untuk persiapan resepsi pernikahannya , kemudian di hadiri oleh penghulu guna untuk mengambil wali nikah dan memastikan kesiapan kedua bela pihak terkait.

ARUDENDANG
Arudendang adalah suatu jenis tradisi/ adat yang di laksanakan pada saat pengantaran penganting ke lokasi resepsi pernikahan dengan berjalan kaki dan di iringi nyanyian-nyanyian adat dengan musik tradisional yang hanya menggunakan rebana , sekaligus dengan mebawakan sirih pinang.
Sebelum penganting keluar dari rumah di adakan beberapa prosesi adat terlebih dahulu yaitu :
  • Pengantin perempuan membasuh ( membersihkan ) kaki pendamping laki-laki atau biasa di sebut saudara   kaweng
  • Dilakukan isyarat dengan memasukan selempang kain ke kepala pengantin perempuan atau biasa di sebut lahat yang di lakukan oleh biang dengan maksud agar pengantin keluar dengan suci dan bersih serta terhalang dari hal-hal buruk.
IJAB QABUL
Adapun mereka yang terlibat langsung dalam proses ijab qabul adalah:
  • Kedua mempelai
  • Saudara kaweng dan saudari makan telur
  • Penghulu
  • Wali nikah
  • Saksi- saksi
  • Hosong, Pesy dan Uka Hata  (4 rumah tau Guru)
  • Tuhe, Meten Hiti

Sebelum ijab qabul di laksanakan terlebih dahulu penghulu mengumumkan jumlah mas kawin dan pemegang khotbah.
  • Proses jalannya acara nikah :
  • Ijab qabul
  • Penyerahan buku nikah
  • Jabat tangan
Kedua mempelai berjabat tangan dengan orang-orang yang terlibat dalam proses ijab qabul.

ACARA MALAM
Setelah selesai semua acara resepsi pernikahan ( ijab qabul ), di malam harinya di adakan makan bersama yang berupa makan telur oleh pengantin perempuan dan saudari makan telurnya. Untuk telur yang di makan adalah telur yang di masak (di goreng) oleh biang dan (bukan orang lain selain biang) dan hanya dia sendiri yang berada pada lokasi pemasakannya, Untuk hasil gorengan telurnya menurut kepercayaan masyrakat morella bahwa jika keadaan telur ketika di goreng mengembang maka berarti ada keturunan dalam keluarganya namun jika tidak berarti sebaliknya akan tetapi hasil gorengan  itu di rahasiakan dan tidak di beritahukan kepada siapapun karna di hawatirkan akan menimbulkan problema dalam rumah tangganya.


FKSB 2011

Kemas Pukul Sapu Dengan Icon

Atraksi Pukul Sapu Lidi Negeri Hausihu Morella (foto: FKSB 2011)
Salah satu even parawisata berlatar belakang adat yang kuat bertahan di Maluku adalah perayaan pukul sapu atau pukul manyapu (PS). PS hanya terjadi di dua negeri bertetangga Morella dan Mamala.  Dari dua negeri adat ini pula, kita bisa menelusuri makna tersimpan di balik perayaan.
Sepintas, ritualnya sama. Sama dilakukan pada hari ke 8 Syawal tiap tahun. Sama dilakukan di halaman masjid. Sama dalam waktu pelaksaan, sesudah shalat ashar, sebelum magrib. Dan sama-sama diakui sebagai warisan budaya tetua negeri ratusan tahun lalu.
Kiranya pemikiran ini juga mendasari tawaran beberapa kalangan untuk menyatukan PS dua negeri, kemudian dibuat sebagai perayaan bersama yang didukung penuh oleh Pemda (Maluku Tengah dan Maluku). Namun setiap ide untuk mempersatukan, hampir pasti mendapat sanggahan dari kedua negeri, Morella dan Mamala.  Alasan yang dikemukakan, “ perbedaan latar belakang yang membedakan kami”. 

KAPAHAHA 
Morella, mengangkat latar belakang sejarah perang Kapahaha.  Perang yang berlangsung dari tahun 1637 hingga 1646.  Kapahaha adalah bukit batu terjal yang terdapat di hutan Negeri Morella. Kapahaha adalah benteng terakhir yang jatuh ke pihak Belanda di Pulau Ambon.  Perang Kapahaha berakhir ketika benteng Kapahaha dikuasai Belanda.
Pejuang yang sempat tertangkap dalam penyerbuan itu disiksa sebagai tawanan di Teluk Sawatelu selama tiga bulan. Kapitan Telukabessy sendiri berhasil lolos. Namun ia kemudian menyerahkan diri dan digantung dan dibuang di pantai Namalatu. Sepeninggal Telukabessy, tawanan Kapahaha dibebaskan Belanda pada tanggal 27 Nopember 1664 yang bertepatan dengan bulan Ramadhan. Beberapa tokoh ditahan di Makassar dan Batavia. Sisanya, pulang ke daerah asal. (Maryam Lestaluhu, 1988)
Menurut Kapata Morella, pada perpisahan inilah, kemudian terjadi pukul sapu secara spontan sebagai ungkapan rasa sedih atas perjuangan yang telah berakhir. Perih di badan karena lecutan sapu menjadi perlambang kerasnya perjuangan yang disertai dengan pengorbanan jiwa raga. Kerasnya genggaman serta kuatnya pukulan jadi perlambang tekad kuat untuk tetap menolak semua bentuk penjajahan dan kerjasama dengan Belanda. Usai melakukan pukul sapu, mereka kemudian saling berpelukan, sambil berikrar untuk tetap saling mengingat dan akan bertemu kembali tiap tanggal 7 Syawal. Sejarah Kapahaha inilah yang menjadi latar belakang PS negeri Morella. Sejarah perang Kapahaha ini terus dibaca ulang tiap perayaan dan merupakan pertanda acara puncak PS siap digelar.

NYUALING MATEHU
Lain lagi dengan Mamala, minyak Mamala atau nyualing matehu dijadikan icon. Ketika diketahui bahwa salah satu tiang masjid retak/patah, imam Tuny (Tokoh Agama) bermunajat pada Sang Khalik agar masalah ini terselesaikan. Sesudah mendapat petunjuk melalui mimpi, Imam Tuny kemudian mengoles minyak pada tiang yang retak/patah, kemudian membungkus dengan kain putih. Keesokan hari, retak/patah tersebut sudah tersambung kembali. Dalam mimpinya juga, Imam Tuny mendapat petunjuk bahwa minyak itu dapat digunakan untuk penyembuhan keseleo, patah tulang dll. Khasiat minyak ini (nyualing matehu) kemudian diujicobakan ke tubuh manusia dengan terlebih dahulu dipukul dengan sapu hingga berdarah. Ternyata bekas luka sabetan sapu sembuh hanya dengan olesan nyualing matehu. Keberhasilan ini lalu dirayakan dengan memilih waktu yang tepat, yakni 7 Syawal. (Panduan Pelantikan; 2005)
Proses penyambungan retak/patah tiang dan penyembuhan luka bekas sabetan sapu lidi kemudian menjadikan nyualing matehu sebagai icon dalam perayaan 7 Syawal. Hal ini kita baca pada baliho-baliho milik negeri Mamala yang bertebaran di Kota Ambon, yang mengedepankan perlu pelestarian nyualing matehu sebagai warisan budaya. 

ICON
Icon atau symbol adalah hal penting dalam mengemas satu iven. Masih segar memori kita ketika pemerintah mengkampanyekan Bali sebagai paradise island. Atau Jogja menjadikan Malioboro sebagai salah satu icon parawisata. Di Maluku, kita juga menjual Banda sebagai icon wisata bahari melalui Sail Banda dll.
Lalu dalam mengemas PS, Morella dan Mamala juga butuh icon yang “kuat” dan terus menerus diangkat sehingga masyarakat mengenal pukul sapu dengan icon tersebut.  Mamala sudah tegas menjual icon nyualing matehu, minyak mamala. Tidak afdhal rasanya seorang pengunjung  pulang tanpa membawa minyak tersebut. Bahkan seorang peneliti Inggris Dr. Herbal Thomas, tahun 2008 perlu berjibaku dengan anak Mamala di arena PS  untuk buktikan khasiatnya (Ameks, 2008).
Teman saya seorang perwira yang pernah pertugas di Kodam Pattimura hanya meminta oleh-oleh nyualing matehu bila saya ke Jakarta. Dia justru kaget ketika saya cerita tentang nama Taman Makam Pahlawan Kapahaha yang diambil dari nama bukit benteng Kapahaha di Morella.  Dia makin serius merespon ketika pembicaraan menyinggung Saloka Kodam Pattimura,  Lawa Mena Haulala. Karena Lawa Mena Haulala adalah semboyan perjuangan Kapitan Telukabessy dari Kapahaha yang untuk pertama kali digunakan tahun 1965, namun jarang kita dapati anggota TNI memahami asal semboyan tersebut.
Bagi Negeri Morella mengemas icon Kapahaha untuk iven PS adalah penting. Karena di samping melaksanakan iven adat secara turun temurun,  PS juga memberikan pesan moral kuat tentang pentingnya sikap tegas dalam perjuangan.  Pentingnya membangun  silaturrahmi dengan anak cucu para pejuang Kapahaha yang berasal dari Wawane, Ternate, Seram, Tuban, Makassar dll.
Mengemas iven dengan icon yang kuat, bukanlah hal mudah. Butuh proses panjang dan terus menerus.  Laksana seorang pelari maraton, ia harus memiliki tenaga dan napas panjang serta konsisten menjaga. Begitupun di kedua Negeri, Morella dan Mamala. Mengemas icon Kapahaha dan nyualing matehu butuh semangat dan napas “pelari marathon”.


Fuad Mahfud Azuz
Durian Patah, 4 September 2011

Senin, 11 April 2011

Pukul Sapu Ceremony

Tradition at the broom held once a year on 7 Shawwal. This year was held on 8 October. Culture that has survived hundreds of years has its roots in perjuagan Kapitan Telukabessy who led the struggle against the people of Maluku VOC years 1636-1646. After being defeated, Kapitan Telukabessy sentenced to death. His forces then dissolve itself by a broom at.
This tradition is then survived until now in the village of Morella and Mamala, Leihitu District, Central Maluku district, Maluku Province. The youths and adult men participated in at the broom in Morella and Mamala. Participate at the broom is the pride and virility test as a man.
The event was watched by thousands of citizens of the Moluccas and several foreign tourists. Participants were divided into two groups, each consisting of 20 persons. Each fighter stood face to face with fighters from other groups in the middle of the arena-sized lapagan footballs. Every person holding the stick shaft enau to disabetkan. Lidi new replaced if damaged or broken.
The group hit a turn, retreated a few steps to take distance of a stick. Participants from groups opposed to standing, raising his stick above his head and allow the body to disabet stick. When the referee blew the Pluit, participants menyabetkan stick into the opponent’s body accompanied by shouts penggugah spirit.
Sabetan stick, leaving the leather stripes on the waist, chest, and back. Bleeding from the torn skin. Kerenyitan pain looked at the faces of the participants. Turn to hit the switch after the opponent backwards cornered kedekat spectators surrounding the arena.
“In this tradition there is no grudge, because at the broom is a symbol of brotherhood. The fighters from different parts of Maluku, Gowa (South Sulawesi) and Mataram (Java) had united against the invaders here, “said Abdul Kadir Latukau, King Affairs Morella.
The wounds on the body of participants at the broom is a symbol of unity in memory of the fighters under the command of Kapitan Telukabessy.

Sumber: Villas In Bali For Rent News & Articles

KEKAYAAN ADAT – ISTIADAT, SENI DAN BUDAYA MALUKU

Beberapa pihak terus serta telah berusaha melestarikan Adat – Istiadat, Seni dan Budaya Masyarakat Maluku, karena sejak sebelum Republik Indonesia Merdeka sampai jaman Globalisasi saat ini; Masyarakat di seluruh negeri di Provinsi Maluku khususnya masih terdapat acara – acara tradisi yang terus hidup dan diselenggarakan walaupun tidak seperti di daerah – daerah lain yang sudah menjadi acara tradisi berskala nasional dan menjadi internasional. Sebagai contoh di daerah Jawa ada acara yang disebut “GREBEK MAULID” dan atau “GREBEK SYAWAL“ sering kali ditayangkan di media Televisi dan media Cetak dan acara lainnya lain, demikian pula ada beberapa Kesenian dan Kebudayaan dari daerah lain yang menjadi Simbol pada setiap pembukaan suatu acara serta ada beberapa Kesenian dan Kebudayaan yang dipromosikan serta diperkenalkan sampai ke luar negeri; berbeda dengan Adat – Istiadat, Kesenian dan Kebudayaan Maluku, banyak masyarakat yang kurang mengenal da atau tidak mengetahuinya.

Sehingga dengan media elektronik ini Lembaga Pelestarian dan Pengembangan Adat Maluku (LEPPA MALUKU), berusaha semaksimal mungkin untuk memperlihatkan, mengenalkan dan mengembangkan Adat – Istiadat, Seni dan Budaya Maluku, dengan tidak membeda – bedakan asal – usul Adat – Istiadat, Kesenian dan Kebudayaan dari negeri yang ada di Provinsi Maluku. Namun maksud dan tujuan Lembaga Pelestarian dan Pengembangan Adat Maluku (LEPPA MALUKU) ini adalah sebagai media informasi, edukasi, komunikasi, promosi yang berkaitan dengan Adat – Istiadat, Kesenian dan Kebudayaan Masyarakat Maluku, sehingga baik masyarakat Maluku sendiri maupun masyarakat khalayak umum dapat mengenal dan mengetahui keberadaan yang ada di Maluku.
Salah satu acara tradisi yang masih dan terus diselenggarakan adalah PUKUL SAPU LIDI, yang dilaksanakan oleh Raja bersama masyaraka Negeri Morella dan Negeri Mamala di Ambon – Maluku, dimana acara tersebut diselenggarakan pada setiap 7 (tujuh) hari seusai Hari Besar Islam “IDUL FITRI“, dimana ciri khas acara tersebut yaitu Pukul Sapu Lidi Aren ketubuh antara lawan satu dengan yang lainnya, dengan beberapa syarat tidak boleh mengenai muka dan atau bagian pital lawannya.
 
 
Acara tradisi PUKUL SAPU LIDI ini sudah berjalan sejak beberapa ratus tahun lahu di Negeri Morella dan Negeri Mamala, sehingga hampir seluruh masyarakat disekitar Pulau Ambon maupun wisatawan asing yang mengetahui acara tardisi tersebut pasti padat menghadiri dan menyaksikan acara tradisi PUKUL SAPU LIDI tersebut, demikian pula dengan acara tradisi BAMBU GILA yang sangat dikenal oleh masyarakat Maluku maupun masyarakat daerah lain dimana acara tradisi BAMBU GILA sudah diketahui adalah berasal dari Maluku, namun masih banyak masyarakat daerah lain yang tidak mengetahui seperti apa acara yang disebut BAMBU GILA, dan masih banyak lagi acara tradisi masyarakat Maluku yang belum dan tidak diketahui oleh masyarakat Negeri – Negeri lain di Maluku maupun masyarakat dari daerah lain di bumi Nusantara – Indonesia.
Selanjutnya dengan tidak mengurasi rasa hormat LEPPA MALUKU mengharapkan peran serta partisipasi semua pihak dari seluruh Raja – Raja dan Ketua Adat serta masyarakat Maluku kiranya dapat memanfaatkan sarana media LEPPA MALUKU ini, agar dapat bermanfaat bagi orang Maluku maupun bagi generasi penerus guna dapat melestarikan dan mengembangkan Adat – Istiadat, Seni dan Budaya Maluku.

Sumber: ratna

Minggu, 10 April 2011

HEAVEN IN THE LAND OF ANCESTORS


Cape satan Morella,Photos: FKSB 2010
Thousand Islands country, ... .... That's the nickname given to the Moluccas, one of Indonesia's eastern tip region has a cluster of islands with diverse cultures, languages ​​and customs and abundant natural resources and matchless beauty.
Of the many scattered villages in the Moluccas, Morella is one of the country that holds a million indigenous strengths and beauty. Located on the Peninsula Leihitu, cheek by jowl with the other two villages namely Home Affairs and State Mamala Liang, located approximately 35.km of Ambon, the capital of Maluku Province. Travel can be taken for 45 minutes by road from downtown Ambon (Terminal red stone).
Besides having abundant natural resources such as fish, cloves, nutmeg, coconut and sago, Morella Affairs also has a wealth of other natural and untouched by the times. Some tourist attractions (marine tours, cultural and natural attractions) which can be found among others the following:
1. Fortress Kapahaha
2. Sawatelu beach
3. Letan beach
4. Tilepuai beach
5. Marine Park
6. Tradition At Broom Sticks

Crazy bamboo attraction,photos:FKSB 2010
Kapahaha Castle is one formed by a natural .fortress located on the headland devil, less 200 m from the beach and within walking distance. Various historical heritage of the fighters and objects old graves can still be found in these places (most have been kept in the house of King / Head of Village).
Sawatelu Beach which is located in the bay sawatelu has beauty but not least when compared with other tourist attractions in the Moluccas. Large-sized sandy beach with stunning natural scenery around could be one option to relieve fatigue after six days carrying out an exhausting routine. The position of the beach which is located on a bend bay sawatelu with adjoining stream to give the feel of its own.
For those of you who like to diving, Along the coast to the promontory sawatelu devil, there is a marine park that is not less beautiful in Bunaken. Marine park has a diverse marine biota. The fish various shapes and colors, clusters of coral-reefs in various forms a charming and various other types of biota.
All three attractions are (Fort Kapahaha, Sawatelu Beach and Marine Park) is located contiguous to each other so that makes it easy for travelers to make choices without having to spend to move the location. Like the saying goes once a row, two of the three islands exceeded. Once visited, three tourist sites visited.
It is said that the story that gave birth to a tradition started when a broom at the release of prisoners occurred in kapahaha by Dutch colonial fort in the bay sawatelu. Surge of excitement as well as compassion mixed with the spirit of patriotism was applied in the form of strike action yourself by using a broom. According to historical records the incident occurred on 7 syawal which later developed into a tradition of seven syawal by local communities for generations. In celebration, other attractions are also displayed at the broom dances Cakalele areas such as dance to the accompaniment of traditional music is also featured attraction of bamboo crazy. In Mad Bamboo spectator attraction given the opportunity to go try a show of force holding the bamboo that has been filled with the spirits of the ancestors by the handler. Surely it can be a special experience for tourists.


Ambon, Saturday, March 2nd, 2011 | By:
Fahmi Sialana

Senin, 14 Maret 2011

Bambu Gila in Morella Village

This a Bambu Gila performance, was taken in September 17th 2010, located in Morella village, the up-northern part of Ambon Island. It is traditionally presented along with other performances on the 7th days after Eid Day, e.g. Pukul Sapu, etc.
Bambu Gila is literally translated as Crazy Bamboo. A very typically Malukan performance, also seen on Ambon but claimed to originate from Ternate. Here several people are holding a long piece of bamboo, which is then made to vehemently move around shaking itself after having some "magic" cast on it with some smoke. Supposedly it moves by itself, and so hard that it's difficult to hold, dragging the people around the arena with itself.
Melanie Wilson, an Australian TV presenter for an Indonesian travel show called Belajar Indonesia had a chance to try it.


Video by:  

Rabu, 09 Maret 2011

Khasiat Getah Jarak Untuk Mengobati Luka Akibat Pukulan Sapu Lidi


Pohon Jarak  sudah dikenal luas oleh masyarakat terutama di wilayah pedesaan sebagai tanaman pembatas pekarangan dan lahan perkebunan, sehingga orang menyebutnya dengan Jarak Pagar.
Tanaman berfamili Euphorbiaceae ini menyebar hampir di seluruh bagian dunia beriklim tropis dan dapat tumbuh di wilayah yang kurang subur serta kering sehingga dapat berperan dalam penghijauan lahan kritis.
Jarak Pagar (Jatropha curcas) atau yang bernama Cina Ma feng shu,  mempunyai banyak manfaat. Saalah satunya yang saat ini hangat dibicarakan adalah potensinya sebagai sumber energi nabati (biofuel). Biji tanaman ini dapat diolah menjadi minyak jarak yang diproyeksikan sebagai bahan bakar alternatif pengganti minyak bumi atau  bahan bakar fosil yang kian menipis ketersediaannya.
Sebelum ramai dimanfaatkan sebagai tanaman penghijauan maupun bahan bakar nabati, secara tradisional jarak pagar sudah digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit luar. Dinantaranya adalah Minyak dari bijinya serta daun yang telah dilumatkan digunakan untuk mengatasi gangguan pada kulit, bengkak, maupun terkilir. Dan getah dari ranting atau daunnya  berkhasiat menghentikan perdarahan akibat luka.
Dr. A. Setiawan Wirian, salah seorang pendiri Himpunan Pengobat Tradisional dan Akupuntur se-Indonesia (HIPTRI) mengatakan jarak pagar juga mampu melancarkan darah (stagnant blood dispelling), menghilangkan bengkak (antiswelling), menghentikan perdarahan (hemostatik), serta menghilangkan gatal (antipruritik). Tanaman ini mengandung n-l-triakontanol, alpha-amirin, kampesterol, stigmast-5-ene-3 beta, 7 alpha-diol, stigmasterol, beta-sitosterol, iso-viteksin, viteksin, 7-keto-beta sitosterol, dan HCN.
Di Negeri Morella Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah, getah daun jarak mempunyai peran khusus sebagai obat tradisional dalam acara adat Pukul Sapu Lidi. Acara yang digelar setiap 7 hari setelah lebaran ini di awali dengan pengumpulan peserta yang terdiri dari para pemuda dengan membawah sapu lidi dan pohon jarak di sebuah rumah adat (Rumah Tua Pesy),  untuk kemudian diarahkan ke arena pementasan di depan masjid Al-Muttaqien Morella. Acara ini merupakan tradisi yang sudah dilaksanakan sejak zaman dahulu kala.
Para pemuda hanya memakai celana pendek dan ikat kepala sebagai pelindung telinga, mereka salin baku pukul dengan menggunakan sapu lidi hingga di setiap tubuh peserta  menjadi luka dan berdarah. Luka akibat pukulan ini sangat banyak, beberapa orang diantara mereka lukanya hampir memenuhi tubuh terutama bagian perut, dada dan punggung.
Usai pementasan mereka lalu berpelukan dan saling mengobati satu sama lain dengan meneteskan getah daun jarak ke luka-luka mereka.
Pengobatan ini dilakukan secara bersamaan, biasanya para penonton dan keluarga yang hadir saat itu turut ambil bagian dengan memetik ranting atau daun jarak yang telah disediakan kemudian mengolesinya ke bagian tubuh yang terluka.
Getah jarak pagar bersifat antimikroba sehingga dapat mengusir bakteri seperti jenis Staphylococcus, Streptococcus, dan  Escherichia coli. Hal ini sangat baik bila digunakan untuk luka. Para peserta pukul sapu lidi mengaku dalam jangka 3-4 hari luka-luka mereka sudah dapat disembuhkan tanpa menggunakan obat-obat yang di beli dari toko. Mereka juga mengaku tidak merasa gatal saat mengolesi getah jarak ke tubuh mereka.
Demikian info ini disampaikan untuk kita semua, bagi yang ingin mengetahui lebih dalam tentang kahasiat Jarak Pagar silahkan kunjungi link-link dibawah ini:
 Semoga Bermanfaat.
 

Minggu, 06 Maret 2011

Apakah "Pataniti" Itu Syirik Atau Menyekutukan Allaah SWT?

Seiring dengan perkembangan zaman, banyak pengetahuan yang bermunculan, banyak pemahaman-pemahaman baru yang muncul, dan banyak pula aliran-aliran baru dalam Islam yang dengan mudahnya mengkultus ini haram, ini bid'ah dan itu syirik dan sebagainya, oleh karena itu penulis terdorong untuk menjelaskan semua permasalahan ini di publik, khususnya untuk masyarakat Morella tercinta. Selain 2 topik sebelumnya sudah saya utarakan ada beberapa topik lagi yang akan saya paparkan di media ini yang dimana permasalahan tersebut yang sangat akrab dengan kita masyarakat Morella dan sudah tidak asing lagi, untuk itu marilah kita simak penjelasan dibawah ini.

PATANITI adalah memanggil nama seseorang leluhur kita untuk meminta pertolongan yang kedudukannya tinggi dimata masyarakat Morella dan tentunya berkedudukan tinggi diadapan ALLAAH SWT dari turun temurun hingga kini.

PATANITI jika di dalam bahasa arab adalah ISTIGHATSAH
ISTIGHATSA adalah Memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongan. Bagi sebagian kelompok muslimin hal ini langsung divonis syirik. Namun vonis mereka hanyalah karena kedangkalan pemahamannya terhadap Syariah Islam. Pada hakekatnya memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongan adalah hal yang dibolehkan selama ia seorang Muslim, Mukmin, Shalih, dan mempunya kedudukan disisi ALLAAH SWT, baik ia masih hidup atau telah wafat. Karena bila seseorang mengatakan ada perbedaan dalam kehidupan dan kematian atas manfaat dan mudharat, maka justru dirisaukan ia telah terjebak dalam kemusyrikan yang nyata, sebagaimana telah difirmankan ALLAAH SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 154 : Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya (Qur'an Al-baqarah ayat 154).
Sebab seluruh manfaat dan mudharat berasal dari ALLAAH SWT. Maka kehiduan dan kematian tak bisa membatasi manfaat dan mudharatkecuali dengan izin ALLAAH SWT. Ketika seseorang berkata bahwa orang mati tak bisa memberi manfaat, dan orang hidup bisa memberi manfaat, maka dikhawatirkan telah jatuh dalam kekufuran karena menganggap kehidupan adalah sumber manfaat dan kematian adalah mustahilnya manfaat, padahal manfaat dan mudharat berasal dari ALLAAH SWT. Kekuasaan ALLAAH SWT tidak bisa dibatasai dengan kehidupan atau kematian. Sama saja ketika seorang berkata bahwa hanya dokterlah yang bisa menyembuhkan penyakit dan tak mungkin kesembuhan datang dari selain dokter. Maka ia telah membatasi kodrat ALLAAH SWT untuk memberikan kesembuhan, yang bisa saja lewat dokter, juga tak mustahil lewat orang-orang kita yang biasa diistilahkan dengan kata "pa'meu" bahkan bisa sembuh dengan sendirinya semuanya atas izin ALLAAH SWT, sebagai contoh: orang yang kena pa'muwat atau santet bisakah disembuhkan dengan dokter? orang pasapela bisakah dengan dokter, yang kena Upas apakah dengan ilmu kedokteran langsung sembuh dengan cepatnya? dari zaman dulu orang kita melahirkan harus dengan dokter yang memakan biaya sampai puluhan juta? tentunya dengan Biang. dan lain-lain penyakitnya.

Terkadang kita tak menyadari bahwa kita lebih banyak mengambil manfaat dalam kehiduan ini dari mereka yang telah meninggal daripada pada yang masih hidup. Sungguh peradaban manusia, tuntunan ibadah, tuntunan kehidupan, modernisasi dan lain sebagainya, para pelopornya telah wafat. Kita masih terus mengambil manfaat dari mereka, baik muslim maupun yang non muslim, sepert teori Einstein dan teori-teori lainnya atau hal yang paling dekat jika tidak ada perjuangan yang gigih dari leluhur kita, saya rasa sampai saat ini kita bisa saja sudah bukan muslim atau sebagainya naa'udzubILLAAHI mindzaalik. Kita masih mengambil manfaat dari yang mati hingga kini, berupa ilmu, kekuatan, jabatan, atau perjuangan mereka. Cuma bedanya dengan para shalihin, para wali, dan muqarrabin kita mengambil manfaat dari iman, amal shalih, dan ketaatan mereka kepada ALLAAH.
Rasul SAW membolehkan istigatsah atau pataniti, sebagaimana sabda beliau SAW, "Sungguh matahari mendekat dihari kiamat hingga keringat sampai setengah telinga, dan sementara dalam keadaan itu mereka beristigatsah (memanggil nama untuk minta tolong) kepada Adam, lalu kepada Musa, dan juga Isa. Kesemuanya tak mampuh berbuat apa-apa lalu mereka ber-istigatsah kepada Muhammad SAW," (shahih Bukhari hadits Ni.1405) Hadits serupa terdapat juga pada Shahih Muslim hadits No. 194, Shahih Bukhari No. 1362, 3182, 4435. Dan masih banyak lagi Hadits-hadits shahih yang menunujukkan ummat manusia ber-istigatsah pada para Nabi dan Rasul. Bahkan pada Adam, "Wahai Adam, sungguh engkau adalah ayah dari semua manusia...(hingga selesai ucapan itu). Adam berkata, "Diriku ... diriku..., pergilah pada selainku," Hingga akhirnya mereka beristigatsah memanggil-manggil Muhammad SAW, dan Nabi SAW sendiri yang menceritakan ini dalam hadits bukan dongeng. Hal ini menunjukkan bahwa beliau tak mengharamkan istigatsah.

Hadits sangat jelas merupakan rujukan bagi istigatsah. Rasul SAW menceritakan orang-orang ber-istigatsah kepada manusia, dan Rasul SAW tak mengatakan syirik. Namun istigatsah atau pataniti di hari kiamat hanya untuk Sayyidina Muhammad SAW.

Diriwayatkan bahwa seseorang dihadapan Ibnu Abbas RA keram kakinya, lalu Ibnu Abbas berkata "Sebut nama orang yang paling kau cintai!" Aorang itu berkata dengan suara keras, "Muhammad!" maka dalam sekejap sembuh keramnya (Diriwayatkan oleh Imam Tabrani dengan sanad Hasan. Juga diriwayatkan oleh Imam Nawawi dalam al-Adzkar). Dalam riwayat ini tidak dikatakan musyrik orang yang memanggil nama seseorang saat mendapatkan kesulitan, justru oleh Ibnu Abbas RA diajarkan hal ini, Ibnu Abbas RA adalah Keluarganya Nabi SAW.

Kita melihat kejadian tsunami di Aceh beberapa tahun yang lalu silam. Air laut setinggi 30 meter dengan kecepatan 300 km/jam, dan kekuatan ratusan juta ton, tak menyentuh masjid tua dan makam-makam shalihin. Bahkan mereka yang lari ke makam shalihin selamat, Inilah isyarat Ilahi bahwa demikianlah ALLAAH memuliakan tubuh yang taat pada-NYA, sehingga tubuh-tubuh tak bernyawa itu ALLAAH jadikan benteng untuk mereka yang hidup. Mereka dijadikan oleh ALLAAH sumber rahmat dan perlindunganNYA bagi yang lari dan berlindung di makam mereka.
Dari kejadian diatas, kita memahami bahwa mereka yang lari dan berlindung kepada hamba-hamba ALLAAH yang shalih selamat. Mereka yang lari di Masjid-masjid tua bekas tempat sujud orang-orang shalih selamat. Mereka yang lari dengan mobilnya tidak selamat. mereka yang lari mencari SAR tidak selamat Pertanyaannya adalah, mengapa ALLAAH jadikan makam sebagai perantara perlindunganNYA? Mengapa bukan orang yang masih hidup? Mengapa bukan gunung atau perumahan,misalnya? Jawabannya adalah bahwa ALLAAH mengajari penduduk bumi ini beristigatsah pada shalihin. WaLILLAAHItaufiq.

Kesimpulannya: Beristigatsah lah kepada para shalihin, tentunya leluhur kita Uka Guru Manaya Telu, Uka Latu Tapi, Uka Guru Manilet, Imam Tuni, dan Para Guru-guru, Kapahaha, Iyal Uli, Niggareta, Puttilessy, mereka semuanya adalah para Shalihin, Para Wali ALLAAH, jadi tidak syirik kan pataniti itu? jika hal ini syirik tentunya sudah dilarang oleh orang-orang tua kita sejak zaman dulu, bahkan Rasul SAW, para sahabat, para Tabi'in. Mereka orang-orang yang faham betul tentang Akidah 'Asy'ari atau Akidah Firqah atau Akidah Syari'atul Muthaharah, Akidah Ahlusunnah wal Jama'ah. Satu saran dari saya pribadi dan harus selalu diingat, Istigatsah/Pataniti dengan membaca Ta'awuuz, Basmalah dan ditambah dengan Shalawat, ini sangat mustajab. dan sebaik-baiknya istigatsah/pataniti adalah istigatsah/pataniti kepada Rasul SAW.

Wassalaam
Penulis: Al Faqiir Tuni Kapahaha



Sabtu, 05 Maret 2011

Apa itu Maaiiyat dan siapa Maaiiyat

Assalaamu'alaykum WarahmatULLAAHI Wabarakaatuh

BismILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM

Maaiiayaat????? Kata ini sering kita dengar di kalangan masyarakat kita khususnya Morella tercinta, sudah turun temurun sejak zaman kehidupan di kampung lama kita,, Kapahaha, Iyal Uli, NInggareta, Putilessy,,,, sampai sekarang,,, mungkin masih menjadi tanda TANYA besarrrrrr dikalangan masyarakat Morella, siapakah Maiiyyat itu?? dan Siapa Mereka??

Sebelum kita masuk ke pokok permasalahan, mari kita ulas kembali tentang kehidupan pertama nenek moyang kita di Ula Pokol, saya sendiri yang melakukan penelitian ini, saya sempat menanyakan langsung ke mahina sou tai lua, beliau masih keturunan asli dari Uka Latu Tapi, dari Sasole Salamony, beliau masih keluarga dekat dari pihak Ibu saya, kita sering mendengar selintingan kata bahwa Negeri Ula Pokol adalah Negeri yang pertama yang tumbuh dipermukaan bumi, hal ini yang masih membuat pertanyaan besar, Karena sesuai dengan Syariat Islam, dan dijelaskan dalam Al-Qur'an dan Hadits bahwa Bangunan yang pertama di muka bumi yang diciptakan ALLLAAH SWT adalah Ka'bah, Ka'bah sudah diciptakan ALLAAH SWT sebelum Nabi Adam AS di utus ke muka bumi, dan gunung yang pertama kali diciptakan oleh ALLAAH SWT adalah "Gunung Thur" atau sering dikenal dengan Bukit Thursina yang berada di Mekkah.

Mari kita simak percakapan saya dengan Mahina Soi Tailua tersebut, Beliau mulai menjabarkan ke saya asal muasal negeri Ula Pokol,,
Ummat Islam seluruh dunia pastilah tau bagaimana terjadi banjir bandang yang melanda dunia, terjadi pada zaman Nabi Nuh AS, setelah banjir bandang itu surut maka terlihat salah dati dataran yang pertama kali yang berbentuk gunung, saat itu juga salah satu penumpang dari kapal Nabi Nuh AS tersebut (laki-laki) bergegas bersama seekor ayam besar, (pada zaman dulu binatang-binatang bentuk tubuhnya besar-besar, bahkan sebelum manusia mengisi bumi sebelumya sudah ada kehidupan di muka bumi yaitu iblis, setelah itu binatang-binatang besar, dan kemudian fossil-fossil, setelah itu baru manusia, hal ini telah dijelaskan dalam Al-Qur'an dan Hadits), untuk terbang menuju dataran/pegunungan itu, seperti dijelaskan dalam Al-Qur'an bahwa semua pengikut Nabi Nuh AS yang naik ke kapal adalah orang-orang Shaleh dan orang-orang yang beriman, jelaslah bahwa mereka beragama Islam, namun agama Islam mereka adalah Islam pengikut Nabi Nuh AS atau disebut juga agama Hanif, dan sholatnya pun bukan 5 waktu seperti ummat Nabi Muhammad SAW, mereka mempunyai ritual tersendiri.
Laki-laki atau Orang Shaleh tersebut adalah Uka Latu Tapi, nama ini adalah nama bahasa Lani atau nama alias atau nama gelar saja, tentunya nama asli beliau secara nama Islam pasti ada, dan nama itu sempat saya tanyakan dan diberi tahu,namun saya belum bisa menulis nama Islam beliau di sini, mungkin lain waktu atau pwmbahasan berikutnya.
Uka Latu Tapi menikah dengan seorang putri dari riring, daerah seram dan putri itu adalan anak dari raja laut setempat, maka jelaslah sudah, Raja Laut itu yang disebut dengan bangsa Maaiiyat,
mereka menikah dan dikaruniai 7 anak laki-laki dan 1 perempuan: 1. Tulisa Menay 2. Tulisa Muling, 3. Tuharela Huwala 4. Nahuwaya Amay, 5. Latu Poisela, 6. Payong, 7. Maliyong, dan saudara perempuan mereka bernama Hatuwatini atau nama hakikatnya 'Amma Yashifuun, tentunya ke-7 putra beliau tadi ada nama hakikatnya juga atau nama Islam namun saya tidak sempat tanyakan. 'Amma Yashifuun dikala masih kecil jikalau menangis tidak mau berhenti jika tidak dihubur dengan sesuatu yang menarik, maka diciptakannlah sebuah tarian indah yang kita sering kenal di acara 7 syawal yaitu "tari reti" atau tari saliwangi, itulah asal mula tari tersebut. dari ke-7 putra dan 1 putri tsb hampir semuanya hidup di alam maaiiyat, hanya 1 putra beliau Uka Latu yang hidup di alam manusia yaitu "Tuharela Huwala" karena alamnya berbeda maka dipindahkanlah putranya ini ke negeri ke-2 yaitu 'Kapahaha" dan beranak pinak sampai keturunannya para Asel dan lain-lain, entah Tuharela Huwal ini menikah lagi dengan bangsa maaiiyat atau manusia, yang jelas beliau mempunyai keturunan manusia di kapahaha kala itu.


Berikut Firman ALLAAH SWT dalam Surat Hud ayat 38-44

Allah lantas memerintahkan Nuh untuk membuat kapal guna menyelamatkan diri dan kaumnya yang beriman dari banjir dahsyat, "Mulailah dia (Nuh) membuat kapal. Setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewatinya, mereka mengejeknya. Dia (Nuh) berkata, 'Jika kalian mengejek kami, maka kami (pun) akan mengejek kalian sebagaimana kalian mengejek (kami). Maka kelak kalian akan mengetahui siapa yang akan ditimpa adzhab yang menghinakan dan (siapa) yang akan ditimpa adzhab yang kekal. 'Hingga apabila perintah Kami datang dan tanur (dapur) telah memancarkan air, Kami berfirman, 'Muatkanlah ke dalamnya (kapal itu) dari masing-masing (hewan) sepasang (jantan dan betina), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah terkena ketetapan terdahulu dan (muatkan pula) orang yang beriman. 'Ternyata orang-orang beriman yang bersama Nuh hanya sedikit. Dan dia berkata, 'Naiklah kalian semua ke dalamnya (kapal) dengan (menyebut) nama Allah pada waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan kapal itu berlayar membawa mereka ke dalam gelombang laksana gunung-gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, ketika dia (anak itu) berada di tempat yang jauh terpencil, 'Wahai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir. 'Dia (anaknya) menjawab, 'Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan aku dari air bah! '(Nuh) berkata, 'Tidak ada yang melindungi dari siksaan Allah pada hari ini selain Allah Yang Maha Penyayang.' Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka dia (anak itu) termasuk orang yang ditenggelamkan. Dan difirmankan, 'Wahai bumi, telanlah airmu dan wahai langit (hujan) berhentilah,' Dan air pun disurutkan, dan perintah pun diselesaikan, dan kapal itu pun berlabuh di atas gunung Judi, dan dikatakan, 'Binasalah orang-orang zhalim," (QS. Hud [11]: 38-44).

Demikianlah, badai topan menimpa kaum Nuh yang ingkar, sombong, dan berbuat kerusakan di muka bumi. Allah menyelamatkan Nabi Nuh dan pengikutnya yang beriman saat kapal mereka berlabuh di atas Bukit Judi, di sebuah tempat yang dikenal dengan nama JaziraI Ibnu Umar. Saat ini, tempat tersebut merupakan bagian timur Turki (Gunung Arafat).
Penumpang kapal pun keluar dan menetap di sana untuk pertama kalinya setelah perpindahan baru ini, Prof. Mahmud Syakir mengungkapkan, "demikianlah terjadinya perpindahan tempat tinggal penduduk bumi untuk kedua kalinya dari selatan ar-Rafidin (Mesopotamia) ke berbagai daerah pegunungan di utara. Pertambahan penduduk pun terjadi untuk kedua kalinya di berbagai tempat". Dengan begitu, keturunan Nabi Nuh dari anak-anaknya yang telah ikut serta dalam kapal semakin bertambah.
Sam dan keturunannya berangkat menuju barat daya ke arah jazirah Arab dan berpencar di sana. Ham dan keturunannya berangkat menuju selatan dan menetap di bagian selatan Irak setelah bumi kering dan mulai tampak subur kembali. Sebagian yang lain mengikuti langkah tersebut dan ada pula yang berpencar menuju tenggara ke arah India.
Sementara itu, yang lainnya menuju barat daya melewati Selat Bal el-Mandeb ke arah Afrika. Dari sana mereka menuju utara dan berbagai tempat lainnya. Yafits, anak Nabi Nuh yang ketiga berangkat bersama keturunannya ke arah timur dan ada juga yang menuju ke arah barat.
dari data yang saya cantumkan diatas, beserta Firman ALLAAH SWT jelaslah sudah kalau saat badai kering semua penumpang kapal itu mau kemana saja sesuai dengan kehendaknya masing-masing. tentunya Uka Latu Tapi pun demikian.


Nah disinilah kita bisa mengetahui siapa saudara kita Maaiiyat yang sebenarnya, Maaiiyat adalah golongan bangsa Jin, dalam syariat Islam, manusia boleh menikah dengan bangsa Jin, Jin juga ada yang Islam dan lain-lain, Jin diciptakan di muka bumi untuk menyembah ALLAAH SWT sama dengan Manusia, bahkan ALLAAH SWT menjelaskan bangsa Jin dalam Al-Qur'an dengan surat yang terpisah yaitu Surat Al-Jin yang terdiri dari 28 ayat, atau Qur'an surat 72 yang terdiri dari 28 ayat, jelaslah sudah manusia menikah dengan manusia selain itu manusia hanya bisa menikah dengan Jin, tidak mungkin dengan mahluk lain yang ada dimuka bumi ini, bangsa Jin waktu zaman Nabi Muhammad SAW mereka datang bergerombolan untuk masuk Islam di satu masjid yang ada di madinah, Masjid itu sampai sekarang diberi nama Masjid Al-Jin. Bangsa Jin semasa hidup di dunia mereka melihat manusia, namun manusia tidak bisa melihat Jin, hanya orang-orang tertentuh.begitu juga sebaliknya di akhirat nanti.


ALLAAH SWT sudah memberikan banyak peringatan dan isyarat kepada kita masyarakat morella bahwa maaiiyat itu jin... buktinya:
belum lama ini mungkin kurang lebih sekitar 50 thn lalu, terjadi peristiwa hilangnya nene hajar dan nene atima, yang hilang di perairan hasihi letang, dan dikabarkan Nenek Atima menikah dengan seseorang laki-laki penduduk laut di daerah tanjung alang nusaniwe, kemudian dikabarkan juga Nene Hajar menikah dengan Raja Laut, dan dibuktikan dengan anak beliau "Ghafur Maaiiyat" yang suka mengganggu ma'kaw nya mahina Latukau, kemudian kabar yang terakhir 2 thn yang lalu saat acara 7 syawal, kita mengundang para raja dan malesi datang ke acara 7 Syawal kita, dan muncul lagi anak dari Ghafur Maaiiyat yang membonceng beta pung Kaka Haji Adam dari ma'lamet ke letang, dengan mengenderai motor yang saat itu laju kecepatan motornya diluar akal sehat manusia, alias motornya "terbang", setelah tiba ditempat tujuan, anak tersebut ditanya oleh Kak Haji Adam, dan dia menjawab "saya cucunya Nenek Hajar, saya anaknya Bapak Ghafur",... jelaslah sudah saudaraku.
Jika kita sedang ada maslah atau perang, pasti maaiiyat sibuk dengan segala sesuatunya, entah gong lah apa lah macam-macam, ada juga dipanggil dengan cara adat mahina soy tai lua, agar mereka datang untuk membantu kita.
himbauan dari saya maaiiyat hadir atau di panggil itu bukan hal yang tahayyul atau syirik, tergantung dari kita manusia khususnya masyarakat morella, jika kita menyikapi seakan-akan kita menganggap mereka itu disamakan dengan ALLAAH SWT maka syiriklah kita, namun jika kita memanggil mereka dengan cara adat namun keyakinan dan maksud yang sudah tertanam di hati hanya sekedar meminta pertolongan dari mahluk atau yang tepatnya saudara kita mahluk maaiiyat maka hal ini boleh, bukan syirik, diperbolehkan oleh Rasul SAW. Karena kita memanggil mereka sebatas untuk membantu kita dan kita menganggap mereka sebatas mahluk, bukan lebih dari itu. dan jangan lupa selalu di mulai dengan Basmalah dan lebih baik lagi ditambah Shalawat.
Contoh: Ilham dan Affan, mereka dalah kakak beradik, Ilham ingin meminta tolong sesuatu dari Affan, apakah tidak boleh! atau Ilham lagi di serang oleh orang musuh dan Ilham tau, loh saya kan tidak sendiri, saya punya saudara yaitu Affan, maka dipanggillah Affan untuk membantu, apakah itu tidak boleh? atau tahayyul? atau syirik? tentunya tidak saudara-saudaraku. karena maaiiyat juga beranak pinak seperti kita manusia, mereka beragamaIslam juga, mereka tau siapa kita, mereka tau kita masyarakat morella adalah saudara mereka.
Jika hal ini tahayyul atau syirik, tentunya orang-orang tua kita sudah melarangnya dari dulu, apakah mereka syirik? mereka itu ulama-ulama besar.
mau tidak mau suka tidak suka, maaiiyat adalah saudara kita, saudara kandung kita, saudara dari satu rahim. Jadi kesimpulannya Maaiiyat adalah bangsa Jin, namun bangsa Jin yang mengalir darah manusia. Yaa boleh dikatakan yaa Maaiiyat itu Jin funky...alias Jin gaul bangettt,,, he..he..he.., gue senang banget punya sudara maaiiyat itu, karena mereka baik banget, mereka peduli banget sama kita saudara-saudaraanya...
Jika ada comment silahkan, karena saya manusia biasa dan punya keterbatasan
wassalaam

Rabu, 09 Februari 2011

Video: Atraksi Pukul Sapu Lidi Morella 2008



Budaya Maluku kekayaan Nusantara, Tradisi ini dilaksanakan setiap 7 hari setelah lebaran di Negeri Morella Kabupaten Maluku Tengah untuk mengenang perjuangan di Bentang Kapahaha Jazirah Leihitu yang dipimpin oleh Kapitan Telukabessy. Pada perayaan di tahun 2008 ini pukulan penghormatan yang biasanya untuk mengawali acara di lakukan oleh Putra Mahkota Kerajaan Gowa: Andi Kumala Ijo Daeng Sila Karaeng Lembang Parang & Ir.Hamzah Sangadji serta sejumlah Pejabat di Maluku.

Selasa, 08 Februari 2011

Video: Atraksi CAKALELE Negeri Morella (2008)


Atraksi Cakalele Maluku memperkaya budaya Nusantara. Keberanian dan kelincahan serta semangat berjuang diolah padukan dalam sebuah gerakan seni dengan ciri khas anak adat.
Di Negeri Morella Kec.Leihitu, atraksi ini digelar setiap tahun pada saat perayaan acara adat 7 Syawal (Pukul Sapu Lidi).

Jumat, 04 Februari 2011

Pemerintahan Adat Negeri Morella


Negeri Morella terbagi dalam 3 soa,  masing-masing terdiri dari beberapa rumah tau dan dipimpin  oleh seorang  kepala soa. Pembagian mata rumah tau untuk setiap soa berdasarkan negeri lama asal. Negeri lama asal tersebut antara lain: Negeri Lama Kapahaha, Negeri Lama Iyal Uli, Negeri Lama Ninggareta dan Negeri Lama Putulesi.
Uraian ketiga soa tersebut antara lain:

         I.       Soa Kapahaha atau biasa disebut Soa Tomasiwa terdiri atas Enam Marga, yaitu:
1.    Sasole
2.    Sialana
3.    Leikawa
4.    Manilet
5.    Ameth
6.    Mony
Dengan Kepala Soa disebut Ela Helu dari Marga Sasole

      II.        Soa Ninggareta Putulesi atau biasa disebut Soa Pisi Hatu terdiri atas Tiga Marga Yaitu :
1.    Latukau
2.    Ulath
3.    Thenu
Dengan kepala soa disebut Ela Henahuhui dari marga Latukau

     III.        Soa Iyal Uli  atau biasa disebut Soa Hatalesy terdiri atas Lima Marga yaitu :
1.    Tawainlatu
2.    Latulanit
3.    Wakang
4.    Lauselang
5.    Pical
Dengan kepala soa disebut Ela Hatumena dari Marga Tawainlatu.


Pemerintahan Negeri Hausihu Morella terdiri dari beberapa perangkat yaitu :

1.    Badan Saniri Raja, dengan keanggotaan : Raja dan Kepala Soa Akte (Soa Tomasiwa, Soa Pisihatu, dan Soa Hatalesy). Badan saniri ini bertugas sebagai badan Eksekutif. Ditambah dengan Juru Tulis dan Marinyo.

2.    Badan Saniri Adat, dengan keanggotaan : Tiga Tuan Tanah Uka Tuhe, Uka Meten, dan Uka Hiti dari Luma Tau Sasole; Lembaga Adat Manu Saliwangi yang terdiri dari Salamoni (Sasole), Roto dan Umar (Sialana), Sekapuan (Latukau), Telapuan (Sasole), Tuni dan Tuhepopu (Latukau), Hatumena dan Tumban (Tawainlatu), Tenu Peha Pelu (Leikawa dan Thenu), Mahu Manu; Mahina Soa Tau Lua (Soa Malua) yaitu Dewan Wanita Adat Turunan dari Luma Tau Sasole dan Sialana. Mereka semua dikenal dengan sebutan “Tamulu Kau” (orang-orang yang berikat kepala merah). Mereka mempunyai tugas melantik raja secara adat dan memimpin upacara-upaca adat sekaligus Penasehat Raja. Badan Saniri ini memegang kekuasaan Legislatif.

3.    Badan Saniri Mesjid dengan pimpinan Uka Pesy (Wakang) dan Uka Hosong (Latukau). Uka Pesy membawahi empat Luma Tau Guru yaitu Luma Guru Lauselang (Uka Selang), Luma Guru Mony (Uka Anggodo Mony), Luma Guru Manilet (Uka Manilet), Luma Guru Ulath (Uka Maaling), dan Kasisi Mesjid yang terdiri dari Imam, Khatib dan Modin, yang diangkat dari Empat Luma Tau Guru tersebut di Bantu oleh dua orang penjaga dan pemegang kunci masjid dari Marga Thenu dan Malawat, mereka dikenal dengan sebutan ”Tamulu Putih”(orang-orang yang berikat kepala putih). Badan Saniri ini, selain bertugas dalam aktifitas di Masjid, juga bertugas membantu Raja dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan Syariat Islam.

Badan Saniri Besar keanggotaannya adalah : Badan Saniri Raja, Badan Saniri Adat, Badan Saniri Adat Masjid, Kepala-Kepala Keluarga dan Semua Orang Laki-laki Dewasa.    

Selayang Pandang Negeri Morella


Asal mula Negeri Morella adalah penggabungan dari beberapa Aman ( Hena) atau Negeri Lama, yakni Negeri Lama Kapahaha, Negeri Lama Iyal Uli, Negeri Lama Putulesi dan Negeri Lama Ninggareta. Keempat Aman atau Negeri Lama inilah yang membentuk suatu Aman atau Negeri Hausihu Morella.
Menurut tua-tua adat, leluhur yang tinggal di Negeri-negeri lama tersebut berasal  dari Ula Pokol. Ula Pokol merupakan pusat negeri pertama sejak dulu, juga merupakan tempat yang sangat disakralkan oleh masyarakat Morella karena dipercayai sebagai tempat hunian Roh-roh Gaib (Rijalal Gaib). Ula Pokol terletak di pegunungan Salahutu, mula-mula yang hidup ditempat tersebut adalah Uka Latu Tapil, Beliau berasal dari Timur Tengah. Uka Latu Tapil datang ditempat tersebut dengan membawa seekor burung Manulatu (Burung Raja).
Dikisahkan pula oleh para Tua-tua Adat setelah Uka Latu Tapil berada di Ula Pokol muncul tiga orang  yang masing-masing mengklaim dirinya sebagai pendahulu atau penemu daerah baru tersebut, ditengah peredebatan sengit itu tiba-tiba mereka mendengar kicauan Burung Manulatu. Akhirnya mereka menyadari ternyata daerah itu telah berpenghuni dan mereka bertiga pun bersepakat untuk menemukan pemilik Manulatu tersebut. Ketiga orang tersebut adalah Tuhe, Meten dan Hiti. Tidak beberapa lama kemudian Tuhe, Meten dan Hiti menemukan orang yang dicari di Ula Pokol tersebut, saat itu dia sedang duduk bersemedi (Bersembahyang).
Dihadapan orang yang sedang duduk itu, mereka mengikrarkan “ Upu Tapil Ame” yang bermakna Tuanku Pelindung/Junjungan Kami, beliaulah Uka Latu Tapil. Tuhe, Meten dan Hiti kemudian dikukuhkan sebagai Hulubalang atau pengawal Uka Latu Tapil, selanjutnya Uka Latu Tapil kemudian meletakkan tiga buah batu di Salahutu sebagai “ Hatu Manuai Telu” atau Batu Tiga Tuan Tanah karena disinilah tempat pertemuan Tuhe, Meten dan Hiti.
Dalam perkembangan selanjutnya Tuhe Meten Dan Hiti meminang seorang putri yang bernama Hatuatina yang berasal dari Nusa Ina (Pulau Seram) tepatnya di pusat tiga aliran sungai Eti, Tala dan Sapalewa di Nunusaku Salahua untuk menjadi istri Uka Latu Tapil, dari perkawianan itu Uka Latu Tapil dan istrinya memperoleh tujuh orang anak laki-laki dan satu orang anak perempuan. Dari ketujuh anak laki-laki tersebut hanya anak yang bernama Tuharela / Umarella yang menjalani kehidupan normal sebagai manusia, sedangkan keenam lainnya menjalani hidup sebagai Sufisme Tulen (Gaib). Tuharella beristrikan seorang perempuan yang bernama Alungnusa dari Pulau Seram. Dari perkawinan inilah melahirkan/beranak pinak  sebagian besar warga Morella sekarang.
Melalui proses perkawinan maka semakin banyak manusia di tempat itu (Ula Pokol) dan karena keadaan alam, merekapun  mengadakan perpindahan ke beberapa tempat di daerah pegunungan yaitu ke Ama Ela (Gunung Kukusan) kemudian berpindah lagi ke Kapahaha dan sebagian ke Iyal Uli, Ninggareta, dan Putulessy. Walaupun ke-empat negeri lama ini terpisah jarak satu dengan yang lain namun kehidupan mereka bersatu dalam sistem kehidupan sosial kemasyarakatan, dimana pusat pemerintahan adatnya berada di Kapahaha yang saat itu pimpinan adat tertinggi di pegang oleh Tuhe, Meten, dan Hiti (Salamoni). Sementara pelaksanaan keagamaannya di pusatkan di Iyal Uli.
Dari abad keabad kehidupan empat negeri lama ini dalam keadaan rukun dan damai, sampai pada akhir abad ke-6 ketika Bangsa Penjajah bercokol di Maluku, ke empat negeri lama ini bersatu untuk mempertahankan wilayah mereka dari serangan kaum penjajah. Kapahaha kemudian dijadikan sebagai pusat pertahanan untuk melawan kaum penjajah tersebut hal ini dikarenakan letaknya yang strategis dengan Kapitan Telukabessy (Ahmad Leikawa) sebagai panglima perang. Pada saat itu beberapa benteng pertahanan di Maluku sudah di taklukkan oleh Belanda sehingga para kapitan dan malesi dari daerah-daerah tersebut di tambah dengan bala bantuan dari daerah-daerah lain  bergabung di Benteng Kapahaha seperti dari Kerajaan Ternate,  Kerajaan Gowa, Tuban, Alaka, Huamual, Iha, Buru, Nusa Laut, Banda dan lain-lain. Mereka melakukan perlawanan terhadap kaum kompeni yang berlangsung dari tahun 1637 sampai dengan 1646.
Ketika pada tahun 1646 Kapahaha berhasil ditaklukkan oleh kaum penjajah Belanda, maka semua rakyat kapahaha, para kapitan dan malesi serta seluruh personil bantuan tersebut diturunkan dari Bentang Kapahaha dan ditawan di pantai Teluk Telapuan (Teluk Sawatelu Morella).
Setelah adanya pengumuman pembebasan tawanan perang kapahaha oleh gubernur Van Deimer, maka mereka mengadakan acara perpisahan sebelum kembali ke daerah masing-masing, dalam acara perpisahan itu di isi dengan lagu-lagu dan tari-tarian adat serta sekelompok Pemuda Kapahaha mengadakan Atraksi Pukul Sapu Lidi. Hari itu yang bertepatan dengan tanggal 27 Oktober 1646 mereka memberikan nama bagi Rakyat Kapahaha yang akan mereka tinggalkan dengan gelar Hausihu yang bermakna Kobaran Api Perjuangan (Kapahaha Hausihu Holi Siwalima).
Sementara itu, Rakyat Kapahaha Hausihu oleh belanda tidak diperkenangkan untuk kembali lagi ke Negeri Lama dipegunungan dengan maksud untuk memudahkan pengawasan Belanda terhadap mereka. Maka mereka kemudian menempati wilayah kurang lebih 3 km kearah selatan dari arah Sawatelu yaitu wilayah Morella sekarang dengan nama negerinya Hausihu Morella.
Negeri Hausihu Morella termasuk dalam wilayah Ulisailessy bersama dengan Negeri Liang dan Negeri Waai. Khususnya untuk Negeri Hausihu Morella terdapat beberapa dati-dati kecil seperti :
  1. Huta Haha sebagai dati Tuhe
  2. Ima Uli sebagai dati Manilet
  3. Sia’ Aman sebagai dati Sialana
  4. Uli Kau sebagai dati tawainlatu
  5. Uli Ina sebagai dati Leikawa
  6. Ninggareta sebagai dati Ulath
  7. Putulessy sebagai dati Latukau
  8. Sipil sebagai dati Lekai
  9. Ula Pokol sebagai dati Sasole

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger