Jumat, 09 September 2011

Prosesi Adat Pernikahan di Negeri Morella

Seperti biasa proses pernikahan masyarakat muslim pada umumnya di awali dengan proses peminangan, begitu juga dengan Negeri Morella. 

PEMINANGAN
Di Negeri Morella Peminangan di laksanakan atas persetujuan dari kedua belapihak terlebih dahulu yang di hadiri oleh paman dan bibi dari kedua belapihak sebanyak 12 orang yang terdiri dari 6 orang  dari pihak laki-laki (3 paman dan 3 bibi) demikian juga dari pihak perempuan, sekaligus dengan perundingan untuk penetapan tanggal pernikahan dan penentuan saudara  kawin dan saudara makan telur.
Saudara kaweng adalah seorang laki-laki pendamping pengantin yang memiliki hubungan keluarga dengan mempelai perempuan dan biasanya di panggil oleh pengantin laki-laki dengan sebutan kauu dan di panggil pengantin perempuan dengan sebutan le’uu.
Saudara makan telur adalah seorang perempuan yang juga memiliki hubungan keluarga dengan mempelai laki-laki. Kemudian calon mempelai perempuan di antar kerumah pihak laki-laki 1 minggu sebelum hari pernikahan, dengan tujuan agar calon mempelai perempuan mengenal secara keseluruhan silsilah keluarga pihak laki- laki atau dalam kata lain perkenalan dengan seluruh anggota keluarga,biasanya pelaksanaannya di sore hari sekitar jam 4 sore ( matahari masuk).  akan tetapi sebelum keluar dari rumah atau kediyaman mempelai perempuan di adakan pernikahan siri terlebih dahulu atau dalam bahasa negeri morella di sebut nikah spele yang bertempat di kediyaman calon mempelai perempuan dengan maksud untuk mengesahkan hubungan kedua mempelai.



PERSIAPAN RESEPSI
Sebelum ijab qabul di laksanakan terlebih dahulu kedua calon mempelai beserta kedua pendamping di kembalikan ke rumah pihak perempuan untuk persiapan resepsi pernikahannya , kemudian di hadiri oleh penghulu guna untuk mengambil wali nikah dan memastikan kesiapan kedua bela pihak terkait.

ARUDENDANG
Arudendang adalah suatu jenis tradisi/ adat yang di laksanakan pada saat pengantaran penganting ke lokasi resepsi pernikahan dengan berjalan kaki dan di iringi nyanyian-nyanyian adat dengan musik tradisional yang hanya menggunakan rebana , sekaligus dengan mebawakan sirih pinang.
Sebelum penganting keluar dari rumah di adakan beberapa prosesi adat terlebih dahulu yaitu :
  • Pengantin perempuan membasuh ( membersihkan ) kaki pendamping laki-laki atau biasa di sebut saudara   kaweng
  • Dilakukan isyarat dengan memasukan selempang kain ke kepala pengantin perempuan atau biasa di sebut lahat yang di lakukan oleh biang dengan maksud agar pengantin keluar dengan suci dan bersih serta terhalang dari hal-hal buruk.
IJAB QABUL
Adapun mereka yang terlibat langsung dalam proses ijab qabul adalah:
  • Kedua mempelai
  • Saudara kaweng dan saudari makan telur
  • Penghulu
  • Wali nikah
  • Saksi- saksi
  • Hosong, Pesy dan Uka Hata  (4 rumah tau Guru)
  • Tuhe, Meten Hiti

Sebelum ijab qabul di laksanakan terlebih dahulu penghulu mengumumkan jumlah mas kawin dan pemegang khotbah.
  • Proses jalannya acara nikah :
  • Ijab qabul
  • Penyerahan buku nikah
  • Jabat tangan
Kedua mempelai berjabat tangan dengan orang-orang yang terlibat dalam proses ijab qabul.

ACARA MALAM
Setelah selesai semua acara resepsi pernikahan ( ijab qabul ), di malam harinya di adakan makan bersama yang berupa makan telur oleh pengantin perempuan dan saudari makan telurnya. Untuk telur yang di makan adalah telur yang di masak (di goreng) oleh biang dan (bukan orang lain selain biang) dan hanya dia sendiri yang berada pada lokasi pemasakannya, Untuk hasil gorengan telurnya menurut kepercayaan masyrakat morella bahwa jika keadaan telur ketika di goreng mengembang maka berarti ada keturunan dalam keluarganya namun jika tidak berarti sebaliknya akan tetapi hasil gorengan  itu di rahasiakan dan tidak di beritahukan kepada siapapun karna di hawatirkan akan menimbulkan problema dalam rumah tangganya.


FKSB 2011

Kemas Pukul Sapu Dengan Icon

Atraksi Pukul Sapu Lidi Negeri Hausihu Morella (foto: FKSB 2011)
Salah satu even parawisata berlatar belakang adat yang kuat bertahan di Maluku adalah perayaan pukul sapu atau pukul manyapu (PS). PS hanya terjadi di dua negeri bertetangga Morella dan Mamala.  Dari dua negeri adat ini pula, kita bisa menelusuri makna tersimpan di balik perayaan.
Sepintas, ritualnya sama. Sama dilakukan pada hari ke 8 Syawal tiap tahun. Sama dilakukan di halaman masjid. Sama dalam waktu pelaksaan, sesudah shalat ashar, sebelum magrib. Dan sama-sama diakui sebagai warisan budaya tetua negeri ratusan tahun lalu.
Kiranya pemikiran ini juga mendasari tawaran beberapa kalangan untuk menyatukan PS dua negeri, kemudian dibuat sebagai perayaan bersama yang didukung penuh oleh Pemda (Maluku Tengah dan Maluku). Namun setiap ide untuk mempersatukan, hampir pasti mendapat sanggahan dari kedua negeri, Morella dan Mamala.  Alasan yang dikemukakan, “ perbedaan latar belakang yang membedakan kami”. 

KAPAHAHA 
Morella, mengangkat latar belakang sejarah perang Kapahaha.  Perang yang berlangsung dari tahun 1637 hingga 1646.  Kapahaha adalah bukit batu terjal yang terdapat di hutan Negeri Morella. Kapahaha adalah benteng terakhir yang jatuh ke pihak Belanda di Pulau Ambon.  Perang Kapahaha berakhir ketika benteng Kapahaha dikuasai Belanda.
Pejuang yang sempat tertangkap dalam penyerbuan itu disiksa sebagai tawanan di Teluk Sawatelu selama tiga bulan. Kapitan Telukabessy sendiri berhasil lolos. Namun ia kemudian menyerahkan diri dan digantung dan dibuang di pantai Namalatu. Sepeninggal Telukabessy, tawanan Kapahaha dibebaskan Belanda pada tanggal 27 Nopember 1664 yang bertepatan dengan bulan Ramadhan. Beberapa tokoh ditahan di Makassar dan Batavia. Sisanya, pulang ke daerah asal. (Maryam Lestaluhu, 1988)
Menurut Kapata Morella, pada perpisahan inilah, kemudian terjadi pukul sapu secara spontan sebagai ungkapan rasa sedih atas perjuangan yang telah berakhir. Perih di badan karena lecutan sapu menjadi perlambang kerasnya perjuangan yang disertai dengan pengorbanan jiwa raga. Kerasnya genggaman serta kuatnya pukulan jadi perlambang tekad kuat untuk tetap menolak semua bentuk penjajahan dan kerjasama dengan Belanda. Usai melakukan pukul sapu, mereka kemudian saling berpelukan, sambil berikrar untuk tetap saling mengingat dan akan bertemu kembali tiap tanggal 7 Syawal. Sejarah Kapahaha inilah yang menjadi latar belakang PS negeri Morella. Sejarah perang Kapahaha ini terus dibaca ulang tiap perayaan dan merupakan pertanda acara puncak PS siap digelar.

NYUALING MATEHU
Lain lagi dengan Mamala, minyak Mamala atau nyualing matehu dijadikan icon. Ketika diketahui bahwa salah satu tiang masjid retak/patah, imam Tuny (Tokoh Agama) bermunajat pada Sang Khalik agar masalah ini terselesaikan. Sesudah mendapat petunjuk melalui mimpi, Imam Tuny kemudian mengoles minyak pada tiang yang retak/patah, kemudian membungkus dengan kain putih. Keesokan hari, retak/patah tersebut sudah tersambung kembali. Dalam mimpinya juga, Imam Tuny mendapat petunjuk bahwa minyak itu dapat digunakan untuk penyembuhan keseleo, patah tulang dll. Khasiat minyak ini (nyualing matehu) kemudian diujicobakan ke tubuh manusia dengan terlebih dahulu dipukul dengan sapu hingga berdarah. Ternyata bekas luka sabetan sapu sembuh hanya dengan olesan nyualing matehu. Keberhasilan ini lalu dirayakan dengan memilih waktu yang tepat, yakni 7 Syawal. (Panduan Pelantikan; 2005)
Proses penyambungan retak/patah tiang dan penyembuhan luka bekas sabetan sapu lidi kemudian menjadikan nyualing matehu sebagai icon dalam perayaan 7 Syawal. Hal ini kita baca pada baliho-baliho milik negeri Mamala yang bertebaran di Kota Ambon, yang mengedepankan perlu pelestarian nyualing matehu sebagai warisan budaya. 

ICON
Icon atau symbol adalah hal penting dalam mengemas satu iven. Masih segar memori kita ketika pemerintah mengkampanyekan Bali sebagai paradise island. Atau Jogja menjadikan Malioboro sebagai salah satu icon parawisata. Di Maluku, kita juga menjual Banda sebagai icon wisata bahari melalui Sail Banda dll.
Lalu dalam mengemas PS, Morella dan Mamala juga butuh icon yang “kuat” dan terus menerus diangkat sehingga masyarakat mengenal pukul sapu dengan icon tersebut.  Mamala sudah tegas menjual icon nyualing matehu, minyak mamala. Tidak afdhal rasanya seorang pengunjung  pulang tanpa membawa minyak tersebut. Bahkan seorang peneliti Inggris Dr. Herbal Thomas, tahun 2008 perlu berjibaku dengan anak Mamala di arena PS  untuk buktikan khasiatnya (Ameks, 2008).
Teman saya seorang perwira yang pernah pertugas di Kodam Pattimura hanya meminta oleh-oleh nyualing matehu bila saya ke Jakarta. Dia justru kaget ketika saya cerita tentang nama Taman Makam Pahlawan Kapahaha yang diambil dari nama bukit benteng Kapahaha di Morella.  Dia makin serius merespon ketika pembicaraan menyinggung Saloka Kodam Pattimura,  Lawa Mena Haulala. Karena Lawa Mena Haulala adalah semboyan perjuangan Kapitan Telukabessy dari Kapahaha yang untuk pertama kali digunakan tahun 1965, namun jarang kita dapati anggota TNI memahami asal semboyan tersebut.
Bagi Negeri Morella mengemas icon Kapahaha untuk iven PS adalah penting. Karena di samping melaksanakan iven adat secara turun temurun,  PS juga memberikan pesan moral kuat tentang pentingnya sikap tegas dalam perjuangan.  Pentingnya membangun  silaturrahmi dengan anak cucu para pejuang Kapahaha yang berasal dari Wawane, Ternate, Seram, Tuban, Makassar dll.
Mengemas iven dengan icon yang kuat, bukanlah hal mudah. Butuh proses panjang dan terus menerus.  Laksana seorang pelari maraton, ia harus memiliki tenaga dan napas panjang serta konsisten menjaga. Begitupun di kedua Negeri, Morella dan Mamala. Mengemas icon Kapahaha dan nyualing matehu butuh semangat dan napas “pelari marathon”.


Fuad Mahfud Azuz
Durian Patah, 4 September 2011

Di Balik Pukul Sapu Lidi Morella


Atraksi Pukul Sapu Lidi Negeri Hausihu Morella (foto: FKSB 2011)
“Apa alasan masyarakat Morella mempertahankan Pukul Sapu Lidi ? Pertanyaan itu kemarin kembali diajukan seorang wartawan yang saya dampingi mengambil sejumlah bahan untuk dipublikasi di Morella. Pertanyaan yang sama tiap tahun diajukan pejabat, wartawan bahkan pengunjung yang sudah berulang-ulang mengikuti prosesi atraksi pukul sapu Morella. Salah seorang penanya adalah Andi Kumala Idjo Karaeng Lembang Parang, putra Raja Gowa terakhir.  Ia diundang dalam kapasitas sebagai perwakilan turunan kapitan dan malesi yang berjuang bersama pada perang Kapahaha tahun 1637 hingga 1646.

MEMAKNAI
Menarik membaca tulisan Faidah. Ia mencoba mendekati PS dari perspektif postcolonialsme. Bahwa pada masyarakat yang pernah dijajah, yang merasa tertindas dan  kemudian memarginalkan diri, ada “teriakan” dan gejolak jiwa yang tak terdengar. Gejoka ini baru bisa terdengar, terbaca, bila dilakukan pemihakan. (Faidah; Ameks, 8 Oktober 2008)
Pembacaan saya terhadap gejolak itu kira-kira terbaca dari cara mereka mensikapi pukul sapu. Pertama, cukup menyelesaikan ritual sebagaimana biasa. Seperti tahun-tahun sebelumnya. Di sini, nampak ada penolakan terhadap unsure baru. Kedua, kesadaran untuk membuka diri, umumnya dimulai dengan mengangkat cerita heroic Perang Kapahaha dan Kepahlawanan Kapitan Telukabessy. Ketiga, ada arus tengah, menyatukan sikap pertama dan kedua secara bersamaan.

ISOLASI
Salah satu sikap masyarakat Morella menolak unsure luar adalah cerita para tetua tentang pemilihan lokasi negeri. Saat kalah perang, semua penduduk di negeri tua (Kapahaha, Iyal Uli, Putilessy dan Ninggareta, lokasi di pebukitan negeri Morella) diharuskan untuk membangun kampong di pesisir pantai oleh Belanda. Awalnya, mereka menetap di Sawatelu yang dibuktikan dengan dua kubur Raja di Sawatelu.
Namun, kehidupan di Sawatelu tidak memberi rasa aman, karena masih memungkinkan Belanda mengontrol, kapal Belanda masih bisa berlabuh depan negeri. Maka dipilih lokasi baru, yang tidak memungkinkan Belanda melabuhkan kapal. Lokasi itu, Morella sekarang.
Di masyarakat ada pemeo, Belanda itu kafir. Label kafir dalam masyarakat tradisional muslim adalah sesuatu hal tabu. Kondisi ini masih terus terjadi walau pemerintah sudah berganti, minimal hingga tahun 70-an.  Sikap tertutup bahkan merambah hingga memilih sekolah untuk anak mereka. Pelajar dan pemuda Morella  memilih bersekolah di madrasah, pesantren atau IAIN.
Morella yang “tertutup”, masih kita rasakan tahun 70-an. Jumlah PNS dan yang mengecap pendidikan umum sangat minim.  Padahal dari segi ekonomi mereka terus berkembang. Pertanian tanaman keras dan perdagangan hasil bumi tumbuh baik. Saat bersamaan mereka justru mengirim anak ke pesantren-pesantren di Makassar dan Jawa (baca; bukan sekolah umum). Sehingga negeri lain menjuluki Morella saat itu sebagai negeri “pali-pali” (negeri tikar, karena banyak berkutat dengan tahlilan dan sejenis). 
Selepas generasi itu (tahun 70-an),  pelajar, mahasiswa Morella baru mulai merambah pendidikan umum. Jumlah yang berminat menjadi PNS dan bersekolah di sekolah/PT umum makin meningkat. Era baru masyarakat Morella sudah dimulai.
Mengapa mereka memilih menutup diri?,  Secara perlahan mulai saya pahami ketika dekat dengan panitia Pukul Sapu, suka kongko-kongko dengan tetua negeri. Kepanitian yang terkesan asal menyelesaikan acara puncak, selesai sudah, menjadi bahan pemikiran saya.  Mungkinkah sikap para leluhur yang tidak mau banyak membuka diri masih mendapat tempat hari ini, pada generasi yang lebih muda?

FORUM KAJIAN SEJARAH
Obor Kapitan Telukabessy (foto: FKSB 2011)
Sisi kedua dalam mensikapi pukul sapu dengan pandangan berbeda, ditunjukkan oleh kelompok muda. Ide-ide segar untuk mengangkat kepahlawanan Kapitan Telukabessy dan heroiknya perang Kapahaha menjadi icon. Umumnya mereka adalah pelajar, mahasiswa dan pemuda yang mulai bersentuhan dengan dunia luar, pendidikan umum atau yang tinggal di luar Morella.
Kelompok masyarakat ini mulai temukan ruh lain dari pukul sapu. Kalau sejak awal, pukul sapu diawali oleh pembakaran obor Kapitan Telukabessy, maka mereka memberikan pemaknaan lebih dari sekedar obor. Obor adalah semangat memperjuangkan kepahlawanan Kapitan Telukabessy.  Pukul sapu, tidak sekedar ritual adat tahunan, lebih dari itu sebagai pemersatu dan jalan menuju pengakuan kebesaran perang Kapahaha.   
Gejolak positif ini dimaknai dengan berbagai kegiatan terstruktur. Pembentukan Forum Kajian Sejarah dan Budaya, diskusi Kepahlawanan Kapitan Telukabessy, membangun jaringan dengan – yang mereka namakan – anak cucu para pejuang Kapahaha, seperti membangun silaturrahmi dengan kerajaan Gowa, dll, membuat teatrikal perang Kapahaha, hingga aktif membuka jaringan dengan media elektronik untuk “menjual” Morella, memberikan pesan jelas bahwa benar mereka sedang berproses.
Teriakan sumbang Morella tentang nama Kapitan Telukabessy yang disalah tulis oleh Pemda Kota Ambon pada nama jalan menjadi Tulukabessy, atau pataka Kodam XVI Pattimura “Lawa Mena Haulala” yang murni digali oleh Nurtawainela cs (tahun 1965) dari pekik perang Telukabessy, yang kini disalah artikan dan dicaplok seakan itu pekik Pattimura, sudah masuk dalam agenda besar mereka. Dan ini saya baca sebagai pemaknaan mereka terhadap obor Kapitan Telukabessy.   
Sampai di sini, nampak  bahwa dengan proses yang sedang dilakoni, hanya menunggu canal, waktu yang pas dan keberpihakan pemerintah. Manakala itu terjadi, tidak mustahil teriakan sumbang akibat isolasi diri, perasaan marginal, lambat laun akan menjadi energy positif. 
Allahu A’lam bish shawab.

Durian Patah,  7 september 2011
Fuad Mahfud Azuz

Dikirim ke Radar via email tgl 7 september 2011

Minggu, 03 Juli 2011

M O R E L L A

Oleh: Bambang Widiatmoko

Di sebuah rumah tua
atap daun kering terpanggang abad
Tiang kokoh tampak berkerut
Tak ada lumut.

Angin dari laut berhembus
Takmampu menghalau gelisah
Dalam cucuran keringat
Berlelehan di tubuh tanpa sungut.

Mungkin hanya peti besi tua
Yang mampu menguak sejarah
Negeri yang dulu berdiri dengan gagah
Kini tampak letih - namun takmerasa kalah.

Aku menemu malam bertabur bintang
Dalam temaram cahayanya
Gelombang laut februari terus berlari
Mengejar mimpi lelaki sejati.

Di dalam rumah tua
Kilatan cahaya terus menerpa sejuta aksara
yang tertulis di atas kertas - nasibnya sengsara
seperti cinta sejati leluhur kita
Engkau hapus debu yang menyelimutinya.

Mungkin ada do'a para ulama di tubuhnya
Kulihat cahaya melesat menembus cakrawala
Barangkali juga mantera mengiringi laju perahu
Tempat ikan berenag dan menunggu
Di rumah tua - aku tertegun malu.

Morella telah menjadi nyala api di hati
Seribu kitab tersimpan dalam almari besi
Menyembunyikan rasa nyeri
Menyembunyikan air mata leluhur kami
Menyembunyikan diriku di balik jeruji nurani.


Foto: Naskah Peninggalan di Rumah Tua Marga Manilet, Negeri Morella. (By: FKSB 2006)


=========================================================================
Dikutip dari buku HIKAYAT KATA (Kumpulan Puisi) Karya Bambang Widiatmoko yang diterbitkan oleh GAMA MEDIA (April 2011).
Penuslis adalah seorang penyair kelahiran Yogyakarta 24 Oktober 1960. Pada tahun 2003 ia dianugerahi sebagai Pelestari Budaya oleh Pusat Lembaga Kebudayaan Jawi (PLKJ) Surakarta.Selain sebagai dosen Universitas Mercu Buana, ia juga bergiat di Komunitas Sastra Indonesia (KSI), serta anggota Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) dan Asosiasi Tradisi Lisan (ATL). Info lain mengenai Bambang Widiatmoko klik di sini
 

Rabu, 15 Juni 2011

Pohon Yang Terabaikan

Oleh:Fahmi Sialana

Suatu hari pada masa kecilku, seperti layaknya anak kecil yang sedang dalam masa pertumbuhan, aku ingin mencari nuansa baru, mengenal dunia yang sedang aku jalani lalu aku berjalan disepanjang pantai.menelusuri pantai. Sampailah aku di suatu tempat, dibawah pohon Mintanggur yang sudah tua dan sudah teramputasi. Aku duduk sambil menikmati panorama alam nan indah. Sungguh duniaku seperti fatamorgana.

Dari kejauhan di ufuk barat tampak tanjung sial, di seberangnya tampak semenanjung Jazirah Leihitu. Lalu aku berbalik arah memandang tanjung setan, tanjung yang kaya akan pemandangan alam bawah laut beserta biota-biota lautnya, tanjung yang menjadi saksi bisu patriotisme nenek moyangku dalam menghadapi para agresor dari Eropa.

Didepan mata tampak hamparan lautan yang luas dan teduh, seteduh semua orang yang memandangnya. Tak ada ombak,aku sangat menikmati pemandangan itu. Terdengar tiupan angin sepoi-sepoi menggetarkan daun-daun Mintanggur, begitu menggugah sanubariku.

Aku naik dan duduk diatas sebatang pohon mintanggur yang menjulang ke laut. Kudengar kawanan burung kasturi yang sudah hampir punah berkicau tak karuan di ujung ranting pohon besar yang sebagian besar daun-daunnya sudah gugur yang tak jauh dari pantai . Seakan-akan mereka sedang marah-marah melihat dadesu atau perangkap burung yang dipasang oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab. Sambil sesekali memandangi langit. Tampak burung camar terbang melayang dan bersahutan dibalik awan. Sungguh dunia mereka berbeda.

Lalu aku memandang kebawah, memandangi jernihnya air laut. Tampak ikan-ikan kecil bermain diantara bebatuan dan rumput-rumput laut. Sesekali ikan-ikan itu memandang kearahku, kemudian pergi lagi. Aku tak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh ikan-ikan itu. Tak lama kemudian datang kawanan ikan-ikan tadi dan tiba-tiba “PLOK”, buah mintanggur jatuh menembus permukaan air, membentuk gelombang-gelombang kecil, dan tiba-tiba kawanan ikan itupun kalang kabut lari kesana kemari.

Hatiku lalu bertanya-tanya, ada apa dengan ikan ikan itu dan buah mintanggur tadi? apakah ikan-ikan itu menjadi trauma akibat selalu dihantui gelegar BOM IKAN yang telah meluluhlantahkan dunia dan generasi-generasi mereka? Lalu apakah jatuhnya buah mintanggur tadi ibarat air mata yang jatuh menangisi nasibnya yang tidak berdaya, menunggu untuk dimutilasi oleh tangan-tangan manusia yang beralatkan mesin Chainsaw?

Tiba-tiba tampak dari kejauhan terdengar deru mesin pemotonng pohon/Chainsaw meraung–raung membelah kesunyian hutan belantara. Aku kembali teringat akan jatuhnya buah mintanggur tadi, mungkinkah dia sedang menangisi ketidak berdayaannya akibat sering mendengar suara mesin pemotonng pohon tadi?......

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Itulah sekilas kisah yang saya alami saat masa kecilku. Sebagai anak Negeri Morella saya sangat prihatin atas tindakan arogan masyarakat yang sangat tidak menghargai buah tangan nenek moyangnya.

Menurut cerita orang tua-tua dulu di sepanjang pantai morella, berjejeran pohon mintanggur dan seandainya orang-orang dengan perahu mau ke hutan, apalagi dimusim panas, orang akan mendayung di bawah pohon mintanggur untuk menghindari terik matahari. Tapi kenyataan yang ada sekarang, sepanjang pantai yang dulu ditumbuhi pohon mintanggur sudah sangat gersang. Abrasi pantai sudah semakin jauh. Padahal pohon mintanggur merupakan pohon yang sangat kokoh menahan terpaan ombak.

Saya kagum dengan pemikiran nenek moyang dahulu. Daya fikir mereka telah menembus ruang batas dan waktu. Penebangan pohon secara liar bukan saja terjadi ditengah hutan tetapi juga terjadi di sepanjang pantai. Hamparan hijau pohon mintanggur telah hilang, yang ada hanya batang-batang kayu mintanggur kering yang sudah teramputasi, yang jauh dari pantai akibat abrasi. Lalu apakah kita sebagai anak cucu hanya tinggal diam melihat ini semua?

Lalu seandainya pada masa anak cucu kita nanti, cadangan minyak bumi telah habis, apa yang bisa mereka gunakan sebagai bahan bakar penerang rumah? Pada saat itulah mereka akan kembali mengingat akan cerita orang tua mereka tentang pohon yang pernah menjadi andalan nenek moyang mereka.

Dulu minyak tanah sangat terbatas dan mahal lagi pula sulit didapat. Karena itu orang tua-tua dulu menggunakan buah mintanggur sebagai obor/lampu penerang rumah. Dengan cara: Biji dari buahnya digoreng sampai warnanya berubah menjadi merah tua, kemudian ditusuk dengan lidi daun sagu. Satu tusukan bisa menyala hingga semalam suntuk yang hanya terdiri dari 20-30 biji Mintanggur.

Karena pohon mintanggur begitu bermanfaat maka untuk melestarikannya dibuatlah sasi mintanggur, selain sasi kelapa, sasi laut, sasi pala dan sasi hutan lainnya.

Kita bisa berimajinasi untuk mengelompokkan generasi muda dalam tiga kelompok Yaitu: (1) Mereka yang tergerak untuk menghadirkan solusi berbagai problema masyarakat. (2) Mereka yang diam saja dan tak peduli dengan beragam problema itu. (3) Mereka yang menjadi bagian dari problema itu. Bagaimana kita melihat fenomena yang ada? Apakah harus tetap menjadi generasi kelompok kedua? Tentunya tidak, kita seharusnya menjadi bagian dari kelompok yang pertama, agar tercipta kerja sama untuk menanam dan melestarikan pohon Mintanggur.

Sebagian besar wilayah di sepanjang pantai Negeri Morella berpotensi sebagai tempat wisata. Beberapa diantaranya memiliki keindahan dan keunikan pohon Mintanggur yang tidak dapat ditemukan di tempat lain. Misalnya di PANTAI LETAN, lokasi ini masih terdapat pohon Mintanggur yang terawat dengan baik.


Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger