Selasa, 24 Mei 2011

Mari Sukseskan Program GEMASKOP: OVOP (One Village One Product)

Mari Sukseskan Program GEMASKOP: OVOP (One Village One Product)






Latar Belakang
Program One Village One product merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia yang pelaksanaannya didasari pada Inpres No. 6 Tahun 2007 Tentang Percepatan Sektor Riil dan Pembangunan Usaha Mikro Kecil dan Menengah tanggal 8 Juni 2007 yang mengamanatkan pengembangan sentra melalui pendekatan OVOP. Program ini dilakukan pada produk yang memiliki ciri khas daerah setempat atau produk yang secara kultural masyarakat yang memiliki potensi pasar baik domestik maupun pasar ekspor.



Bapak Menteri Koperasi dan UKM RI sedang mencicipi Jus Pala Morela yang dibina, dikembangkan dan didistribusikan oleh KUD Tomasiwa Desa Morela-Ambon yang merupakan salah satu Produk OVOP dari Provinsi Maluku. Tampak dalam gambar Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu dan Direktur SMESCO UKM ibu Yuana dalam acara Pembukaan Pameran produk unggulan daerah di gedung SMESCO UKM tahun 2011





Tujuan Pengembangan Produk Unggulan Daerah Melalui Pendekatan OVOP
1. Mengembangkan produk unggulan daerah yang memiliki potensi pemasaran lokal maupun internasional.
2. Mengembangkan dan meningkatkan kualitas serta nilai tambah produk, agar dapat bersaing dengan
    produk dari luar negeri (impor)
3. Khusus kegiatan OVOP yang dilakukan oleh Kementerian Koperasi dan UKM dalam mengembangkan
    OVOP harus melalui Koperasi dan UKM.
4. Meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.






SUMBER: GEMASKOP

Sabtu, 23 April 2011

Budpar Maluku Siapkan Festival Budaya Islam

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Maluku menyiapkan festival kesenian dan budaya bernuansa Islam untuk menyemarakkan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-XXIV di Maluku, Mei 2012.

"Kami sudah mengusulkan ke Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar), agar kegiatan kesenian dan kebudayaan Maluku yang bernuansa Islami bisa ditampilkan menjelang dan selama kegiatan MTQ berlangsung nanti," kata Kepala Disbudpar Maluku Florence Sahusilawane kepada ANTARA di Ambon, Jumat.

Ia menjelaskan, acara seni dan budaya Islam yang sedang mereka siapkan untuk digelar saat Maluku menjadi tuan rumah MTQ ke-XXIV, antara lain festival musik, parade hadrat dan toto buang, lomba taman indah, parade busana muslim dan lainnya.

"Kami juga akan berkoordinasi dengan Balai Arkeologi Ambon untuk menyiapkan pameran yang berkaitan dengan arkeologi Islam," katanya.

Menurut Sahusilawane, pameran arkeologi direncanakan akan dilangsungkan di Kecamatan Leihitu, Kebupaten Maluku Tengah (Pulau Ambon), karena daerah tersebut memiliki banyak peninggalan sejarah Islam, salah satunya adalah masjid tua Wapauwe yang berdiri sekitar 1414 Masehi.

"Kecamatan Leihitu memiliki potensi pariwisata Islam yang cukup besar. Seperti peringatan hari tujuh Syawal yang digelar oleh Desa Mamala dan Morela setiap hari ketujuh Idul Fitri, dengan mengadakan festival `pukul manyapu`," katanya.

Ia menambahkan, festival yang telah menjadi agenda tahunan Disbudpar Maluku tersebut yang menceritakan tentang perjuangan masyarakat Leihitu dalam mengusir penjajah Belanda, telah menginspirasi seniman daerah Maluku untuk menciptakan tarian kontemporer "baku pukul manyapu".

"Tarian ini pernah mendapatkan penghargaan Penyaji Terbaik se-Indonesia pada Parade Tari Nusantara di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), tahun 2009," kata Florence Sahusilawane.(*)


Sumber:  ANTARA NEWS.com

Negeri Alang tak Dibiarkan Terus “Mamboro”

AMBON–Bermain pasir di tepi pantai merupakan kebiasaan yang gemar dilakukan Inggrid, John, dan Adhit, tiga bocah Desa Alang, Kecamatan Leihitu, Provinsi Maluku.
“Katong ada barmaeng pasir om (Kita sedang main pasir om),” kata Inggrid, ketika ditemui sedang bermain bersama dua sahabatnya itu, di tepi pantai Pasir Putih yang membentang sejauh kurang lebih 500 meter di dekat jalan raya Negeri Alang.
Gadis berkulit hitam dengan rambut agak ikal itu tersenyum dan tertawa kecil saat disapa, demikian pula reaksi yang diberikan kedua sahabatnya.
Membangun istana pasir, lengkap dengan terowongan dan selokan di sekelilingnya, biasa dilakukan anak-anak Negeri Alang saat liburan.
Tempat Inggrid, John, dan Adhit bermain merupakan kawasan pantai berpasir putih yang banyak dihiasi karang papan, batu karang yang tidak tajam sehingga orang yang menginjaknya tanpa alas kaki pun tidak perlu khawatir tergores atau tertusuk.
Kecuali obyek wisata Pantai Natsepa, kawasan pantai di Pulau Ambon umumnya berkarang papan, warnanya putih kekuningan, seperti terlihat di pantai Pasir Putih Alang.
Ditetapkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Maluku sebagai salah satu lokasi kunjungan wisata, pantai tersebut berlokasi di wilayah kecamatan Leihitu Barat, yang mencakup Desa Wakasihu, Larike, Alang, Liliboy dan Hatu.
Menurut Camat Leihitu Barat John Mahulette, kawasan pesisir daerah ini memiliki pesona alam bawah laut dan pemandangan yang eksotik, dan karenanya sangat pantas untuk dijadikan obyek wisata alam, khususnya di tiga lokasi, yakni pantai Pasir Putih, Tapi, dan Alang.
Tapi dan Alang dengan bibir pantai melekuk ke arah daratan memiliki air jernih dengan kombinasi warna hijau (dangkal) dan biru gelap (dalam). Rencananya di dua lokasi itu akan dibangun tempat rekreasi memancing dan menyelam untuk menikmati keindahan alam bawah air, sementara wisatawan yang ingin berjemur dan berenang dapat melakukannya di lokasi Pasir Putih.
Pada hari Sabtu dan Minggu, kawasan pesisir Tanjung Alang cukup ramai dikunjungi wisatawan, meskipun yang berasal dari luar negeri bisa dihitung dengan jari. Dalam bahasa Maluku, kondisi seperti itu bisa diibaratkan “mamboro” (setengah tidur).
Pesta rakyat
Negeri Alang terletak di bagian ujung Barat Teluk Ambon, dan dapat didatangi melalui perjalanan darat melalui sejumlah negeri, yakni Batu Merah, Tantui, Galala, Halong, Latu, Lateri, Paso, Waiharu, Humuth/Durian Patah, Poka, Wayame, Tawiri/Hative Besar, Laha (Bandara Pattimura), dan Liliboy.
Pada akhir pekan, bahu kiri jalan utama di lokasi Pasir Putih dipenuhi puluhan mobil dan motor yang parkir. Di lokasi utama terlihat sejumlah pekerja sedang membuat pondasi lapangan voli pantai.
Melihat potensinya sebagai pesona bagi wisatawan lokal maupun internasional, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata provinsi berupaya membangun Desa Alang sebagai obyek wisata andalan yang dapat memberikan kontribusi besar bagi pendapatan asli daerah.
Sebagai salah satu upaya untuk memperkenalkan obyek wisata Negeri Alang, pemerintah Maluku sedang menyiapkan penyelenggaraan sebuah festival budaya dan pariwisata bertajuk Pesta Rakyat, dijadwalkan berlangsung pada 28 Maret.
Selain jalan darat dari Ambon dan Laha (Bandara Pattimura) menuju Desa Alang sudah dimuluskan, penyelenggara festival sekarang ini sedang sibuk mempersiapkan tempat tinggal bagi para pengunjung yang akan datang.
“Kalau tidak membangun pondok atau hotel, kami akan meminta warga di sini menyiapkan rumahnya untuk tempat menginap. Isitilahnya `homestay`,” kata Kadinas Kebudayaan dan Pariwisata Maluku Ny Florance Sahusilawane.
Menurut dia, untuk pengembangan Negeri Alang sebagai daerah wisata, pihaknya bersama Camat Leihitu Barat dan Raja-Raja Negeri (kepala desa/lurah) Wakasihu, Larike, Alang, Liliboy dan Hatu serta pelaku pariwisata dari berbagai biro perjalanan serta Himpunan Pramuwisata Indonesia Cabang Maluku telah bertatap muka dengan masyarakat setempat dan memberikan masukan tentang bagaimana masyarakat dan pemerintah bersama-sama mengembangkan potensi wisata yang ada di daerah mereka.
Dalam Pesta Rakyat yang dipusatkan di Negeri Alang, para pengunjung akan menikmati berbagai kesenian tradisional dan budaya setempat, juga makanan khas.
Sejauh ini, penyelenggara sudah menyiapkan sejumlah atraksi seperti Tifa Totobuang dan Sawat, yang merupakan kolaborasi seni dari dua tradisi masyarkat Kristen dan Muslim di Maluku, juga atraksi Timba Laor, menangkap cacing laut dengan alat siru-siru yang biasa dilakukan pada periode Maret-April.
Acara lainnya pembinaan sadar wisata dan pemberdayaan masyarakat, peragaan busana daerah, pertunjukan Tari Sagu, Tari Sahureka-reka, Tari Cakalele, Tari Ramas Kasbi (ubi), Tari Sayur Meti, Pencak silat, dan sejumlah permainan termasuk voli pantai, apiong (gasing), jona-jona (tempurung) yang menggambarkan kerinduan anak muda Maluku di rantau untuk pulang ke kampung halaman.
Selain itu, juga akan diadakan pameran sejarah, arkeologi, dan pemutaran film tentang pembangunan yang sekaligus merupakan sosialisai pemilu kepada masyarakat.
Menjadi teladan
Negeri Alang di ujung barat Teluk Ambon terpencil dan terkesan sedikit terisolasi. Kendati mayoritas penduduknya beragama Kristen, mereka dapat hidup berdampingan, rukun dan damai dengan masyarakat negeri tetangga, yaitu Wakasihu dan Larike.
Dengan diresmikannya jalan utama Laha-Wakasihu, sebulan sebelumnya, akses menuju negeri itu pun semakin terbuka, cepat dan lancar. Perjalanan dari ibukota Ambon dengan kendaraan darat hanya menghabiskan waktu 45 menit, menempuh jarak sekitar 45 kilometer.
Terbukanya akses jalan menuju Negeri Alang terbukti pula berbanding lurus dengan peningkatan jumlah orang yang mengunjunginya untuk berekreasi saat liburan, mengingat potensi wilayah pesisirnya yang menarik sebagai tempat rekreasi dan wisata.
Lebih dari itu, Pesta Rakyat yang bakal digelar dipastikan akan semakin membuka keberadaan Negeri Alang, tanah kelahiran Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu, di mata masyarakat nasional dan internasional.
Pemerintah Maluku juga menyatakan harapan agar negeri yang juga dikenal sebagai penghasil langsat (duku) dan durian itu bisa menjadi daerah kunjungan wisata andalan, seperti halnya Pantai Natsepa.
Kehidupan masyarakatnya yang rukun dan bisa berdampingan secara damai, selama ini juga disebut-sebut sebagai teladan yang sangat positif.
www.republika.co.id

Waktu Berhenti di Fort Amsterdam

Oleh: Wildvagabond

Maluku - Sudah banyak orang tahu bahwa wilayah Indonesia Timur menjanjikan keindahan alam yang lebih mempesona dibanding destinasi wisata lain yang sudah umum diketahui dan sudah menjelma menjadi daerah yang too touristic. Namun semua setuju bahwa untuk mencapai Indonesia Timur dihadapi kendala dukungan fasilitas transportasi yang terbatas. Saat kita mencapai daerah yang kita tujupun, masalah transportasi kembali menghadang. Tetapi, kanapa harus khawatir? Bukankah dengan membiarkan diri kita tersesat di dunia yang benar-benar baru, kita justru akan menemukan intan-intan yang belum terasah selama perjalanan kita?
Oke lah, untuk mereka yang memilih berpetualang dengan fasilitas yang aman dan terjamin, kini tersedia rute penerbangan alternatif dengan menggunakan pesawat Garuda. Armada Garuda yang terbang setiap hari ke Ambon akan transit selama setengah jam di Makassar. Pesawat yang digunakanpun tergolong baru, yaitu Boeing 737-800. Rute penerbangan ke kedua kota ini dihidupkan kembali karena Makassar dan Ambon boleh dikatakan sebagai titik awal untuk mengeksplorasi keindahan wilayah Indonesia Timur yang memikat.
Dari Makassar, seseorang bisa memilih apakah akan menjelajah dataran Sulawesi sampai jauh ke Kepulauan Sangihe Talaud, atau berlayar bersama para pelaut handal Bugis menjelajahi kepulauan Nusa Tenggara dan terpana menyaksikan salah satu keajaiban dunia di Pulau Komodo. Tetapi, melanjutkan perjalanan selama satu setengah jam ke Ambon juga bukan hal yang mustahil, karena pulau ini merupakan titik awal dari keragaman yang menanti untuk dinikmati.


Kedamaian Pulau Awan
Saat saya menjelajahi Ambon akhir minggu lalu, bayangan reruntuhan puing dan posko-posko pemeriksaan seperti yang ditunjukan televisi nasional benar-benar tidak saya jumpai. Justru jalanan beraspal mulus (lebih mulus dari jalanan di Jakarta), dan geliat ekonomi masyarakat ambon yang serba cepat membuat saya kagum, betapa surga yang pernah diberitakan terkoyak kerusuhan ternyata sedikit demi sedikit sudah bangkit.
Ada banyak kegiatan yang saya ikuti selama saya di Ambon, mulai dari snorkelling, menjelajah hutan, menonton pertunjukkan sampai mengagumi peninggalan bersejarah. Satu hal yang tidak pernah saya lupakan dari seluruh kegiatan yang saya ikuti, bahwa masyarakat Ambon sebenarnya adalah masyarakat yang cinta damai dan menerima perbedaan dengan senyum yang lebar.


Rahasia Keabadaian Fort Amsterdam
Fort Amsterdam adalah salah satu tempat yang saya kunjungi selam di Ambon. Berlokasi di desa Hila, bangunan ini sebenarnya benteng kedua yang dibangun Belanda di abad ke 17 dan berfungsi untuk menangkis serangan kapal-kapal pesaing dagang Belanda yang berniat merebut Kota Ambon sebagai basis perdagangan mereka. Sejak benteng pertama, Kastel van Nerre, hancur, praktis Fort Amsterdam adalah bangunan tertua peninggalan belanda di Pulau Ambon.

Bangunan yang nyaris berbentuk segi empat ini memiliki tebal dinding antara satu sampai satu setengah meter. Bagian luar bangunan terbuat dari batu dan bagian dalamnya saat ini terbagi dua, yaitu laintai dasar dan lantai dua yang beralaskan kayu besi. Baik struktur bangunan maupun kayu-kayu yang digunakan boleh dikatakan masih kuat menopang siapapun yang ingin tahu bagian sudut-sudut Fort Amsterdam, kecuali bagian balkon. Saat saya mengunjungi Fort Amsterdam pagar pengaman balkon sudah rubuh tergerus udara laut.
Padahal dari bagian balkon inilah pemandangan Teluk Ambon dan Tanjung Leihitu terhampar di depan mata. Laut yang jernih dan tenang serta perbukitan di seberang sana melempar imajinasi saya ke 350 tahun yang lalu saat Bangsa Belanda berhasil menaklukan seluruh kepulauan dari tangan Portugis. Lada, pala, dan rempah lain yang berharga lebih tinggi dari emaslah yang sebenarnya membuat Ambon satu-satunya wilayah di Indonesia yang merasakan penjajahan bangsa asing selama tiga setengah Abad.


Desa Damai
Desa Hila merupakan cerminan Ambon dan saya sungguh merekomendaskan desa serta benteng ini sebagai titik awal eksplorasi keindahan Ambon. Di desa Hila ini terletak dua situs bangunan religi terua yaitu Gereja Hila dan Masjid Wapauwe.

Gereja Hila merupakan bangunan terbuat dari kayu yang didirikan pada tahun yang sama dengan Fort Amsterdam serta terletak berdekatan dengan area benteng. Bangunan ini pernah direnovasi pada tahun 1880an setelah hancur terkena gempa dan berdiri kembali hingga saat ini.


Mesjid Mapauwe adalah mesjid tertua di Ambon dengan struktur bangunan campuran kayu dan batu. Di mesjid ini terdapat peninggalan para penyebar Agama Islam di Ambon dan artefak Al-Quran yang ditulis tangan.
Selama kerusuhan terjadi penduduk Desa Hila yang beragama Kristen diselamatkan oleh penduduk muslim yang mengelilingi mereka. Saat ini penduduk berbeda agama tersebut kembali hidup berdampingan dengan damai, seperti yang dilakukan oleh nenek moyang mereka sejak ratusan tahun lampau.
Banyak sekali wilayah di Pulau Ambon yang belum digali dan diketahui dunia luar. Dengan akses penerbangan yang lebih mudah serta fasilitas akomodasi yang mendukung, potensi wisata di kepulauan ini merupakan asset yang menjanjikan, terlebih dari Ambon siapapun bisa melanjutkan petualangan mereka lebih jauh ke timur ke destinasi yang lebih jauh, di mana petualangan hanya sebagian kecil dari pengalaman kita membaur dengan keindahan alam Indonesia.


(Wildvagabond / gst)

Sumber:  Detik Travel

Video: Budaya Huul Iyal Uli di Morella



Duration :

4:48

Description : 

Ini adalah sebuah taradisi yang dilakaukan oleh warga morella keturunan moyang-moyang yang berasal dari negeri lama Iyal Uli. Mereka terdiri atas Upu Ana dari lima mata rumah tau yaitu : Tawainlatu, Pical, Wakang, Lauselang dan Latulanit. Tradisi ini biasanya dilakukan bila salah satu warga diantara lima marga tersebut membuat suatu hajatan seperti perkawinan, khitanan, aqikah, dan sebagainya maka warga yang lain membantu dengan membawah berbagai keperluan terkait dengan hajatan itu. Cara unik dapat disaksikan dalam video ini, baik di pihak yang mempunyai hajatan maupun yang datang membantu masing-masing mempunyai gaya tersendiri.


Link to this video :

http://youtu.be/_8CMEA3uHeE

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger