Kamis, 14 Agustus 2014

LAWAMENA HAULALA DI PENTAS TEATRIKAL KAPAHAHA

Oleh : Rusda Leikawa, S.Si
(opini Ambon Ekspres, 11 Agustus 2014)

“Dengarlah wahai sekalian rakyat dan pejuang yang saya hormati...!
Tidak ada lagi pilihan untuk kita selain:
KAPAHAHA HAUSIHU HOLI SIWA LIMA, LISA’E MAKANA LAWA MENA HAULALA”.
“Usir penjajah-penjajah itu dari bumi kita ini sampai titik darah penghabisan, jangan biarkan mereka menindas kita sampai ke anak cucu kita,
KAPAHAHA HAUSIHU HOLI SIWA LIMA”.

Demikian teriak salah seorang pemain Teatrikal Perang Kapahaha di arena Pukul Sapu Lidi Negeri Morella. sebuah pekik patriotisme terlontar dari sang panglima perang Kapahaha merangsang semangat juang untuk menentang penjajah Belanda, dengan penuh semangat untuk kobarkan api perjuangan Kapahaha di seluruh patasiwa patalima.
Senin itu, bertepatan dengan perayaan pukul sapu 7 syawal negeri Morella, sebuah pentas teatrikal yang menarik perhatian penonton baik dari Morella sendiri maupun dari luar Morella. Teriakan yang menggelegar ditengah arena itu berasal dari teriakan pemeran Kapitan Telukabessy. “Lisa e Makana Lawamena Haulala, “ yang dalam arti kapata, Lisa= perang, Makana = bertahan, atau dalam pengertian umum artinya “Kita harus berjuang dan mempertahankan daerah ini”. Sementara Lawa= maju, Mena = depan, Haulala= semangat berapi-api, sehingga Lawa Mena Haulala dapat diartikan “Maju terus dengan semangat berapi-api.”
Pentas ini sudah enam tahun berturut-turut dibawakan pada arena yang sama. Masyarakat Morella umumnya sudah tahu alur cerita. Tapi ketika adegan demi adegan diperankan, masyarakat tetap antusias untuk menonton. Bagai terhipnotis dengan pementasan yang terus berulang, hal ini dapat kita lihat para penonton beberapa kali mengusap air mata.
”Kapahaha Hausihu Holi Siwa Lima, Lisa’e Makana Lawa Mena Haulala”. Terdengar kembali. Iya. ia mengerang. Tidak terima kehadiran Belanda yang sudah berlaku semena-mena. Ia kobarkan semangat juang melalui pekik itu. Korban jiwa tidak terelakan lagi namun semangat juang semakin bertambah. Pekikan-pekikan patriotis dan seruan perang oleh Kapitan Telukabessy terus mengalun memecah di angkasa Jazirah Leihitu. Para pejuang dari Wawane juga turut bergabung bersama Telukabessy. Dari Wawane yang berkumpul, diantaranya adalah; Kapitan Pattiwane, Karaeng Jipang, Daeng Manggapa, Kartulessy, Kapitan Tomol, Imam Rijali dll.

TEATRIKAL

Teatrikal sebagai pembawa pesan perjuangan adalah pilihan cerdas. Inspirasi ini bukan hal baru bagi pentas perjuangan Kapahaha. Minimal teatrikal semacam ini sudah pernah dipentaskan oleh M. Nour Tawainella dengan Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) tahun 1965. Tujuan Tawainella ada dua. Pertama, menemukan semboyan untuk digunakan Kodam (karena ada sayembara Kodam XV tahun 1965 untuk mengisi pataka Kodam Pattimura).
Tawainella bersama HSBI melakukan penelitian di Morella dan mengajukan pekik LAWA MENA HAULALA. Tujuan kedua, untuk mengisi kas pembangunan masjid Morella yang saat itu rencana direhab.
Pentas pertama Tawainella cs di halaman masjid Al-Muttaqin. Kemudian teatrikal ini menghilang, sampai tahun 2008 ketika pelajar dan mahasiswa Morella yang tergabung dalam Forum Kajian Sejarah dan Budaya (FKSB) Negeri Hausihu Morella membuat kembali teatrikal Telukabessy dengan menggunakan potensi internal. Benar-benar menggunakan pelajar dan mahasiswa dari Morella.

TERIAKAN MAKIN LANTANG ?

Apa yg menarik dari teriakan Lawamena Haulala ? Masyarakat Morella memahami bahwa Lawamena Haulala adalah pekik Telukabessy. Dan setelah digunakan oleh Kodam Pattimura pada pataka, nyaris tidak ada sebutan Telukabessy, ini terbukti ketika perayaan HUT Kodam XVI Pattimura, nama Telukabessy nyaris tidak lagi disebut. Lawamena Haulala sendiri sudah berubah arti dari “ Maju Terus dengan semangat berapi-api” ke “maju terus pantang mundur”. Bahkan pergeseran itu terjadi di buku Lintasan Sejarah Kodam, bahwa “Lawamena” yang berarti Maju Terus berasal dari Pattimura dan “Haulala” yang berarti Semangat Berapi-api dari Telukabessy. Pengertian “Haulala” tersebut terjadi perubahan menjadi Pantang Mundur.
Sah-sah saja bahwa ada perubahan arti karena disesuaikan dengan semboyan umum bahasa Indoensia. Namun bahwa itu digali dari Kapitan Telukabessy, nyaris tak ada sentuhan sedikitpun, hal ini merupakan proses lupa akan sejarah.
Pada Teatrikal tersebut teriakan itu diucap berulang. Seakan berteriak, “lawamena” harus terus maju, “haulala” itu darah kami. Darah pejuang Kapahaha yang hari ini tidak diingat.
Saya terlibat pada awal penyusunan naskah teatrikal ini bersama Ileng, Affan, Habsa dan beberapa kawan-kawan lainnya merasa bahwa semangat masyarakat Morella makin menyala-nyala dan antusias untuk memperkenalkan sejarah dan budaya secara terbuka pada dunia luar.
Hemat kami untuk memperkenal sejarah tersebut, salah satunya harus dengan mengangkat Lawa Mena Haulala melalui teatrikal. Tanpa membanding lantangnya suara kelompok atau antar generasi, maka nampaknya lantang Lawamena karena ada pengaruh teknologi dan media. Ini kita sukuri, termasuk sumber daya manusia yang makin membaik..
Bagi kelompok terpelajar baru yang tergabung dalam FKSB Negeri Morella ini, menemukan esensi pukul sapu adalah sangat penting. Dan mereka menemukan icon yang kuat. Icon itu “Kapahaha”. Persoalan yang kemudian harus dikembangkan adalah bagaimana icon itu dijabarkan lanjut. Karena disana akan ditemukan Lawamena. Disana akan ditemukan nama besar Telukabessy, disana ada nama besar Kapitan Pattiwane, Imam Rijali, bahkan para Karaeng dari Makassar. Teriakan itu tidak boleh sumbang. Biarkan ia nyaring memekakkan telinga anak negeri Maluku. Mengisi hati anak negeri. Lawamena adalah pekik Telukabessy, dan sudah sudah menjadi milik pejuang Kapahaha. Iya, pejuang Kapahaha yang bukan saja
dari negeri Kapahaha, Iyal uli, Niggareta dan Putilessy (negeri lama), tapi sudah menjadi semboyan seluruh pejuang Kapahaha dari seantero nusantara.
Sebagai anak Negeri, kami merasa bertanggunjawab untuk menyuarakan kembali Lawamena Haulala, meskipun hanya melalui sebuah pentas teatrikal, setidaknya kami tidak meninggalkan identitas, seperti kata pepatah bahwa Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengahargai jasa para pahlawan. Bangsa yang mengingat sejarah. Olehnya itu melalui kegiatan seni inilah Forum angkat kembali pekikan itu. Namun demikian, tetap membuka diri pada semua pihak untuk berbagi informasi, sehingga konsep Lawamena Haulala dapat menjadi konsumsi bersama secara merata.
Membaca Lawamena dalam konteks kekinian, maka Lawamena adalah cambuk untuk semua anak cucu pejuang Kapahaha bersatu membangun silaturrahim, mengusir ketertinggalan. mengusir keterbelakangan dan menolak ketridakadilan. Lala yang juga berarti darah adalah simbol dari kegigihan membangun negeri. Kegigihan anak cucu untuk membangun persaudaraan.
Terakhir, kita juga butuh kajian mendalam untuk pemahaman bersama tentang Lawamena Haulala. Sayangnya, belum ada satupun karya akademik bergenre sejarah yang menukik ke masalah ini. kita masih berkutat pada Lawamena yang diterikakan tiap 7 Syawal di halaman masjid Al-Muttaqin Morella.

Waeheru, 9 Agustus 2014

Kamis, 07 Agustus 2014

MEMBACA PUKUL SAPU NAGRI MORELLA



Foto Atraksi Pukul Sapu Lidi Negeri Morella 2014 (Rus)
Pukul sapu (PS) adalah budaya turun temurun yang dilakukan masyarakat di dua nagri bertetangga, Mamala dan Morella setiap tahun pada hari kedelapan Syawal. Dalam tulisan ini saya hanya akan menulis tentang pukul sapu di nagri Morella, karena beberapa hal yang menurut saya penting untuk dikaji lebih jauh lagi. Tulisan ini baru sekedar menggelitik rasa ingin tahu makanya tidak untuk menjawab tuntas. Ada beberapa pertanyaan yang saya kemukakan adalah bagian dari tugas kita bersama termasuk akademisi untuk menggali lebih jauh budaya PS.

Kamis, 23 Mei 2013

Kuasa Rakyat dan Demokrasi: Memaknai Pelantikan Raja Adat di Maluku


Oleh : Faidah Azuz-Sialana
(Alumnus Fakultas Pertanian UNPATTI, sekarang mahasiswa S3 jurusan Sosiologi UGM Yogyakarta)

     Pelantikan raja adat di Maluku terutama di Kabupaten Maluku Tengah saat ini memperoleh legitimasi bukan saja berasal dari lembaga adat lokal, tetapi juga dari level di atasnya yakni pemerintah kabupaten dengan diberlakukannya Perda Kabupaten Maluku Tengah Nomor 3 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pencalonan, Pemilihan, dan Pelantikan Kepala Pemerintah Negeri.

Jumat, 17 Februari 2012

Video: BAMBU GILA & CAKALELE ANAK-ANAK NEGERI MORELLA (2011)



Duration :

1:10

Description : 

Pementasan seni dan budaya oleh anak-anak ini dilaksanakan pada acara karnaval budaya dalam perayaan tradisi pukul sapu lidi Negeri Hausihu Morella tahun 2011.


Link to this video :

http://youtu.be/6N2D5Ggf9d0

Rabu, 09 November 2011

Membangun Negeri dengan adat… “Tulehu Melakukan Ritual Abda’u – Morella Melantungkan Tun Teha Usai”

Sebuah catatan bersama MPC
 

Luar biasa perjalanan kemaring sangat melelahkan, tapi itu bukanlah suatu penyesalan untukku. Minggu 6 November 2011, usai sholat idhul kurban saya bersama dengan teman-teman MPC ( Maluku Photo Club) melakukan Hunting bersama di Negeri Tulehu yang jaraknya tidak jauh dari Pusat kota Ambon.
Negeri Tulehu yang juga merupakan ibu kota kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah ini terletak 25 Km sebelah utara Kota Ambon, seperti masyarakat Muslim lain pada umumnya, Negeri Tulehu juga melakukan perayaan Hari raya idul Adha, Uniknya di Negeri Tulehu selain adanya penyembelihan hewan kurban mereka juga melakukan upacara ritual Kaul Negeri yakni proses pengkaulan hewan kurban, Abda’u dan hadrat, yang menurut sejarahnya sudah dilakukan sekitar tahun 1600 M,
Proses Pengkaulan hewan kurban dilaksanakan dirumah Masjid Jami Tulehu oleh Ibu-ibu selanjutnya dikapankan dengan kain putih atau dalam bahasa Tulehu yaitu Kain Salele, diantarkan kerumah raja untuk selanjutnya diarak keliling negeri, alunan zikir dan salawat Nabi pun mengiringi langkah demi langkah menuju pelataran Masjid raya Tulehu untuk dilakukan penyembelihan.
Tidak sampai disitu saja Nampak pemandangan unik tersebut, saya juga dikagetkan dengan datangnya sekelompok pemuda dengan berbaju putih serta ikatan putih dikepala masing-masing berkumpul di depan rumah Raja Negeri Tulehu sambil Berteriak Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, benar-benar bikin merinding, saya langsung menghampiri salah seorang warga Tulehu untuk menanyakan ritual tersebut, dan dia pun menjelaskan bahwa inilah Abda’u.
Setelah mendapat sedikit penjelasan serta menyaksikan langsung ritual tersebut saya pun bergegas untuk lebih dekat menghampiri Rumah Raja Negeri Tulehu, sesampai disana ternyata John Saleh Ohorella yang tak lain merupakan Raja Tulehu sedang memberikan arahan dan nasehat kepada pemuda-pemuda yang akan melakukan Abda’u tersebut , dan saya pun turut mendengarkannya, sambil berdiam diri sempat terpikirkan dalam benak saya bahwa begitu kayanya Bangsa Indonesia akan budaya serta adat istiadat, khususnya di Maluku hampir disetiap desa/Negeri memiliki kekayaan budayanya masing-masing, misalnya Tulehu adanya Abda’u, Mamala- Morella melaksanakan Atraksi Pukul Sapu Lidi, Pelau dengan ritual cakalele (mengiris tubuh sendiri) atau dalam bahasa tanahnya Ma’atenu, dan masih banyak lagi adat istiadat Maluku, benar-benar luar biasa, budaya inilah yang justru jadi daya tarik para pengujung untuk datang ke Negeri tersebut.
Usai mendengarkan arahan dari Raja Tulehu, para pemuda tersebut langsung melakukan Abda’u dengan berebutan Benderah Hijau yang bertuliskan Laillaha Illah Muhammaddarussallah, sambil melantungkan takbir Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, jika ada pemuda yang bisa mendapatkan bendera itu maka diciumnya bendera tersebut dengan penuh semangat kemudian dikibarkan lagi walau tubuhnya harus ditarik oleh pemuda lainnya, asalkan Bendera tersebut tetap diatas dan tidak boleh bersentuhan dengan tanah.
Abda’u sendiri berasal dari kata Abada yang artinya Ibadah yang bermakna pengabdian seorang Hamba pada Sang Halik. Atraksi dinamis yang dilakoni oleh ratusan pemuda itu saling berdesak-desakan, bahu membahu merebut bendera untuk diangkat setinggi-tingginya, merupakan refleksi pengakuan kehambaan yang tulus dalam menerima Islam sebagai agama yang diyakini, untuk tetap lestari dan abadi dibumi Haturessy, sementara Bendera yang berwarna hijau tersebut melambangkan kesuburan dengan tulisan LAILAHA ILLAH MUHAMMADARRSULULLAH, berwarna kuning emas melambangkan kemakmuran dan kejayaan.
Siang itu, cuaca cukup bersahabat untuk kami, tidak hujan namun juga tidak begitu panas, Alunan zikir, tahlil, salawat serta takbir bergema di bumi Tuiruhui (Tulehu), semua jalan di padati masyarakat lokal maupun interlokal. Sementara itu, teman-teman MPC lainnya tengah sibuk dengan kameranya masing-masing untuk mendokumentasikan moment tersebut. Begitu meriahnya perayaan hari raya idhul Adha 2011 di Negeri Tulehu, dengan dipentaskannya beberapa atraksi dan carnaval budaya lainnya, sangat menghibur dan berkesan bagi setiap yang berkunjung.

Tun Teha Usai
Tun Tun Tun Teha usai e..
Marika asing jawa pamatere pipi waing..
Tun Tun Tun Teha usai e..
Marika asing jawa pamatere pipi waing..
Itulah sebait lagu daerah dari Negeri Morella, Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah.
Usai menyaksikan ritual Abda’u di Negeri Tulehu, kami pun pulang ketempat masing-masing, keesokan harinya belum juga selesai tidur panjang ku.. sudah terdengar nyanyian anak-anak negeri dengan memukul rebana sambil berhenti disetiap rumah warga untuk mengambil sumbangan bumbu masakan daging hewan kurban, dengan tetap menyanyikan lagu Tun Tun Tun Teha usai e Marika asing jawa pamatere pipi waing. Warga pun sudah siap dan ikhlas memberikan sumbangan bumbu masakan kepada anak-anak tersebut, bahkan ada yang menyumbangkan kayu bakar, setelah semuanya terkumpul barulah anak-anak tersebut menyerahkan kepada panitia Hewan Kurban, yang kemudian digunakan untuk memasak daging hewan kurban yang sudah disembelih pada saat Idhul Adha tersebut. Sangat lucu, menggelitik bila melihatnya, saya jadi kebayang masa kecil dulu. Namun Tradisi ini hanya bisa dilakukan setahun sekali di Negeri Morella, sehari setelah perayaan hari raya Idhul Adha.
Itulah sedikit cerita tentang tradisi dan budaya yang sampai sekarang masih dilakukan oleh masyarakat adat di Negeri Raja-Raja (Al-Mulk) Maluku Manise..
========================********************==========================
Sumber/penulis: Rusda Leikawa 

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger